skip to main |
skip to sidebar
Unik dan menarik, satu hal yang membuat penasaran adalah
sosoknya yang berbeda dari wanita kebanyakan. Tipe cewek periang dan
murah senyum itu memiliki karisma yang sungguh luar biasa. Tak pernah
memungkiri hal itu karena ini bukan hanya pendapatku tapi juga pendapat
para sahabatku. Sementara kalau menurutku Janne tipe cewek yang cerdas
yang multi talenta.
“Namaku Ade Nugraha” pernah terlintas aku akan berkenalan dengannya
sambil mengulurkan tangan menyebut namaku. Namun tak pernah tercapai
maksud itu. Mungkin karena banyak faktor lain.
Sama sekali aku tak pernah berbicara dengannya, apakah dia sombong? sama
sekali tidak. Tapi jangan pula kau sangka aku yang sombong, jangan. Itu
tidak adil bagiku. Karena memang beginilah sifatku yang sedikit kurang
peduli, tapi biar bagaimanpun jangan salah mengartikan semua itu, dan
kebanyakan kaum yang memiliki sifat seperti itu adalah tipikal insan
setia. Sama adanya sepertiku.
Karena aku punya prinsip sendiri dalam menyikapi makhluk yang bernama
wanita. Dan satu prinsip yang berbeda itu adalah aku tidak mau menukar
harga diri lelakiku dengan lebel “norak” yang terkesan overacting di
depan mereka, disinilah kebanyakan wanita merendahkan pria karena sikap
yang super aktif itu. Tips dariku, teori yang aku sendiri tak tahu
mendapatkan dari mana.
Tahukah kawan, kebanyakan cewek tidak suka dengan cowok demikian,
meskipun pendapatku ini tidak ada bukti ilmiah tapi dapat kamu buktikan
sendiri di lapangan. Ya meskipun tidak seratus persen benar. Setidaknya
aku tidak mau menukar wibawaku. Jadi menurut mereka aku terkesan cuek di
mata para cewek. Itu gambaran mereka tentang aku. Tapi hal itu sedikit
sulit kulakukan untuk Janne Stya Devi, sulit untuk tidak tersenyum walau
sedikit. Akhirnya aku tak dapat berdusta pada diri sendiri, Janne ada
dalam benakku setiap saat. Mungkin aku terlalu mengaguminya.
Aku berusaha menepis semua keindahan tentang sosok Janne. Berusaha
melupakan Janne walau sesaat adalah ujian terberat yang pernah aku
alami. Untuk mengalihkan itu kucoba baca al-quran beberapa kali, belum
mampu, baca terjemahnya, belum mampu juga. Ah, ternyata imanku amat
tipis kawan, sehingga Janne lebih kuat terekam dalam otakku.
“Jane hufft. . lagi lagi jane, ah payah”. Aku merutuki diri sendiri,
kuat sekali pengaruh makhluk menawan ciptaan Allah ini. Lupakan!, ya,
lupakan janne.
Hari berganti minggu dan bulan, meski berat aku tak pernah mamikirkan
lagi tentang Janne, si mayoret drum band cantik itu buat aku tak
konsentrasi. Ini gawat, semakin kupikirkan maka aku semakin dirundung
penderitaan yang panjang.
Tak ada pilihan lain kecuali harus melupakan Janne untuk selamanya,
banyak yang mencari perhatian padanya, kebanyakan teman-temanku
menjulukinya “kembang sekolah”. Atau “Dewi fortuna” Jelas itu berlebihan
menurutku, tapi biarlah mereka punya argument sendiri yang sulit untuk
dibantah, memang benar apa yang mereka katakan, tentang janne di mata
mereka tak ubahnya mutiara di antara ribuan kerikil yang berserakan di
SMA Bhina Insani ini.
Anak jurusan bahasa kumpul di perpustakaan, aku dan romi duduk
bersebelahan sambil memahami materi percakapan ringan bahasa mandarin,
kami di depan dinding kaca samping pintu masuk, segerombolan anak-anak
XI Ipa melintas tentu disana ada Janne, juga bersama keempat sahabat
gank cantiknya siska, shari, rasya, dan imel berjalan akan mengembalikan
buku-buku eksaknya.
