Kamis, 03 Oktober 2013



Aku merindukanmu, sangat sangat merindukanmu. Andai waktu dapat berputar kembali kuingin mengulang masa-masa indah kita dulu. Kutahu semua itu tak mungkin, tapi aku amat merindukanmu. Bayanganmu mulai redup, wajahmupun tak nampak dalam mimpi malamku. Jika aku boleh memilih aku ingin ikut bersamamu. Tapi, aku sadar aku tak hidup sendiri aku masih mempunyai keluarga yang menyayangiku serta sahabat-sahabatku.

“Na, makan dulu sudah seharian kamu belum makan” ucap ibuku lembut sembari menghampiriku dan menyentuh bahuku. Aku tersenyum menatap wajahnya, kuangkat tubuhku dari atas ranjang. Memang seharian ini aku tak keluar kamar sama sekali.
“Bu, Ria sama beby belum datang?” aku menanyakan kedua sahabatku pada ibu, biasanya mereka datang ke rumah tiap hari.
“belum, mungkin sebentar lagi” jawabnya sambil memberikan sepiring nasi goreng padaku. Aku mengangguk paham dan tersenyum pada ibu. Kemudian Ibu berlalu dibalik pintu dapur.

Kuhabiskan nasi goreng yang dibuatkan ibu, jujur aku memang sangat lapar. Sehabis makan aku menuju ruang tengah menunggu Ria dan Beby. Aku berhenti di depan sebuah foto berukuran 10R yang dipajang lanscape di dinding ruang tengah. Aku tersenyum bahagia melihat foto itu, kutunjuk satu persatu siapa saja yang ada di dalam foto. Foto ini diambil saat kami liburan sekolah 1 tahun silam. Bima, Ria, Beby, Dino, aku dan _ Rama _ ya saat itu kami sedang berlibur di pantai. Tentunya saat itu kebahagiaanku masih utuh karena ada Rama kekasihku, kini hanya kenangan-kenangan indah yang tersisa. Aku sepenuhnya merelekan kepergiannya karena aku yakin ini memang sudah takdir sang pencipta. Rama meninggalkan kami semua karena kecelakaan maut yang merenggut dia dan keluarganya. Padahal saat itu kami akan melaksanakan ujian nasional tingkat SMA.

“Dyana…!” teriak beby dari halaman rumahku, sedangkan Ria masih memarkir sepada motornya. Akupun berjalan menuju teras rumah.
“jreng… jreng… liat?” beby menunjukan poster untuk pertunjukan Drama Musical di kampus kami. “bagus kan?” Ria meminta pujian dariku. Mereka bedua memang ditugaskan untuk bagian promosi, mulai dari poster dan undangan mereka yang mengurusnya. Sedangkan aku mendapat bagian mengurus dekorasi panggung.
Aku mengamati poster buatan mereka, beby nampak tegang menunggu komentarku. Memang kami sama-sama kuliah jurusan design tapi menurut mereka pengamatan designku lebih baik dari mereka.
“Bagus kok” ucapku. Ria dan beby tampak senang dengan ucapanku.
“makasih Dyana” ucap Ria, mereka langsung memelukku.
“hoy.. hoy.. lepasin. Gak bisa nafas!” teriakku. Mereka malah tertawa.

Aku, Ria dan Beby kuliah di kampus yang sama, sedangkan Bima dan Dino kuliah di luar Kota. Jadi kita bertiga seperti Trio Cejo (Cewek Jomblo), ya meskipun Ria dan Beby harus Long Relation dengan cowoknya, tetapi mereka berdua Setia. Aku harap hubungan sahabat-sahabatku akan selalu abadi.

Pertunjukan Drama Musical memang masih 3 hari lagi tapi kami para panitia mulai bersiap-siap mempersiapkan semuanya.
“Na, tolong kamu kamu ambilin beberapa poperty yang masih di ruang rapat” pinta Noy, dia adalah ketua panitia Pertunjukan Drama Musical.
“iya” akupun bergegas menuju ruang rapat. Ada 4 kardus besar berisi barang poperty yang harus dibawa ke panggung tapi aku tak mungkin membawanya sekaligus, ini terlalu banyak.
“gak kurang banyak nieh!” pekikku
“mau aku bantu?” tanya seorang cowok yang tiba-tiba muncul di belakangku. Ternyata Arjuna, dia menawarkan diri untuk membantuku.
“Nggak usah, aku bisa sendiri” jawabku tegas walapun ucapanku berbeda dengan keadaan yang terlihat, Arjuna langsung mengambil kardus-kardus tersebut tanpa bicara lebih lanjut dan hanya menyisakan satu kardus untukku.
“Heeeiii…” protesku
Arjuna tak menggubris ucapanku, dia malah berjalan cepat menuju panggung. Akupun hanya mengikutinya.
“aku kan sudah bilang aku bisa sendiri kok”
Arjuna hanya diam sambil menata kardus-kardus tersebut di atas panggung. Lalu Arjuna menatapku dingin. Aku terkejut dengan tatapannya, akupun terdiam.
“terima kasih kembali” ucap arjuna, kemudian pergi. Aneh.
“hoy.. terimakasih!” teriakku kemudian.

