skip to main |
skip to sidebar
Aku meniti jalan ini lagi. Kali ketiga dalam satu hari ini.
Aku tahu sebenarnya banyak jalan-jalan lain yang tidak pernah macet dan
jelas akan sangat menghemat waktu perjalananku pulang dari kantor, tapi
jalanan ini berbeda. Aku bahkan rela terkena macet 30 jam dalam sehari
di jalan ini. Sangat, sangat rela. Malah aku sedang dengan sengaja
terkena macet di jalan ini sekarang. Juga berputar-putar dengan sengaja.
Unik sekali bukan?
Apa yang salah dengan jalan ini? Tidak ada yang salah. Hanya hatiku
yang salah. Hatiku harusnya kusut pasai terkena macet panjang, dengan
bis-bis pariwisata, bis dalam kota, angkutan-angkutan umum, taksi-taksi,
mobil-mobil pribadi dan kendaraan bermotor yang harus berebut jalan.
Merangkak perlahan-lahan. Harusnya hatiku kusut dan emosiku meluap
karena ingin cepat sampai – seperti kemarin-kemarin. Tapi tidak dengan
tiga hari terakhir ini. Malah aku dengan bahagia, bersiul-siul rendah
sangat menikmati keadaan yang panas-pengap akibat berebut oksigen dan
perjalanan yang tiga kali lipat lebih memakan waktu. Menikmati setiap
detiknya.
Apa yang terjadi? Em… tidak ada. Kecuali hatiku yang macet berfungsi
bersamaan dengan macetnya jalanan ini. Macet oleh perasaan aneh yang
membuang semua kewajaran saat aku sedang terkena macet. Macet terhadap
semua gundah, semua kesal, semua emosi. Macet karena bunga-bunga cinta
dari seorang Polisi Lalu Lintas yang menanggulangi macet. Kukira jika
aku tidak terkena macet, satu hari saja, bisa jadi jantungku yang macet
berfungsi.
Aku tidak tahu namanya. Pokoknya polisi itu selalu berdiri di sana.
Di ambang salah satu jalan Simpang Lima yang menuju Banyumanik – jalur
yang paling banyak dituju untuk meninggalkan Semarang, dan mengintruksi
kendaraan yang berlalu-lalang, kapan harus maju, kapan harus berhenti.
Dia menggantikan fungsi lampu lalu lintas yang sementara ini sedang
diperbaiki. Gadis muda sang Polantas itu tidak terlihat lelah sama
sekali, senyumnya selalu merekah saat mempersilahkan pengendara maju,
atau berhenti. Peluit selalu tersemat di pundaknya. Terlihat begitu
anggun dan mempesona. Padahal langit sudah semakin gelap. Awan merah
mulai berarak lembut di langit, disusul panggilan sholat yang
bersahut-sahutan. Dalam hati aku berdo’a, terus berdo’a supaya Tuhan
mengizinkan aku mengenalnya lebih dekat. Juga supaya Dia memberiku
kesempatan bertatapan langsung dengannya dan menanyakan namanya. Juga
mengizinkan aku menjadikannya pendamping hidupku. Memangnya aku bisa
minta pada siapa lagi selain pada-Nya?
Sampai di jalur Banyumanik itu aku melirik sang Polwan, dia
menghentikan laju mobilku dengan aba-aba, dan senyumannya nyaris
menghentikan laju jantungku. Di dada kirinya tersemat papan nama kecil
bertuliskan “Raya”. Ternyata itu namanya. Pantas saja semesta raya
seolah tertawan olehnya. Ah, puitis sekali aku hari ini.
Sebenarnya aku punya beberapa kali kesempatan untuk menegur Raya.
Bagaimana tidak? Aku sudah berputar tiga kali dalam sehari di Simpang
Lima selama tiga hari berturut-turut. Bahkan terkadang lebih. Tapi entah
kenapa, hanya melihat senyumnya saja kakiku langsung lemas, jantungku
mendadak malas berdetak – hingga jadi sesak, lidahku kelu, otakku jadi
lambat berfikir dan tidak mampu mengingatkan bahwa kesempatan mungkin
tidak akan datang dua kali. Aku sering khawatir Raya berhenti bertugas
di situ, atau khawatir lampu lalu lintasnya selesai diperbaiki. Karena
jika itu terjadi, aku tidak akan lagi punya kesempatan untuk melihat
Polwan-ku. Agaknya aku adalah satu-satunya pengguna jalan yang berdo’a
supaya jalanan ini tetap macet. Setidaknya sampai aku bisa mengenal Raya
lebih dekat. Memang do’a yang egois dan menyusahkan pengemudi lain yang
melintasi jalan ini, tapi sekarang aku memang sedang ingin egois. Aku
butuh jadi egois saat ini.