“De, liat deh. Mereka cantik-cantik banget!” bisik romi pelan “apalagi
janne” imbuhnya. Aku menoleh mengikuti isyarat tangan Romi. Sekilas
melirik.
“Lumayan!” kataku
“Gilakk!!, lumayan kamu bilang? kamu minus berapa De?”. Ternyata
jawabanku barusan membuat Romi terkejut hebat, hingga ia setengah
berteriak. Seisi perpus menoleh kearah Romi dan segerombolan mata anak
XI Ipa itu tertuju pada kami. Airmuka Romi berubah malu-malu.
“Eh santai aja kali gak usah segitunya. Malu gak sih, makanya gak usah
berisik!” Tukasku. Romi diam tak berkutik. Gank cantik itu senyum-senyum
pada kami berdua. Janne?. Hmm.. masyaAllah manisnya gadis berkerudung
putih bros kupu-kupu ini. Aku membenarkan penilaian Romi tentang sosok
manusia cantik yang saat ini dengan mata kepalaku sendiri ada di
depanku. Diperjelas dengan kacamata minuskus. Gawat! bisa gagal misiku
untuk melupakan Janne.
“Gawat!!”
“Apanya yang gawat, De!!” Romi terperanjat, dengan ekspresi bingung.
“Eng..enggaak, maksudku gawat kalau kita gak paham materi bahasa asing ini” aku beralasan.
“Ah segitunya” romi tak percaya.
—
“Haa, dari tadi dicariin akhirnya ketemu juga. Nih barusan dinas pendidikan ngasi undangan” kata romi di hari selanjutnya.
“Buat…?”
“Mana ku tau, kamu baca aja sendiri”
“Ok makasih ya” lalu secepat kilat kubaca.
Disdikbud mengundang rapat bersama seluruh OSIS SMA sederajat membahas
agenda rutin tahunan dalam rangka menyambut 28 oktober hari sumpah
pemuda. Acaranya padat, seni, olahraga dan karya ilmiah. Tiap SMA harus
mengirim utusan sebagai peserta. Acara ini bakalan seru pastinya.
“Rom. Kamu umumin geh, seluruh ketua seksi ngumpul di bashcamp, mumpung masih ada waktu istirahat”
“Shiipp” Romi langsung bergegas.
Tak lama setelah Romi umumkan mereka datang ke bashcamp Osis,
seluruhnya kumpul, kuberitahukan perihal undangan dari dinas pendidikan
tadi, memperingati hari sumpah pemuda ini akan dilaksanakan satu minggu,
intinya setiap seksi harus mempersiapkan diri mengirim utusan, dan
siapa saja yang berminat sesuai talenta bidang seni, olahraga dan karya
ilmiah tersebut. Rapat sedang berlangsung, mereka antusias dan semangat
luar biasa untuk berpartisipasi.
“Izin bicara” Ezza menyela “Aku maulah ikut karya ilmiah tentang terumbu
karang Natuna itu, kriterianya gimana sih kak?” lanjutnya.
“Yaps. Terima kasih pertanyaan yang bagus! minimal tujuh halaman lengkap
dengan referensi Za, kalo perlu buku atau majalah untuk referensinya
kakak punya, besok kak bawain deh”
“Terimakasih. Selain aku siapa lagi kak?”
“Bagas, anak jurusan bahasa itu juga besedia ikut!”
Ezza mengangguk paham.
“Ok ada yang perlu ditanyakan lagi?” Kataku. Mereka angkat tangan, “Kita beri kesempatan pada hanif, silahkan Nif”
“Ade, sebagai Osis apakah kamu ikut berkompetisi juga?”
“Kalau gue gak ikut, masalah buat lho?” kucoba mencairkan suasana,
akhirnya mereka tertawa ringan. Lalu kujawab “insyaAllah saya ikut seni
lukis, tadi sudah koordinasikan dengan pembina Osis dan para guru,
beliau meminta saya juga ikut pencak silat, karena jadwalnya tidak
bentrok dan masih ada jeda dua hari setelah pencak silat barulah
melukis, inyaAllah saya bisa ikut”
“Mantap-mantap!”. Sahut mereka nyaris bersamaan. Rapat dirasa cukup,
rapat selanjutnya finishing, hanya mencari siapa saja peserta yang akan
dikirim dan semua dipastikan telah fix, agar tidak ada rapat-rapat
susulan lagi. Pembina Osis pak Lukas menyerahkan sepenunhya padaku.