Setelah persiapan untuk Pertunjukan hampir selesai, sekarang tinggal menunggu hari H-nya, ya walapun belum selesai semuanya.
Kegiatan favoritku setelah pulang dari kampus adalah mampir ke Toko Buku dekat rumahku.
“Life is Miracels… Life is Miracels…” gumamku sambil menjelajahi rak buku.
Ini dia!
Saat aku hendak mengambil buku tersebut, ada satu tangan lagi yang secara bersamaan yang juga ingin mengambilnya. Seperti adegan dalam film-film saja. Akupun menoleh pemilik tangan tersebut.
“Arjuna” Pekikku dengan nada kecil
“seperti melihat hantu saja” komentar arjuna sambil tersenyum, tetapi dia masih tak melepaskan tangannya dari buku tersebut.
“kamu kok disini?” tanyaku bingung
“memangnya tak boleh? Inikan tempat umum”
“bukan begitu! Maksudku…”
“kenapa kok Toko buku ini, kamu gak nyadar rumah kita kan satu komplek” potong arjuna sebelum aku melanjutkan ucapanku. Akupun hanya tersenyum.
“tapi bisa gak lepasin bukunya?” pintaku
“ini?” arjuna sepertinya menimbang-nimbang ucapanku
“please” pintaku lagi. Akhirnya dia melepaskan bukunya.
“Thanks” akupun tersenyum pada arjuna dan langsung menuju ke kasir.
Ketika aku keluar dari toko buku, ternyata arjuna masih ada.
“mau aku antarin pulang?” tanyanya
“gak usah deh” tolakku halus
“Okey” dia mengangkat bahunya dan tersenyum.
Akupun berlalu meninggalkan arjuna.

Manis. Ternyata Arjuna kalau tersenyum tambah manis dan Cool. Oh my God ada apa denganku, kenapa aku terus-terusan teringat dengan Arjuna.
“Rama, kenapa akhir-akhir ini bayanganmu mulai hilang. Padahal aku tak ingin kehilangan semua tentangmu” aku menarik nafas dalam-dalam, menahan air mataku. “Apakah kamu disana masih mengingatku?” air mataku tak dapat kutahan “kenapa sosok Arjuna mulai hadir dalam fikiranku, kenapa denganku?” kutatap foto Rama, dia masih tersenyum padaku.
“Rama, bolehkah aku mencintai orang lain selain kamu?” sungguh pertanyaan yang konyol, fikiranku mulai kacau.

Sehari sebelum Pertunjukan Drama Musical, Aku Ria dan Beby hang out ke cafe.
“kamu lagi mikirin apa sih Na?” tanya Ria tiba-tiba, Beby ikutan mengamatiku
“enggak ada kok, perasaan kamu aja kali” elakku
“Na, kita udah kenal kamu lama, ada apa ngaku?” kali ini beby yang angkat bicara
Aku tak dapat mengelak dari sahabat-sahabatku, mereka sudah tau tentangku karena dari kecil kami selalu bersama.
“salah-kah aku me-nyukai orang lain?” ucapku gugup. Ria dan beby saling berpandangan, sejurus kemudian mereka Tersenyum.
“kamu lagi suka sama seseorang?” terka Beby
“Siapa Na?” timpal Ria. Aku hanya terdiam
“Na, siapa yang ngelarang kamu suka sama orang lain, gak ada. Apa kamu masih tak sanggup melepaskan Rama, aku yakin Rama pasti ngerti_ mungkin ini saatnya kamu membuka hatimu” lanjut Ria. Beby mengangguk meng-iyakan ucapan Ria.
“karena selamanya Rama akan selalu di hatimu, tak akan kemana-mana” Ria memegang bahuku. Aku mengangguk pelan.
“Tapi, kalau kamu suka sama orang lain, Kamu jangan pernah lupain Rama. Ingat Rama itu sepupu aku, kamu jangan bikin dia sedih di alam sana” Ancam beby dengan tersenyum.
“Apa-an sih Beb. Ngaco!” komentar Ria. Beby hanya Manyun.
“Iya, Aku akan selalu mencintai Rama kok” ucapku tegas
“ngomong-ngomong, emang siapa yang kamu suka?” tanya Ria. Aku berfikir ‘jawab, tidak, jawab, tidak’
Mereka berdua menunggu jawabanku.
“Cari aja sendiri” ucapku menggoda mereka
“Yeeeaaah” seru Ria dan Beby

Akhirnya Pertunjukan Drama Musical dimulai, setidaknya tugasku sebagai bagian Dekorasi panggung Kelar, tinggal para pemain dan pengisi acara yang unjuk Gigi. Awalnya aku disuruh untuk menjadi pemeran dalam drama, tapi aku langsung menolaknya karena aku tidak PD tampil di depan orang banyak.
“haiiisssh” seseorang menabrak tubuhku, sepertinya dia tergesa-gesa
“Sory” ucapnya
“Ar-juna” aku menatapnya “kamu ngapain disini? Seharusnya kamu duduk di bangu penonton” ucapku. Arjuna tak menggubris ucapanku, dia hanya tersenyum dan berlalu meninggalkanku.
“Selalu” gumamku
“Apanya yang selalu Na?” tanya Beby yang tiba-tiba merangkulku dari belakang. Aku hanya menggeleng. Kemudian kamipun menuju depan panggung.

