skip to main |
skip to sidebar
Kadang, aku letih bertanya sendiri. Iya, sendiri tapi
berdua dengan hati. “harus bagaimana aku sekarang?” hari ini hati
menjawab “sekarang kau harus bertanya kepadanya”. Jika hati mampu diajak
berbicara lagi, ingin aku tanyakan.
Apakah ia mampu menghargai waktu yg ku pergunakan hanya untuk menunggunya?
Apakah ia mampu memutuskan sesuatu dengan baik?
Tapi sayang, hatiku diam dan sedikit berbicara bahwa “aku bukan hatinya!”
Bodoh!
Iya, jelas saja hatiku tidak tau, ini bukan hatinya. Dan ia belum mau
lagi untuk menitipkan hatinya di hatiku, meski separuh.. Kadang aku
merasa iba .. Dan, mungkin inilah yang ia titipkan di hatiku, kashian..
iba.. yang dengan iklas ia sampaikan.
Aku tidak pernah mengeluhkan dengan setiap apa yang ia sampaikan kepadaku. Segalanya, kutanyakan pada hati.
Biar hati berbicara…
Entah kapan waktu ia mampu menggerakkan hatinya sendiri untukku,
bukan iba tapi benar-benar tulus membelai lagi waktu yang aku suguhkan.
Semua tidak percuma, dan aku percaya itu.
Hatiku pernah berbisik “jika kau percaya, kejarlah! Pertahankan! Dan jangan pernah mencoba keluar dari lingkaran keseriusan”
Hah.. Shella menghela nafas lega dan menundukkan badannya sedikit.
Memberi hormat kepada tepukan tangan yang penonton sambutkan untuk
kata-katanya barusan.
Ia berjalan ke arah pintu keluar, ia tampak cantik. Dengan baju
casual namun sopan yang ia kenakan membuat ia lebih tampak original.
Biasa, tenang dan sempurna. Ditambah setelah ia menyampaikan semua
kata-kata yang ia rangkum malam itu, ketika mengingat…
“hei!” tiba-tiba seseorang menggenggam pergelangan tangannya.
Shela langsung berbalik badan dan berdiri kaku, setelah melihat edgar
berdiri tegap di depannya. Teman kecil yang dulu pendek dan lebih
terkenal dengan kejorokannya itu berubah menjadi teman besar yang tinggi
dan lebih tampak bersih, dan juga… tampan.
Shela menyayat senyuman manisnya dengan lebar, dengan raut wajah yang
seakan tidak percaya ia memutar balikkan badan edgar lalu tersenyum
kembali.
“Edgar” katanya sambil tersenyum dan menjulurkan tangannya seakan mengajak shela berkenalan kembali. Shela pun menyambutnya.
“Ini beneran kamu gar?” dengan nada yang tak percaya. “Kamu beda banget sih, udah ga pendek lagi dan udah gak …”
“Jorok maksud kamu?” mereka hanya tertawa geli ketika mengingat masa kecil mereka berdua.
“kamu mau kemana? Aku anterin ya?” tawar edgar manis.
“mau pulang. Beneran ya? Lagian kamu udah lama gak main ke rumah aku” rengek shela.
“iya iya” jawab edgar sambil mengacak-acak rambut shela.
Di perjalanan, mereka banyak cerita tentang masa-masa sekolah masing-masing yang sudah tidak berbarengan lagi.
“oia shel, udah berapa tahun ya kita gak keetemu?”
“berapa ya.. 1 2 … hmm” shela sibuk menghitung dan memikirkan jawaban dari pertanyaan edgar tadi.
Tiba-tiba hitungan shela berhenti ketika tangan edgar jatuh di tangan
kanannya, menggenggam. Iya, menggenggam dengan penuh arti kerinduan.
“udah bertahun-tahun shel” edgar berhenti sejenak, “aku kangen kamu” edgar menatap dalam mata shela.
Sedangkan shela? Yang terjebak di suasana itu hanya mampu menahan merah pipinya.
Sesampai di rumah shela,
“maa… Mamaaa!!! Ada yg datang nih!!!” teriak shela dari ruang tamu.
“siapa shel?” jawab mama dari balik pintu kamarnya.
“sini deh ma! Cepetan!!!”
Tak lama setelah itu, mama shela datang dengan tatapan aneh dan penuh tanda Tanya. Dari tatapannya, shela sudah tau.
“ini edgar ma, tetangga kita dulu. Temen sd aku yang sering kesini dan jorok itu loh ma” shela lalu tertawa licik.
“edgar?”
“iya tante” edgar lalu melempar senyum manisnya dan memeluk hangat
wanita setengah baya yang sudah bertahun-tahun lalu itu seperti ibunya
sendiri. Dan sudah bertahun-tahun pula tidak ia jumpai.
Banyak kehangatan tentang kerinduan disana, di rumah shela.
Tentang perasaan shela dan kebahagiaannya. Setelah berjam-jam disana, edgar pun berpamitan pulang.