Besok rapat lagi hanya sebatas ketua seksi untuk melaporkan dari tiap
cabang pertandingan.
Keesokan harinya. pagi yang cerah, Romi berada di antara Janne dan
keempat ganknya didepan mading, pengumuman perihal hari sumpah pemuda
telah terpampang disana, aku tak tahu apa yang mereka diskusikan,
tampak serius mereka berbincang, namun diperhatikan seperti ada ekspresi
penolakan janne, beberapa kali geleng-geleng kepala, Romi bicara serius
bahkan tampak memohon, dan apa yang mereka bicarakan tak terdengar
jelas.
Aku, Rudi dan Rasmita menyiapkan berkas rapat hari ini. Rapat kepastian peserta.
“Rud, berkas yang kuminta kemarin sudah kamu buat?”
“Sudah pak!. Beres. Hehe nih” Rudi sekretarisku menyerahkan semua berkas
beberapa cabang yang akan diikuti beserta formulir untuk pembuatan
surat mandat dan juga daftar hadir rapat.
Romi tergopoh-gopoh berlari “Ade mana Ade?”
“Ada apa Rom?, masuklah” Sahutku dari dalam bashcamp.
“Gawat!, gawat cuy” mendekatiku.
“Maksudmu?” aku penasaran.
“Janne dan Siska bersedia ikut gurindam. Yes, yess!” romi berbisik
khawatir rudi dan rasmita mendengarnya. Aku tersenyum, ini bukan berita
buruk namanya, justru sebaliknya, ini adalah berita yang spesial bagi
Romi, Hmm.. aku baru mengerti ternyata ia mati-matian membujuk mereka
untuk ikut gurindam 12 depan mading tadi. Lihatlah ekspresinya seperti
anak kecil yang baru dibelikan mobil mainan. Senang sekali. Aku maklum,
karena cinta matinya pada Siska, teman Janne ganknya itu.
Rapat dimulai, semua ketua seksi memberikan nama-nama peserta yang
akan dikirim dan sudah ok semua. Rapat ditutup lalu agenda selanjutnya
pemantapan para peserta yang jadwal latihannya telah diatur.
—
Hari ini hari “H” semua persiapan sudah Sembilan puluh persen. Aku
dan Radit telah mempersiapkan penampilan seni ganda pencak silat sebulan
yang lalu sebelum mendapat undangan dari disdikbud, kerena memang hanya
tinggal pemantapan waktu tiga hari cukup bagi kami mengulang
gerakan-gerakan sebanyak enam fase itu yang mungkin saja terlupa, tidak
ada kendala yang berarti. Kawan-kawan dari cabang olahraga futsal di
hendel oleh Putra, sudah OK. Volley putra dan putri sudah aman. Karya
ilmiah Bu Fifi yang mengurusnya, Bu Fifi adalah guru yang tidak
diragukan lagi, lima kali membina peserta untuk kejuaraan karya ilmiah
lima kali juga mendapat nilai terbaik di provinsi. Termasuk aku
pesertanya kala itu. Ezza dari cabang karya ilmiah semakin mantap dengan
buku referensinya yang kupinjamkan kemarin, dia sering konsultasi
padaku terutama masalah penulisan. “Maklum kak baru kali pertama ikut”
katanya. Tak masalah yang penting ia semangat belajar dan rajin
bertanya.
Untuk gurindam 12, Janne dan ganknya yang berperan penting ditambah
dua orang pemain rytem dan orgen. Sudah mantap persiapan mereka. Kemarin
sore dan tadi malam gladi resik keren bukan main “Mantap. Hanya
persiapan mental yang sepuluh persensisanya” begitulah kata Bu Indah
guru kesenian yang membidangi kesuksesan tampilan gurindam, Bu Indah
sekaligus mentorku dalam seni lukis. Dan kekurangan yang perlu
diperhatikan untuk lukisanku adalah pemberian efek vigneting pada
sisi-sisinya untuk memberikan kesan lebih menarik dari perpaduan warna.