Kenapa setiap Arjuna tersenyum aku teringat oleh Rama_ Aku mengenal Arjuna cukup lama tapi kenapa aku baru sadar kalau Arjuna mirip dengan Rama. Senyumannya, Sikapnya yang Cuek. Semua terasa Mirip.
Aku, Ria dan Beby berdiri di belakang bangku penonton untuk menyaksikan pertunjukan. Karena kami bagian dari panitia jadi tidak kebagian tempat duduk. Sampai hampir akhir acara kami masih setia berdiri walaupun kakiku sedikit kesemutan.
“Okey, sekarang sambut penampilan terakhir dari Arjuna Cs, berikan tepuk tangan!… wuuuu” ucap si Pembawa acara.
“WOOOOW” seru Ria dan Beby. Aku hanya melongo. Arjuna Cs. Sejak kapan Arjuna punya Band.
“Keren..!” teriak Beby
“Selamat Malam semuanya… lagu ini kupersembahkan untuk seseorang yang membuatku jatuh cinta saat pertama kali aku melihatnya, hari ini, besok, dan seterusnya. Dyana Sastika” ucap Arjunya, sambil menatapku dan memberikan senyuman termanisnya.
“wuuuuuu” riuh teriakan para penonton. Lagu ‘A Thousand Years’ akhirnya dinyanyikan oleh Arjuna Cs.
Akupun hanya dapat tersenyum, menatap sosok yang selalu memberikan senyuman termanisnya. Tanpa sadar aku juga seperti melihat sosok Rama di atas panggung, dia menatapku dengan Tersenyum.
“Na, dia?” tanya Ria, di antara riuhan para penonton yang sangat antusias dengan Arjuna Cs.
Aku hanya mengangguk. Lalu Ria memelukku, Beby yang melihat kami berdua berpelukan ikut-ikutan memelukku.
“Dalam rangka apa nieh kita berpelukan?” ucap Beby. Dasar Beby Lemot. Aku dan Ria hanya tertawa.

Malam semakin larut aku, Ria dan Beby hendak pulang bersama-sama. Namun semua berubah 180o saat Arjuna datang.
“Emmm, kayaknya kita gak bisa pulang bareng deh Na” ucap Ria dengan nada menyesal yang dibuat-buat.
“Lho, memang kenapa?” tanya Beby. Yang tak mengerti maksud Ria.
“udah kita pulang berdua aja, okey beb” Ria menarik Beby, Beby hendak protes tapi Ria menutup mulutnya dan menariknya dengan paksa.
Aku yang melihat ulah Ria tertawa kecil. Tak sadar kalau arjuna sudah berdiri di sampingku.
“Jadi?” ucap Arjuna
“Jadi apanya?” tanyaku pura-pura tak mengerti maksud Arjuna.
Dia malah menggaruk-garuk kepalanya.
“Aku memang tak dapat menggantikan Rama, tapi izinkan aku menemani hari-harimu” ucapan Arjuna membuatku membatu. Dia mengetahui tentangku lebih dari yang kubayangkan.
“Apa tadi Norak?” tanyanya padaku “bikin malu kamu ya?” Aku tersenyum mendengar pertanyaan Arjuna.
“Sedikit bikin malu aku sih” ucapku cuek “tapi itu cukup buat membuktikan perasaanmu”
Arjuna mengangkat alis. “So?”
Aku menghela nafas,
“thanks, aku sangat tersanjung” ucapku kemudian.
Arjuna menarik tanganku dan menggemgamnya. Aku tersenyum padanya.

Akhirnya Kebahagiaanku Utuh kembali. Aku punya Keluarga, Sahabat, Arjuna dan Rama yang akan selalu di hatiku.

Selesai (Ganbatte!!!)

Cerpen Karangan: Anitrie Madyasari
Facebook: Anitrie Ganbatte Pholephel



Aku meniti jalan ini lagi. Kali ketiga dalam satu hari ini. Aku tahu sebenarnya banyak jalan-jalan lain yang tidak pernah macet dan jelas akan sangat menghemat waktu perjalananku pulang dari kantor, tapi jalanan ini berbeda. Aku bahkan rela terkena macet 30 jam dalam sehari di jalan ini. Sangat, sangat rela. Malah aku sedang dengan sengaja terkena macet di jalan ini sekarang. Juga berputar-putar dengan sengaja. Unik sekali bukan?

Apa yang salah dengan jalan ini? Tidak ada yang salah. Hanya hatiku yang salah. Hatiku harusnya kusut pasai terkena macet panjang, dengan bis-bis pariwisata, bis dalam kota, angkutan-angkutan umum, taksi-taksi, mobil-mobil pribadi dan kendaraan bermotor yang harus berebut jalan. Merangkak perlahan-lahan. Harusnya hatiku kusut dan emosiku meluap karena ingin cepat sampai – seperti kemarin-kemarin. Tapi tidak dengan tiga hari terakhir ini. Malah aku dengan bahagia, bersiul-siul rendah sangat menikmati keadaan yang panas-pengap akibat berebut oksigen dan perjalanan yang tiga kali lipat lebih memakan waktu. Menikmati setiap detiknya.