“gar?”
Langkah edgar terhenti, ia melihat ke arah shela yang menyerukan namanya tadi.
“kapan kamu bakal kesini lagi? Kan lagi musim liburan. Dan kamu tau kan kalo aku…”
“anak bungsu yang minta ditemenin dengan alasan takut karena mama dan
papanya ga ada di rumah. Iya kan? Haha” edgar tertawa lepas.
“aaakh! Edgar! Kamu terus aja motong pembicaraan aku!” rengek shela
“mana handphone kamu? Sini!” ia merampas handphone shela dan mengetik beberapa angka disana.
“nanti ku telfon. Aku pulang ya. Selamat tidur” sepersekian detik ia mengecup kening shela lalu pulang.
Shela merebahkan badannya di kasur. Lalu menikmati angin yang
menyempurnakan waktu dari beberapa menit yang lalu. Merasakan sesuatu
yang sudah bertahun-tahun ia tunggu.
Ah edgar …
Batinnya tersenyum.
Esok paginya shella terlihat lebih mantap untuk menyambut paginya.
“shel… udah bangun belum?
Terdengar suara mama dari balik pintu.
Mama pasti minta ditemenin belaja deh, ah males…
“shel … bangun nak! Edgar udah nungguin tuh di bawah”
“hah! Edgar! Mampus!” shela langsung melompat dari kasur dan menemui edgar.
Dari pagi itulah semua dimulai. Shela merasakan sesuatu yang berbeda
dari hari sebelumnya. Sedangkan edgar, ia mulai terbiasa menjalani pagi
bersama wanita manja itu.
Sampai pada saat sore itu shela mendapat telfon dari edgar.
“shel, ntar malem aku jemput ya. Penting!”
“iya gar”
Sekarang, difikiran shela mulai banyak pertanyaan. Apa yang disebut
penting oleh edgar kali ini? Apakah sama seperti dulu? Sesuatu yang
penting dan untuk menyakiti hatinya. Meninggalkan shela dalam lamunan
kebahagiaan bersama edgar, tapi apa arti dari sebuah lamunan?
“shel” kata edgar membuka pembicaraan.
“ya?”
“banyak hal yang harus aku omongin sama kamu, dan ini penting. Aku gak
mau semuanya disebut terlambat” ia menatap dalam mata shela.
“maksud kamu gar?” shela membalas tatapan dengan kebingungan.
Edgar mulai menggenggam dan mengitari kelingkingnya di kelingking putih shela.
“kamu inget hah janji kita dulu? Waktu kita masih belum bisa
berbicara sesuai hati. Ketika kita masih make gaya lugu baku nya anak
kecil? Aku pernah janji buat nemenin kamu terus. Aku bakal main sama
kamu terus. Tapi mungkin janji itu busuk banget menurut kamu, setelah
kamu aku kasih kabar bahwa aku harus ikut papa keluar kota dan kita, gak
bareng lagi?” edgar makin menatap shela dalam.
Shela diam.
Ternyata kamu merasakan apa yang aku sedihkan selama ini gar?
Batinnya.
“oia, aku suka sama kata-kata kamu pas beberapa menit pertama kali
aku ketemu kamu waktu itu. Aku juga bingung, itu bukan puisi dan bukan
cerpen. Tapi kamu membawakan nya dengan nyaman dan lebih lepas dalam
keseriusan orang di depanmu yang terus juga memperhatikanmu. Makasih ya
shel” ia tersenyum.
“makasih buat apa gar?”
“makasih, dari kata-kata kamu yang udah kamu nyatain di depan orang
banyak di acara yang kamu buat itu dan tanpa suratan, itu diam-diam kamu
buat untuk aku kan? Aku udah yakin sama perasaan aku selama ini shel,
yakin bahwa perasaan kamu gak pernah nyia-nyiain aku. Swekarang hati aku
bukan separuhnya buat kamu shel, tapi sepenuhnya. Dan kamu sekarang
juga gak sendiri tapi berdua dengan hati. Tapi yang jelas sekarang kamu
udah berdua dan bertiga sama hati kita”
“edgar..” rengek shela.
Dalam keheningan malam itu, edgar tanpa sadar telah menyatakan
kecintaannya kepada shela. Dalam peluk hangat yang mereka ciptakan,
semua yang shela pertahankan selama ini tidak sia-sia. Cinta tak kan
salah. Tak akan salah untuk percaya, yakin, bertahan, sakit.
Kalian harus yakin, bahwa kepercayaanlah yang membawa kalian pada keindahan. (shela)
Cerpen Karangan: Nia Anisha
blog: niaanishaa.blog.com
twitter: @niaanishaa
Orang yang belum mampu bangkit dari manis pahitnya masa lalu belum tentu
orang yang bodoh. Ia bisa memberikan sesuatu yang manis juga untuk
orang lain.
0 komentar:
Posting Komentar