Memang ku akui melukis wajah pahlawan agak sedikit sulit ketimbang
kaligrafi.
Tak tanggung-tanggung pembukaan peringatan sumpah pemuda malam hari
ini di sanggar seni Laksmana Hang Tuah, dihadiri oleh gubernur dan
istrinya, Bupati dan segenap jajarannya, tokoh pemuda, tokoh agama dan
masyrakat bahkan pihak rumahsakit juga berpartisipasi. Luar biasa ramai,
satpol PP sibuk mengatur parkir, umbul-umbul dan lampu sorot
memeriahkan acara tersebut. Acara ini memang selalu jadi even yang
paling bergengsi dalam menonjolkan keunggulan sekolah masing-masing.
Setelah pembukaan usai langsung penampilan seni tunggal pencak silat
dari lima perguruan, seni ganda dan beregu, aku urutan nomor tiga. Huff
rasanya panas dingin akan disaksikan ribuan masyarakat Natuna. Mereka
bersorak sorai dari penapilan demi penampilan tersebut.
Penampilan kesatu, dan kedua telah usai. Makin kencang berdebar
jantung ini. Sabar-sabar. Santai! Semua akan baik-baik saja aku
membesarkan hati. MC menyuarakan di depan stage hiburan. “Baik bapak ibu
yang kami hormati acara semakin seru tampaknya maka tiba saatnya
penampilan seni ganda dari SMA Bhina insani, berikan tepuk tangan yang
meriah!!!”
Ok giliran kami yang adu kebolehan.
Aku dari sudut utara dan Radit dari selatan siap siaga. Huuupp.. Radit
lompat harimau tinggi sekali. Dengan sikap ksatria kamipun melakukan
penghormatan padapara hadirin, lalu kesesama pesilat. Pasang!! Diiringi
musik kitaro jepang pilihan mas widho pelatih kami.
Gebrakan awal adalah gerakan ekstrem, fungsinya menarik perhatian
penoton. Radit dengan penuh optimis melompat tinggi siap menggunting
leher dengan kakinya, tanpa jeda waktu langsung dia lakukan itu bahkan
tanpa kuda-kuda terlebih dahulu. Benar kataku semua penonton tepuk
tangan dan ada yang menjerit histeris, dengan wajah yang seolah membunuh
itu kami mampu menghipnotis penonton. tanpa membuang kesempatan satu
persatu kami keluarkan semua jurus dan teknik yang sudah terlatih,
pukulan, bentingan, tendangan apaun kami pakai. Suara penonton hiruk
pikuk gagap gempita tak kami hiraukan yang kami fokuskan adalah memberi
yang terbaik dalam kesempatan itu. Sempat sekilas aku melihat Janne
dengan gaun jingga yang amat menawan berteriak “Ayooo Ade!” bagiku
teriakkan janne merupakan suplai energi luar biasa dan senyumnya
menerangi hatiku melebihi lampu sorot. Aku makin semangat.
Kelima fase kami pergunakan dengan baik sesuai durasi waktu yang
ditentukan. Fase terakir menggunakan senjata golok dan toya. Aku bermain
stik panjang itu, radit dengan lihainya siap mencincang habis tubuhku
hingga lumat. Gila! Sedikit saja aku tergelincir, alamat akan dibawa
mobil ambulance yang standby di sudut pentas atau namaku menjadi
almarhum. Penoton makin riuh, setelah aku tunjukan secara maksimal
memainkan stik atau toya, semakin bergaya diriku ada Janne disana, toya
berputar mengelilingi tubuh untuk melindungi pukulan telak dari golok
mautnya Radit yang mengilat akibat pantulan sorot lampu. Beberapa kali
aku melambung di udara salto belakang untuk mengelak, Menangkisnya
dengan cepat adalah pilihan.