Apa yang terjadi? Em… tidak ada. Kecuali hatiku yang macet berfungsi bersamaan dengan macetnya jalanan ini. Macet oleh perasaan aneh yang membuang semua kewajaran saat aku sedang terkena macet. Macet terhadap semua gundah, semua kesal, semua emosi. Macet karena bunga-bunga cinta dari seorang Polisi Lalu Lintas yang menanggulangi macet. Kukira jika aku tidak terkena macet, satu hari saja, bisa jadi jantungku yang macet berfungsi.

Aku tidak tahu namanya. Pokoknya polisi itu selalu berdiri di sana. Di ambang salah satu jalan Simpang Lima yang menuju Banyumanik – jalur yang paling banyak dituju untuk meninggalkan Semarang, dan mengintruksi kendaraan yang berlalu-lalang, kapan harus maju, kapan harus berhenti. Dia menggantikan fungsi lampu lalu lintas yang sementara ini sedang diperbaiki. Gadis muda sang Polantas itu tidak terlihat lelah sama sekali, senyumnya selalu merekah saat mempersilahkan pengendara maju, atau berhenti. Peluit selalu tersemat di pundaknya. Terlihat begitu anggun dan mempesona. Padahal langit sudah semakin gelap. Awan merah mulai berarak lembut di langit, disusul panggilan sholat yang bersahut-sahutan. Dalam hati aku berdo’a, terus berdo’a supaya Tuhan mengizinkan aku mengenalnya lebih dekat. Juga supaya Dia memberiku kesempatan bertatapan langsung dengannya dan menanyakan namanya. Juga mengizinkan aku menjadikannya pendamping hidupku. Memangnya aku bisa minta pada siapa lagi selain pada-Nya?

Sampai di jalur Banyumanik itu aku melirik sang Polwan, dia menghentikan laju mobilku dengan aba-aba, dan senyumannya nyaris menghentikan laju jantungku. Di dada kirinya tersemat papan nama kecil bertuliskan “Raya”. Ternyata itu namanya. Pantas saja semesta raya seolah tertawan olehnya. Ah, puitis sekali aku hari ini.

Sebenarnya aku punya beberapa kali kesempatan untuk menegur Raya. Bagaimana tidak? Aku sudah berputar tiga kali dalam sehari di Simpang Lima selama tiga hari berturut-turut. Bahkan terkadang lebih. Tapi entah kenapa, hanya melihat senyumnya saja kakiku langsung lemas, jantungku mendadak malas berdetak – hingga jadi sesak, lidahku kelu, otakku jadi lambat berfikir dan tidak mampu mengingatkan bahwa kesempatan mungkin tidak akan datang dua kali. Aku sering khawatir Raya berhenti bertugas di situ, atau khawatir lampu lalu lintasnya selesai diperbaiki. Karena jika itu terjadi, aku tidak akan lagi punya kesempatan untuk melihat Polwan-ku. Agaknya aku adalah satu-satunya pengguna jalan yang berdo’a supaya jalanan ini tetap macet. Setidaknya sampai aku bisa mengenal Raya lebih dekat. Memang do’a yang egois dan menyusahkan pengemudi lain yang melintasi jalan ini, tapi sekarang aku memang sedang ingin egois. Aku butuh jadi egois saat ini.

Sekali lagi aku berputar di Simpang Lima, kemudian kubelokkan mobilku ke masjid Baiturrahman yang megah dengan arsitektur jawa joglonya menghiasi perkotaan yang mulai ditumbuhi gedung-gedung pencakar langit, Mesjid tersebut berada di sisi jalur bundaran Simpang Lima, aku memarkirkannya di dekat menara. Selepas sholat, aku terpekur cukup lama di hadapan Tuhan. Meminta banyak hal dan terutama meminta Raya. Tuhan, hanya Engkau-lah yang bisa mengabulkan permintaanku, tolong izinkan aku mengenal sosok Raya lebih dekat, mengetahui asal-usulnya. Tuhan, jadikan Raya adalah tulang rusukku yang hilang, lalu kembalikanlah padaku secepatnya.

~ Raya ~
Harusnya aku mengundurkan diri tiga hari yang lalu. Meninggalkan jalanan macet ini dan rutinitasku di tengah-tengahnya. Ibuku sudah meminta itu sejak satu tahun yang lalu, dan aku sendiri sudah membulatkan tekad untuk melengkapi keislamanku yang baru seumur jagung dengan jilbab secepatnya. Maka saat instansiku tidak mengizinkan niatku ini, aku memutuskan untuk mengundurkan diri. Menurutku begitu lebih baik, toh aku tidak bisa terus berada di tengah jalanan seumur hidupku.

Sejatinya aku menikmati pekerjaanku. Setiap mobil yang melaju perlahan berdesakan, klakson-klakson yang beradu di langit jalanan, wajah-wajah emosi tidak sabaran, muka-muka ketus dan masam, dan kadang umpatan-umpatan sopir kendaraan. Seperti casting pertunjukan drama dimana semua orang diminta untuk memerankan tokoh antagonis. Kadang aku berfikir bahwa mereka seolah berebut menjadi yang terbaik dalam adegan klimaks sebuah sandiwara. Pasti sebelum terkena macet mereka tertawa, tersenyum, bahagia, dan sudah membayangkan wajah-wajah yang menanti mereka di tempat tujuan. Atau mungkin sudah mengilustrasi hidangan yang dipersiapkan seseorang di rumahnya sana. Maka aku berada di sini, di tengah jalanan ini, kadang tidak lagi karena tuntutan profesi, namun lebih karena panggilan hati untuk membantu orang-orang yang kesulitan melintas akibat macet itu agar segera sampai ke tempat yang menjadi tujuan mereka masing-masing.