Sekali lagi aku berputar di Simpang Lima, kemudian kubelokkan mobilku
ke masjid Baiturrahman yang megah dengan arsitektur jawa joglonya
menghiasi perkotaan yang mulai ditumbuhi gedung-gedung pencakar langit,
Mesjid tersebut berada di sisi jalur bundaran Simpang Lima, aku
memarkirkannya di dekat menara. Selepas sholat, aku terpekur cukup lama
di hadapan Tuhan. Meminta banyak hal dan terutama meminta Raya. Tuhan,
hanya Engkau-lah yang bisa mengabulkan permintaanku, tolong izinkan aku
mengenal sosok Raya lebih dekat, mengetahui asal-usulnya. Tuhan, jadikan
Raya adalah tulang rusukku yang hilang, lalu kembalikanlah padaku
secepatnya.
~ Raya ~
Harusnya aku mengundurkan diri tiga hari yang lalu. Meninggalkan jalanan
macet ini dan rutinitasku di tengah-tengahnya. Ibuku sudah meminta itu
sejak satu tahun yang lalu, dan aku sendiri sudah membulatkan tekad
untuk melengkapi keislamanku yang baru seumur jagung dengan jilbab
secepatnya. Maka saat instansiku tidak mengizinkan niatku ini, aku
memutuskan untuk mengundurkan diri. Menurutku begitu lebih baik, toh aku
tidak bisa terus berada di tengah jalanan seumur hidupku.
Sejatinya aku menikmati pekerjaanku. Setiap mobil yang melaju
perlahan berdesakan, klakson-klakson yang beradu di langit jalanan,
wajah-wajah emosi tidak sabaran, muka-muka ketus dan masam, dan kadang
umpatan-umpatan sopir kendaraan. Seperti casting pertunjukan drama
dimana semua orang diminta untuk memerankan tokoh antagonis. Kadang aku
berfikir bahwa mereka seolah berebut menjadi yang terbaik dalam adegan
klimaks sebuah sandiwara. Pasti sebelum terkena macet mereka tertawa,
tersenyum, bahagia, dan sudah membayangkan wajah-wajah yang menanti
mereka di tempat tujuan. Atau mungkin sudah mengilustrasi hidangan yang
dipersiapkan seseorang di rumahnya sana. Maka aku berada di sini, di
tengah jalanan ini, kadang tidak lagi karena tuntutan profesi, namun
lebih karena panggilan hati untuk membantu orang-orang yang kesulitan
melintas akibat macet itu agar segera sampai ke tempat yang menjadi
tujuan mereka masing-masing.
Namun aku agak heran. Ada sesuatu yang menahan pengundur-dirianku,
sesuatu itu agak berbeda. Dan membuat aku masih ingin bekerja di bawah
terik matahari jalanan. Rasa penasaran pada satu sosok unik yang baru
kali ini aku temui dari sekian banyak pengguna jalan yang selalu
berganti-ganti sepanjang profesiku. Satu dari ribuan wajah-wajah yang
masam, ketus, emosi, dan malah mengumpat, ada wajah yang tampak begitu
tenang mengemudikan mobilnya, begitu santai dan menikmati kemacetan ini.
Sejak tiga hari yang lalu aku merasa ada sepasang mata yang
memperhatikan aku. Dan bukannya aku tidak tahu, sepasang mata milik
pemuda tampan bermobil hitam dengan plat nomor H 679 AR itu terus
melewati jalan ini tiga kali dalam sehari. Dengan wajah yang damai dan
pandangan matanya yang tajam, seolah mengawasiku dengan lembut, hanya
memandang saja dari jauh. Aku selalu berusaha mengacuhkan, tapi tatapan
itu selalu terarah kemari. Kalau dipikir, gadis mana yang tidak tertawan
oleh tatapan penuh makna seorang pemuda tampan seperti itu? Di antara
puluhan pasang mata lain yang dalam sehari penuh menghujam, menyalahkan
dan seakan meminta pertanggungjawaban atas jalanan yang selalu macet.