Whuuttt… aku berhasil melemparkan senjata mengerikan itu dari
tangannya, Radit gelagapan goloknya melanting jauh. Aku terkecoh senyum
Janne, hingga Radit memukulku tepat di ulu hati, aku terpental menahan
sakit dan toyak melesat dari tanganku. Nafasku sesak sekali ”Awas de!!”
suara Janne jelas. Di dekat ku ada golok maut yang terhunus, golok
Radit, kali ini giliranku yang memakainya. Rasa cinta ini menghilangkan
semua rasa sakit pukulan Radit. Dua, tiga langkah lagi Radit akan tewas.
Sesuai skenario mas Widho pelatih kami, Radit kalah terbunuh dengan
senjatanya sendiri. Apa boleh buat Radit mati juga ditanganku itulah
skenarionya padahal kalau boleh jujur Radit tak mau kalah karena disana
ada wanita idamannya juga namanya Shari sahabat Janne. Kali ini
merupakan penampilan yang spektakuler, aku pemenangnya. Salam
penghormatan mengakhiri penampilan kami dengan Standing Uplous segenap
pemerintah dan para penonton yang tak henti-henti. Aku senang bukan
buatan. Ekspresi diri yang dahsyat!
Kubuka ponsel ada pesan masuk nomor baru.
“Keren penampilanmu malam ini”
Untuk cabang olahraga ditempatkan di gelanggang, cabang seni di
sanggar Hang Tuah dan karya tulis ilmiah di asrama haji gerbang utaraku
komplek masjid agung Natuna. Setiap hari mereka berkopetisi selama
seminggu. Sementara aku memaksimalkan untuk penampilanku besok, melukis
wajah pangeran Diponegoro. Cat dan kain kanvasnya kupilihkan yang
terbaik sengaja pesan dari luar Natuna. Kontras lukisan dan warna gelap
terangnya harus diseimbangkan. Vigneting harus pas sesuai arahan dari Bu
indah kemarin.
Hari ini aku melukis harus maksimal, waktu lima jam kupergunakan
dengan baik dari jam delapan pagi sudah mulai sampai jam satu siang.
Banyak penonton yang juga hadir apalagi dari tiap-tiap sekolah,
teman-teman Osis, kakak dan adik kelasku memberi support tak
henti-hentinya. Akhirnya selesai juga. Alhamdulillah lancar semua.
Nanti malam janne nampil, aku sporter yang paling berpengaruh untuk
kesuksesan janne, Hmm mulai GR memang siapa aku?. Terakhir aku tahu itu
nomor janne tadi sore dia sms lagi “Aku harap kamu datang Ade”.
Siapa sangka nomor yang dulu aku idamkan bahkan kali ini tanpa aku yang
memintanya telah menyapaku, bahkan setelah malam penampilan silat itu
Janne selalu mengirim pesan singkat. Ada saja alasan dia untuk bisa
ber-sms-ria denganku. Ah, kacau misiku benar-benar gagal. Tapi jujur aku
senang. Malam ini penampilan Janne aku yakin Janne akan menunjukkan
talenta besarnya dalam olah tarik suara.
Romi yakin Siska begitu elok malam ini, dan saatnya dia membalas rasa
malu yang tempo hari di pustaka telah ditertawakan ingin ia katakan
sejujur-jujurnya perihal perasaannya itu. Sementara Radit, wanita
idamannya adalah Shari dia yakin Sharilah orang yang tepat. Dan
rencananya sama dengan rencana Romi. Rasa cinta itu akan ia utarakan
malam ini juga.
Sementara aku? Ah, apa iya aku akan seperti rencana mereka? Kawan,
beginilah terkadang sikap cowok. Dan tidak semua cowok blak-blakan,
buktinya aku harus memikirkan matang akan hal ini. Dan aku tak tahu
apakah aku termasuk kualifikasi di antara sekian banyak tipe cowok yang
menjadi idaman Janne. Meski hampir tiga semester aku naksir berat pada
Janne dan terkadang muncul tenggelam dalam hatiku, tapi jujur Janne
adalah cinta pertamaku yang masih gelap.
“Napa tak balas? Pokoknya kamu harus datang. Titik!” Upps.. sms janne yang tadi juga belum ku balas. Lima menit kemudian.
“Insyaallah janne” jawabku
“He..”