Namun aku agak heran. Ada sesuatu yang menahan pengundur-dirianku, sesuatu itu agak berbeda. Dan membuat aku masih ingin bekerja di bawah terik matahari jalanan. Rasa penasaran pada satu sosok unik yang baru kali ini aku temui dari sekian banyak pengguna jalan yang selalu berganti-ganti sepanjang profesiku. Satu dari ribuan wajah-wajah yang masam, ketus, emosi, dan malah mengumpat, ada wajah yang tampak begitu tenang mengemudikan mobilnya, begitu santai dan menikmati kemacetan ini. Sejak tiga hari yang lalu aku merasa ada sepasang mata yang memperhatikan aku. Dan bukannya aku tidak tahu, sepasang mata milik pemuda tampan bermobil hitam dengan plat nomor H 679 AR itu terus melewati jalan ini tiga kali dalam sehari. Dengan wajah yang damai dan pandangan matanya yang tajam, seolah mengawasiku dengan lembut, hanya memandang saja dari jauh. Aku selalu berusaha mengacuhkan, tapi tatapan itu selalu terarah kemari. Kalau dipikir, gadis mana yang tidak tertawan oleh tatapan penuh makna seorang pemuda tampan seperti itu? Di antara puluhan pasang mata lain yang dalam sehari penuh menghujam, menyalahkan dan seakan meminta pertanggungjawaban atas jalanan yang selalu macet. Satu-satunya pengendara mobil yang tersenyum balik saat aku mengaba-abakan dia berhenti, atau maju.

“Raya, mau sholat dulu? Saya sudah. Saya bisa menggantikan kamu,” seorang rekanku menegur. Aku segera tersadar dari lamunan panjang. “Ah, iya. Terima kasih,” sahutku seraya tersenyum dan mempersilahkan rekanku itu menggantikan. Aku berjalan menuju masjid Baiturrahman yang letaknya paling dekat dengan posisiku saat ini.

Mobil hitam H 679 AR terparkir manis di samping menara masjid. Mungkin pemiliknya sedang menunaikan ibadah di tempat yang kutuju. Jika mengingat pemuda dengan sepasang mata teduh dan pandangan tajam itu, aku seperti menemukan sesuatu. Ada sesuatu dengan pemuda ini, yang tidak bisa aku definisikan apa, tidak mampu aku pahami kenapa. Namun setiap melihat wajahnya, aku merasa akan dekat dengannya, seperti sinyal yang mengidentifikasi bahwa akan ada ikatan dengannya. Hmf, aku tersenyum sendiri. Lucu dengan pikiran anehku. Kenal dengannya saja tidak, malah aku juga tidak tahu namanya. Tapi agaknya perasaan ini kuat sekali.

Selepas sholat, aku memohon ampun pada Tuhan, lalu meminta banyak hal dalam do’a panjangku pada-Nya. Dan hatiku tidak bisa kucegah, aku juga meminta pemuda itu pada-Nya, memangnya aku bisa minta pada siapa lagi jika bukan pada-Nya?. Ya Rabb.. Jika memang pemuda unik itu akan menjadi seseorang yang berarti di kehidupanku nantinya, maka mudahkanlah jalan kami, Ya Rabb.. perkenalkan aku padanya, dan dekatkanlah kami dengan cara-Mu.

Di depan masjid.
Tidak biasanya Adjie berlama-lama duduk di depan masjid. Meskipun dia memang sering berjama’ah maghrib di masjid Baiturrahman itu sejak terkena macet satu bulan yang lalu, dia biasanya langsung buru-buru pulang. Tidak terpikir sedikitpun untuk menyapa dan berbincang sebentar dengan sesama jama’ah. Tapi hari ini berbeda. Adjie bahkan sempat duduk lama dan mengobrol dengan seorang pemuda yang sepertinya seorang pegawai salah satu perusahaan sekitar Simpang Lima, terlihat jelas dari penampilannya.

Pemuda tersebut pamit, dan meninggalkan Adjie yang masih enggan beranjak dari tempat duduknya. Dan yang tidak pernah Adjie sangka, sang bidadari yang sudah tiga hari membuatnya rela berlama-lama dalam macet, dan menyengajakan diri terkena macet di jalur pantura itu duduk di sampingnya, tidak sampai satu meter, dan tanpa terhalang orang lain. Bidadarinya dengan wajah yang segar akibat air wudlu tampak semakin ayu terkena tampias sinar lampu. Dia sedang mengenakan sepatunya.