Satu-satunya pengendara mobil yang tersenyum balik saat aku
mengaba-abakan dia berhenti, atau maju.
“Raya, mau sholat dulu? Saya sudah. Saya bisa menggantikan kamu,”
seorang rekanku menegur. Aku segera tersadar dari lamunan panjang. “Ah,
iya. Terima kasih,” sahutku seraya tersenyum dan mempersilahkan rekanku
itu menggantikan. Aku berjalan menuju masjid Baiturrahman yang letaknya
paling dekat dengan posisiku saat ini.
Mobil hitam H 679 AR terparkir manis di samping menara masjid.
Mungkin pemiliknya sedang menunaikan ibadah di tempat yang kutuju. Jika
mengingat pemuda dengan sepasang mata teduh dan pandangan tajam itu, aku
seperti menemukan sesuatu. Ada sesuatu dengan pemuda ini, yang tidak
bisa aku definisikan apa, tidak mampu aku pahami kenapa. Namun setiap
melihat wajahnya, aku merasa akan dekat dengannya, seperti sinyal yang
mengidentifikasi bahwa akan ada ikatan dengannya. Hmf, aku tersenyum
sendiri. Lucu dengan pikiran anehku. Kenal dengannya saja tidak, malah
aku juga tidak tahu namanya. Tapi agaknya perasaan ini kuat sekali.
Selepas sholat, aku memohon ampun pada Tuhan, lalu meminta banyak hal
dalam do’a panjangku pada-Nya. Dan hatiku tidak bisa kucegah, aku juga
meminta pemuda itu pada-Nya, memangnya aku bisa minta pada siapa lagi
jika bukan pada-Nya?. Ya Rabb.. Jika memang pemuda unik itu akan menjadi
seseorang yang berarti di kehidupanku nantinya, maka mudahkanlah jalan
kami, Ya Rabb.. perkenalkan aku padanya, dan dekatkanlah kami dengan
cara-Mu.
Di depan masjid.
Tidak biasanya Adjie berlama-lama duduk di depan masjid. Meskipun dia
memang sering berjama’ah maghrib di masjid Baiturrahman itu sejak
terkena macet satu bulan yang lalu, dia biasanya langsung buru-buru
pulang. Tidak terpikir sedikitpun untuk menyapa dan berbincang sebentar
dengan sesama jama’ah. Tapi hari ini berbeda. Adjie bahkan sempat duduk
lama dan mengobrol dengan seorang pemuda yang sepertinya seorang pegawai
salah satu perusahaan sekitar Simpang Lima, terlihat jelas dari
penampilannya.
Pemuda tersebut pamit, dan meninggalkan Adjie yang masih enggan
beranjak dari tempat duduknya. Dan yang tidak pernah Adjie sangka, sang
bidadari yang sudah tiga hari membuatnya rela berlama-lama dalam macet,
dan menyengajakan diri terkena macet di jalur pantura itu duduk di
sampingnya, tidak sampai satu meter, dan tanpa terhalang orang lain.
Bidadarinya dengan wajah yang segar akibat air wudlu tampak semakin ayu
terkena tampias sinar lampu. Dia sedang mengenakan sepatunya.
Adjie berhitung dengan waktu, satu, dua, tiga.. dia mulai gugup. Raya
tampak tidak sadar ada seseorang yang kelimpungan di sampingnya,
berdebar, senang, khawatir dan entah apalagi. Seseorang yang sedang
ragu-ragu hendak menyapa. Tapi Adjie juga sadar, terlepas dari
kesempatan ini, mungkin kesempatan lain tidak akan pernah datang lagi.
Kapan lagi dia bisa duduk sedekat ini dengan sang pujaan hati? Kapan
lagi dia bisa bertemu Raya? Siapa yang bisa menjamin kalau lampu lalu
lintas akan tetap diperbaiki esok hari? Siapa yang bisa menjamin bahwa
besok Raya masih bertugas di jalan yang sama? Di simpang Lima? Bagaimana
jika tiba-tiba Raya pindah tugas ke kota lain? Dalam hati Adjie mulai
panik. Lantas berkata pada dirinya sendiri, menyalahkan kesempatan yang
datang tapi juga mensyukurinya bersamaan. “Kenapa harus secepat ini? Ini
juga terlalu dekat, aku belum punya persiapan sekarang.. tapi jika
tidak sekarang, kapan lagi?”