Kugunakan lagi baju silat terbaikku pada malam penutupan ini, tak
cukup tiga puluh menit di depan kaca, memakai kain yang dililitkan di
pinggang berwarna merah ini saja menghabiskan waktu tujuh menit,
menyisir rambut apalagi. Rambut adalah mahkota terpenting bagi para
cowok, jadi tidak boleh asal-asalan. Wajahku? Ah, ok lah.
Kali ini malam penutupan yang menentukan, sekaligus pengumuman
seluruh cabang. Lukisan dipajang di setiap astaka pameran termasuk
karyaku.
Panitia mengatur jadwal gurindam sebagai pertandingan akhir kegiatan.
Janne dan CS dapat undian pertama, serasa ada yang hilang, tapi apa? Oya
Janne. aku tak melihatnya dimana dia sekarang. Jangan-jangan janne
menipuku supaya aku datang tapi ia tidur di rumah. Apa dia tiba-tiba
sakit, atau mungkin dia lupa syairnya. Ah amat sangat mustahil, dia
sudah profesional dalam urusan itu. Tapi kemana dia?. Coba ku-Sms dia,
hape bunyi Janne sms duluan.
“Dari tadi kamu mencari siapa”
“Maksudmu?” pura-pura tak paham
“Ah ngaku aja deh, terus ngapain toleh kanan kiri? Hihi”
Aku jadi malu, rupanya sejak tadi Janne memperhatikanku, tapi dimana
dia? Di kursi depan sana sekumpulan penari dan pelantun gurindam
perwakilan masing-masing sekolah banyak sekali, aku tak dapat mengenali
wajah mereka satu persatu.
“Emang Janne dimana and apa warna kostum yang di pake?”
“Hmm.. mau tau aja, ato mau tau banget?. Hehe lihat aja ntar pas aku nampil, ok?”
“ok la kalo begitu, semangat yach”
“thanks”
Aku, Romi dan Radit duduk bersebelahan di belakang para pelantun
gurindan dan penari. Pembawa acara memanggil peserta nomor urut tampil
satu, itu artinya Janne maju terlebih dahulu. Mengurangi rasa penasaran
pandangan kami tak lepas dari segerombolan orang yang duduk di depan
diantara para penari tersebut. Janne dan ganknya berdiri untuk maju.
Wow..aku berdecak dalam hati, aku hampir tak mengenalinya, janne
menggunakan kostum biru bermotif bunga-bunga halus mengkilat, sulaman
benang berwarna silver kemerlapan semakin menantang cahaya lampu sorot,
diselipkan rangkaian bunga mawar terbuat dari kain kuning di atas
songket berwarna emas hingga menyerupai miss universe, dan kerudung
hitamnya juga dililitkan hiasan bunga-bunga semacam mahkota ratu Balqis.
Bahkan aku tak percaya kalau dia adalah Janne, semacam putri raja yang
jarang keluar istana apalagi berjemur panas. Cantik sekali dia malam ini
aku rasa Cinderella dari negeri dongeng pun akan minder di dekatnya.
Ayat-ayat gurindam 12 disyairkan, pasal 1, 9 dan 12 itu tanpa
sedikitpun rasa canggung dan dia sangat yakin dengan penampilannya, SMA
kami menampilkan gurindam dengan gaya modern, biasanya ditampilkan
dengan alat musik tradisional kompang, kali ini musik pengiringnya orgen
dan rytem, Janne, Siska dan Shari pelantun pasal demi pasal secara
giliran, sementara Rasya dan Imel semacam Backing Vocalnya.
Para hadirin sangat menikmati keindahan seni melayu yang dilahirkan
dari sastrawan besar Kepulauan Riau Raja Ali Haji dengan karyanya yang
mengurat nadi ini hampir tak tersentuh lagi oleh generasi melayu
sekarang. Pesan moral dari setiap ayat adalah sebuah ajaran agung makna
keluhuran melayu yang melekat erat dengan keislamannya.
Tepuk tangan penonton mengakhiri penampilan Janne. Usai penampilan
kami ke astaka pameran lukisan Janne ingin melihat karyaku. “bagus! Kamu
tuh orang yang serba bisa ya” puji janne. Aku tersenyum.