Adjie berhitung dengan waktu, satu, dua, tiga.. dia mulai gugup. Raya tampak tidak sadar ada seseorang yang kelimpungan di sampingnya, berdebar, senang, khawatir dan entah apalagi. Seseorang yang sedang ragu-ragu hendak menyapa. Tapi Adjie juga sadar, terlepas dari kesempatan ini, mungkin kesempatan lain tidak akan pernah datang lagi. Kapan lagi dia bisa duduk sedekat ini dengan sang pujaan hati? Kapan lagi dia bisa bertemu Raya? Siapa yang bisa menjamin kalau lampu lalu lintas akan tetap diperbaiki esok hari? Siapa yang bisa menjamin bahwa besok Raya masih bertugas di jalan yang sama? Di simpang Lima? Bagaimana jika tiba-tiba Raya pindah tugas ke kota lain? Dalam hati Adjie mulai panik. Lantas berkata pada dirinya sendiri, menyalahkan kesempatan yang datang tapi juga mensyukurinya bersamaan. “Kenapa harus secepat ini? Ini juga terlalu dekat, aku belum punya persiapan sekarang.. tapi jika tidak sekarang, kapan lagi?”

Raya mengenakan sebelah sepatunya yang lain. Sedang Adjie masih belum memiliki persiapan yang cukup. Dia masih menghitung waktu, masih mencoba mencari kata-kata yang cocok untuk digunakan sebagai sapaan. Sejujurnya dia tidak pernah segugup ini sebelumnya, padahal hanya untuk mengatakan ‘hai’ atau sapaan lain, padahal biasanya dia mampu bicara lugas dan tegas dengan lantang di hadapan umum. Mempresentasikan proyek yang dikerjakannya dengan sempurna. Tapi urusan cinta… ternyata lain ceritanya.

Raya hampir selesai mengenakan kedua sepatunya. Hanya tinggal beberapa menit kesempatan yang tersisa. Padahal lidah Adjie masih kelu. Tapi dia harus bertindak atau tidak ada kesempatan lain sama sekali.
“Assalamu ‘alaikum, Bu Polwan?” sapa Adjie. Akhirnya keberanian untuk menyapa dia dapatkan juga, mungkin karena biasanya dia tidak acuh dan tidak pernah peduli dan menyapa seorang gadis maka untuk memulai sebuah percakapan bahkan lebih sulit daripada mengerjakan rumus matematika manapun. Enggan dan memang tidak berani.
“Alaikumussalam..” jawab Raya. “Saya tidak asing dengan wajah anda, sepertinya anda langganan macet di daerah saya ya, Pak?” lanjut Raya membuka obrolan. Adjie tertawa malu saat tahu bahwa Raya ternyata menyadari tindakannya tiga hari terakhir ini. Di luar dugaan Raya, ternyata kesempatan itu datang. Kesempatan yang tidak disangka Raya akan bisa dia dapatkan begitu cepat, hanya berselang belasan menit yang lalu dia meminta pada-Nya. Benarkah sekarang sudah terkabul? Apa ini cara-Nya memperkenalkan mereka?
“Saya Adjie, Bu Raya,” kata Adjie memperkenalkan diri. Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
“Wah.. kok anda sudah tahu nama saya?” Raya terkejut. Namun kemudian Adjie menunjuk papan nama yang tersemat di seragam gadis itu. Raya tertawa menyadarinya.
“Saya suka lupa saya sudah mempublikasikan nama di seragam saya.” Lanjut Raya. Masih diselingi tawa.
“Berapa lama tinggal di Semarang?”
Adjie mengerutkan kening. Seolah berfikir, “seingat saya sejak kecil, usia 10 tahun kayanya..” Raya manggut-manggut mengerti. “Sudah hafal Semarang dong ya..” gadis cantik itu berkomentar. Adjie mengangguk mantap mengiyakan. Dia memang orang Semarang asli, hanya saja ayahnya sempat dipindah tugaskan ke Blora dan dia baru kembali ke kota Atlas ini pada usia 10 tahun.
“Ngomong-ngomong, kenapa anda kayanya bolak-balik terus ya di Simpang Lima?” Raya tersenyum jail, sedangkan Adjie sudah tertawa malu dengan wajah yang mulai memerah. Tertangkap sudah.
“Saya suka lupa jalan,” jawab Adjie sekenanya.
“Ahahaha… bohong. Masa anda sudah jadi orang Semarang sejak usia 10 tahun tidak hafal jalan Simpang Lima?”
“Saya bukan tidak hafal, hanya suka lupa…” Adjie berkelit, beralasan.
Dan percakapan merekapun berlanjut dengan renyah, seolah kedua sahabat lama yang baru saja bertemu kembali setelah sekian tahun tak ada kabarnya. Percakapan itupun menjadi permulaan bagi kisah yang terukir hingga ujung usia mereka berdua.

Ada yang pernah mengatakan pada saya, bahwa do’a yang dipanjatkan untuk orang yang tidak tahu bahwa dia didoakan, akan terkabul. Saya pikir, mungkin karena do’a yang dipanjatkan keduanya adalah sama maka dua do’a itu saling tarik-menarik di langit dan kemudian terkabul dengan cepatnya. Soal bagaimana kelanjutan kisah mereka berdua, mari kita biarkan Tuhan yang menyelesaikan dengan cara-Nya.