Raya mengenakan sebelah sepatunya yang lain. Sedang Adjie masih belum
memiliki persiapan yang cukup. Dia masih menghitung waktu, masih
mencoba mencari kata-kata yang cocok untuk digunakan sebagai sapaan.
Sejujurnya dia tidak pernah segugup ini sebelumnya, padahal hanya untuk
mengatakan ‘hai’ atau sapaan lain, padahal biasanya dia mampu bicara
lugas dan tegas dengan lantang di hadapan umum. Mempresentasikan proyek
yang dikerjakannya dengan sempurna. Tapi urusan cinta… ternyata lain
ceritanya.
Raya hampir selesai mengenakan kedua sepatunya. Hanya tinggal
beberapa menit kesempatan yang tersisa. Padahal lidah Adjie masih kelu.
Tapi dia harus bertindak atau tidak ada kesempatan lain sama sekali.
“Assalamu ‘alaikum, Bu Polwan?” sapa Adjie. Akhirnya keberanian untuk
menyapa dia dapatkan juga, mungkin karena biasanya dia tidak acuh dan
tidak pernah peduli dan menyapa seorang gadis maka untuk memulai sebuah
percakapan bahkan lebih sulit daripada mengerjakan rumus matematika
manapun. Enggan dan memang tidak berani.
“Alaikumussalam..” jawab Raya. “Saya tidak asing dengan wajah anda,
sepertinya anda langganan macet di daerah saya ya, Pak?” lanjut Raya
membuka obrolan. Adjie tertawa malu saat tahu bahwa Raya ternyata
menyadari tindakannya tiga hari terakhir ini. Di luar dugaan Raya,
ternyata kesempatan itu datang. Kesempatan yang tidak disangka Raya akan
bisa dia dapatkan begitu cepat, hanya berselang belasan menit yang lalu
dia meminta pada-Nya. Benarkah sekarang sudah terkabul? Apa ini
cara-Nya memperkenalkan mereka?
“Saya Adjie, Bu Raya,” kata Adjie memperkenalkan diri. Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
“Wah.. kok anda sudah tahu nama saya?” Raya terkejut. Namun kemudian
Adjie menunjuk papan nama yang tersemat di seragam gadis itu. Raya
tertawa menyadarinya.
“Saya suka lupa saya sudah mempublikasikan nama di seragam saya.” Lanjut Raya. Masih diselingi tawa.
“Berapa lama tinggal di Semarang?”
Adjie mengerutkan kening. Seolah berfikir, “seingat saya sejak kecil,
usia 10 tahun kayanya..” Raya manggut-manggut mengerti. “Sudah hafal
Semarang dong ya..” gadis cantik itu berkomentar. Adjie mengangguk
mantap mengiyakan. Dia memang orang Semarang asli, hanya saja ayahnya
sempat dipindah tugaskan ke Blora dan dia baru kembali ke kota Atlas ini
pada usia 10 tahun.
“Ngomong-ngomong, kenapa anda kayanya bolak-balik terus ya di Simpang
Lima?” Raya tersenyum jail, sedangkan Adjie sudah tertawa malu dengan
wajah yang mulai memerah. Tertangkap sudah.
“Saya suka lupa jalan,” jawab Adjie sekenanya.
“Ahahaha… bohong. Masa anda sudah jadi orang Semarang sejak usia 10 tahun tidak hafal jalan Simpang Lima?”
“Saya bukan tidak hafal, hanya suka lupa…” Adjie berkelit, beralasan.
Dan percakapan merekapun berlanjut dengan renyah, seolah kedua sahabat
lama yang baru saja bertemu kembali setelah sekian tahun tak ada
kabarnya. Percakapan itupun menjadi permulaan bagi kisah yang terukir
hingga ujung usia mereka berdua.
Ada yang pernah mengatakan pada saya, bahwa do’a yang dipanjatkan
untuk orang yang tidak tahu bahwa dia didoakan, akan terkabul. Saya
pikir, mungkin karena do’a yang dipanjatkan keduanya adalah sama maka
dua do’a itu saling tarik-menarik di langit dan kemudian terkabul dengan
cepatnya. Soal bagaimana kelanjutan kisah mereka berdua, mari kita
biarkan Tuhan yang menyelesaikan dengan cara-Nya.
SEKIAN
Cerpen Karangan: Aya Emsa
0 komentar:
Posting Komentar