Aku dan Janne jalan berdua mengelilingi berbagai pameran dan juga
bazar buku, lalu kami minum jus alpukat bahkan ia tak memperdulikan
kostum adat yang masih dipakaniya dan aku masih memakai baju silatku.
Janne bertanya benyak hal terutama penampilannya tadi, aku katakan
semuanya mantap. Ia tersenyaum semakin cantik. Aku berdegup kencang
nyaris tak dapat bicara, bingung seperti orang buta memegang gajah,
lidahku kelu dan berat. Di depan janne aku adalah rakyat jelata yang
menghadap putri istana.
“Janne” kataku mencoba serius.
“Ya?”
“Hm..” duh deg-degan “dalam hidup ini apa yang tak kamu harapkan hilang darimu?” dia berfikir sejenak.
“Pelangi”
“Alasannya?” kataku.
“Karena pelangi adalah sebuah ungkapan agung sang pencipta, dimana ia
baru muncul setelah hujan terkadang badai, dan disambut dengan sinar
matahari maka akan memantulkan cahaya, pelangi merupakan fenomena optik
dan meteorologi yang menghasilkan spektrum cahaya. Issac Newton adalah
orang pertama yang menyelidiki hal ini, aku menyukainya karena pelangi
memilki falsafah yang amat dalam bagiku”
Aku mendengarkan secara seksama menjelajahi cakrawala kecerdasan Janne
tentang berbagai dalil eksak yang ia pelajari di jurusan ipa. Sementara
dari jauh MC terus memanggil para peserta yang belum tampil satu
persatu. Kami terbuai oleh suasana yang langka ini, pembicaraan janne
adalah hal yang penting bagiku. Tak penting bagi kami penampilan mereka.
Pengumuman pemenangnya biar guru-guru saja yang mewakilinya aku yakin
karya lukisku akan diperhitungkan juri. Uh, alangkah bahagia hati
akhirnya aku bias berbicara dan bertukar pendapat dengan janne bukan
sekedar sms. Dunia serasa milik kami berdua yang lain cuma mengungsi.
Masih ia lanjutkan.
“Dalam hidup ini suka dan duka seumpama sepasang kekasih yang tak pernah
mungkin terpisahkan, pelangi juga memberikan warna keindahan pada
dunia. Aku ingin menjadi pelangi yang memberikan keindahan dalam
kehidupan sekitar, tidak untuk diri sendiri saja tapi untuk banyak
manusia. Dan aku yakin semua manusia pasti menyukai pelangi”.
Aku mengangguk. Apapun yang diungkapkan janne benar adanya. Ya memang
begitulah kehidupan yang terkadang suka dan duka akrab menghampiri
kita.
“Kalau kamu De, apa yang tak ingin hilang dalam kehidupanmu?”
“Cinta” kataku simpel. Tampaknya janne bertanya-tanya dengan alasan yang akan aku berikan nanti.
“Ya, cinta” kataku lagi.
“bisa beri alasan kenapa cinta?”
“Cintaku padamu, Janne. Dan pandangan matamu sudah menjelaskan semua itu!”
“@#$%^^u&me…” Janne nyaris tak dapat bicara, airmukanya cerah malu.
“Menurutmu kalau aku cinta padamu apakah itu sebuah kesalahan?”
Janne menggeleng sambil membenarkan posisi duduknya sedikit salah tingkah.
“janne, aku mencintaimu”
Janne mengangguk pelan sambil tersenyum simpul, senyum termanis yang pernah aku saksikan.
“Aku juga mencintaimu Ade Nugraha”
©Yudhianto Mazdean.
Kritik dan saran jangan lupa ya, sob! Makasih sudah sempetin baca karyaku. salam kenal
Cerpen Karangan: Yudhianto Mazdean
Facebook: yudie.ardianto[-at-]yahoo.com
Namanya Yudhianto, mazdean adalah nama pena. Lahir februari 1992 ini
hobbinya baca buku and nulis, melukis adalah kreatifitas lain yang ia
miliki, pernah juara 1 kaligrafi di kampusnya, juara 3 kaligrafi MTQ
kabupaten Natuna di serasan 2010. sekarang menetap di Natuna.
0 komentar:
Posting Komentar