SEKIAN

Cerpen Karangan: Aya Emsa



Aku sedang berjalan di antara kerumunan siswa-siswa lain yang ingin mengetahui bahwa mereka lulus atau tidak. Tahun ini aku sudah akan lulus dari sekolah menengah pertama. Dan saat ini adalah saat-saat menegangkan, dimana aku akan melihat hasil ujian di papan pengumuman. “Hey dev, gue lulus! Lo?”. Aku menengok ke belakang melihat temannya itu dan kemudian kembali mengamati papan pengumuman yang ada di depanku. – Devi Winata : LULUS -. “Tha.. gue juga lulus”. “wah slamat ya”. “iya tha sama-sama”. Sambil memeluk thalita yaitu sahabatku dari kecil, kemudian aku menangis dan berkata “papa dipindah tugas ke SulTeng”. Thalita menatapku “maksudnya lo bakal lanjutin SMA disana”. “ya kurang lebih kaya gitu”. “Kapan berangkat? Take care ya non”. “rencananya besok, iya calling-calling ya tha”. “iya sip”.

Aku sangat senang punya orangtua seperti papa dan mama. Papa punya pekerjaan yang penghasilannya di atas rata-rata dan mama adalah ibu rumah tangga. Papa dan mama masih sangat muda, bayangkan saja di saat aku berumur 14 tahun sekarang ini, mama dan papa masih sama-sama berumur 29 tahun. Aneh kan? Ya iya lah.. karena aku adalah anak angkat mereka. Mereka mengadopsiku saat mereka baru selesai menikah pada umur 22 tahun dan saat itu aku baru berumur 7 tahun. Mereka begitu menyayangiku seperti anak kandung mereka dan begitu juga denganku.

Sudah tujuh tahun menikah, mama tak juga hamil. Aku pernah tanya namun mama hanya menangis dan berkata “itulah sebabnya papa begitu mencintaimu dan mama begitu melindungimu”. Sedangkan orangtua kandungku meninggal saat aku berumur 5 tahun. Selama itu aku tinggal di rumah tante Desi, adik kandung mama dan juga rekan mama dan papaku sekarang. Awalnya aku sangat tidak setuju, namun aku memang sudah akrab dengan mereka berdua sebelum menjadi mama papaku, jadi mudah saja membujukku.

Tapi sebuah sisi negatif dari pekerjaan papa adalah papa selalu dipindah tugaskan kesana kemari. Dengar-dengar kabar, katanya SulTeng sangat jauh berbeda dengan Jakarta. Tapi aku tak mau ambil pusing, tinggal lihat saja nantinya.
“clara.. cepetan dong! Papa udah nungguin nih, entar kamu telat loh”. Aku bergegas memasukan peralatan MOSku dalam tas. “iya ma, bilangin papa entar lagi”. Aku buru-buru turun dan mama sedang membereskan sarapan. Untung disini tak pernah macet seperti jakarta, jadi tak perlu panik kalau telat. “mama… clara berangkat ya, makannya di sekolahan aja.. buru-buru nih”. “clara.. nih makan di mobil aja”. Mama memberikanku sebuah roti isi. Aku didaftarkan di sebuah sekolah unggulan di Palu (baru ku tau kalau Sulteng tempat ku berada adalah Palu). “Entar jangan bandel di sekolah, mama yang bakalan jemput entar”. Papa mengacak-acak rambutku yang kubuat agak aneh kali ini, karena aturan MOS yang mengharuskanku mengikat rambut sesuai umur.

“ingat pesan papa”. Papa mencium keningku, “jangan bandel kan pa? Sip bos” ku acungkan jempolku di sebelah pipiku. Aku menatap sekolah baruku, sekolahnya lumayan. Saatnya mulai beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Sungguh susah beradaptasi dengan teman-temanku disini, karena dari cara bicara saja aku sangat bingung mendengarnya.

Tiga hari menjani masa orientasi, akhirnya aku bisa bebas dari kakak kelas dan bisa menemukan teman baru. Saat Mos berlangsung, aku sering dikerjai kakak kelas karena bahasaku yang masih “lo gue end”. Apalagi kakak kelas yang bernama Gio, dia selalu membuatku marah. Dan kak gio tidak sendiri mengerjaiku, dia selalu bersama kak Puput dan kak Randy. Sungguh hari-hari yang menyebalkan.

“Hey ra, kemana kau?”. “Mau ke perpus nin”. “ikut ya”. Nina adalah temanku saat pertama kali kelas kami dibagikan. Aku berjalan bersamanya menuju perpustakaan. “eh lo gue end lewat” kukenali suara itu adalah suara kak gio, dan rupanya dia tak henti-hentinya mengejekku. Aku tak memperdulikannya dan dia mengikutiku ke perpustakaan. Saat aku sedang membaca novel di lantai perpustakaan, dia duduk di sebelahku dan menanyakan nomor teleponku. Ternyata selama ini dia mengerjaiku karena tertarik padaku, huh dasar.

Saat jalan-jalan dengan papa di Mall aku bertemu beberapa teman sekelasku dan beberapa juga kakak kelas. Mereka sesekali melirik ke arah papa ketika sedang makan di KFC. Mungkin karena melihat papa yang memang sangat tampan. Sehingga saat bertemu dengan mereka di sekolah keesokan harinya, banyak yang bertanya-tanya siapa cowok yang jalan denganku kemarin dan pada saat aku bilang dia adalah papaku, mereka gak percaya padaku. Dan satu pertanyaan yang membuatku merasa geli sendiri “clara.. kau sudah punya pacar? Kenapa kau tak bilang-bilang? Sakit hati saya”. Heh? Ngapain coba kak gio pake ngomong sakit hati segala, memang kita pernah jadian. Setelah kujelaskan dia sempat tak percaya, namun aku mencoba menjelaskan dan menunjukan foto-foto yang ada di handphoneku barulah dia percaya.

“Clara.. ada yang nyariin kamu tuh”. “siapa sih pa?”. Sambil berjalan menuju ruang tamu aku mencari-ccari sosok papa yang memanggilku. “Eh kamu, ngapain?”. “aku kan pengen kenalan sama papa mama kamu!”. “ihh.. kamu udah bisa ngikutin bahasa aku ya? Belajar dari mana tuh?”. “gak tau ya ra, aku kan emang dari jakarta juga, cuman mama emang orang sini.. tapi tiap liburan ke jakarta juga kok sama orangtua papa”. “oh gitu.. syukur deh! Biar aku tak susah bicaranya”. Tiba-tiba papa datang membawakan minuman dan cemilan, “non.. makanannya nih”. “ih.. papa bikin malu aja, sana-sana-sana”. “aduh putri papa malu-malu”. “papa…”. papa pergi meninggalkanku yang merona karena malu bersama kak gio. “mamanya kemana?”. “oh mama ya.. mama lagi ke dokter tadi katanya, biasa ibu-ibu”. “trus kenapa papanya gak nganterin?”. “kan lagi jagain aku..”. kataku polos, tak sadar kak gio melihatku terheran-heran. “udah besar gini masih dijagain?”. “emang siapa yang mau dijagain? Mama sama papa tuh yang gak bisa jauh-jauh dari aku”. Kemudian papa menjawab dari ruang keluarga “papa denger nih”. “papa nguping nih”. Aku berteriak pada papa. “Lucu banget ya kamu sama keluargamu, seru”. Kami berbincang-bincang sampai mama pulang, dan kak gio kaget melihat mama yang masih muda dan cantik.

“sayang.. yang tadi siang itu pacar kamu ya?”. “mama apaan sih? Emang gak boleh ada temen cowok yang datang selain pacar aku ya?”. “ya enggak.. kayanya dekat gitu, anaknya juga keliatan baik. Bener gak pa?”. papa yang sedang sibuk dengan daging kepiting yang ada di depannya kemudian melirik mama yang sedang main mata pada papa “iya.. kelihatannya bertanggung jawab”. “gak penting ahhh”. Mama dan papa tertawa bersama-sama melihat anaknya yang salting kemudian menjulurkan lidah mereka bersama-sama pula, ihh kayak anak SD aja bikin ilfil. Dasar mama sama papa emang gila.

Sejak kedatangan kak gio di rumahku waktu itu, aku semakin dekat dengannya dan orangtuaku juga tak melarang jika dia yang mengajakku keluar. Tapi aku menyukai kakak kelasku yang bernama edo, sejak MOS aku memang selalu meliriknya. Aku menganggap kak gio hanya seperti kakakku, karena kelihatannya mama dan papa juga menyukainya. Aku memang menyayangi kak gio namun aku mencintai kak edo.

Aku berhenti di depan loker kak edo, entah apa yang kupikirkan. Aku terdiam disitu cukup lama, sampai seseorang datang padaku “menghayal?”. “ehh.. iya.. eh gak kok cuman lagi ngehafal rumus fisika”. “oh..” kemudian dia meninggalkanku yang terpana saat itu. Mulai saat itu aku berpikir aku bisa dekat dengannya.

“Gio.. tungguin”. Kak gio yang baru saja naik di atas motornya yang besar itu melihatku dan menaruh kembali helmnya. “kenapa lo gue end?”. “anterin pulang ya, mama lagi sibuk katanya”. “boleh-boleh aja, asalkan ini dulu”. Dia menunjuk pipinya, menyuruhku untuk mencium pipinya. “gak mau ahh.. tungguin papa jemput aja kalo gitu”. Aku menelepon papa, dan katanya tunggu sebentar aja. Aku duduk di parkiran saat itu, kak gio menghampiriku dan menempelkan minuman dingin yang dia bawa di pipiku. “minum nih”. aku mengambil minuman itu dan segera kuminum karena memang dari tadi aku sudah haus berat. “gak pulang?”. “dikit lagi deh, nungguin kamu pulang”. Dasar sok kenal sok dekat, tapi emang gitu sih hehehe. Aku terpaku sesaat melihat kak edo lewat dengan motor yang sama besarnya dengan milik kak gio. Biiiip… dia mengklakson pada kami. “kamu denger gak? Dia nglakson aku, berarti dia kenal dong sama aku”. “dasar ge-er, dia temen sekelas aku”. “ya… kenalin dong”. “kamu suka sama dia ya?”. “iya.. naksir berat malah, udah dari pertama masuk sini kali aku naksirnya”. “aku coba ya”. Aku melihat ada sedikit kekecewaan yang terlukis di wajahnya, aku sedih melihat itu. Namun aku kan hanya mencoba jujur padanya. Setelah perbincangan itu kami hanya terus diam sampai papa tiba di sekolah.

Kak gio menepati janjinya padaku, dia benar-benar mengenalkanku pada kak edo. Kak edo baik plus pinter. Dia juga pernah datang ke rumah sekali dan papa mama juga menyukainya, tapi kata mereka kak gio yang lebih baik. Aku berkencan dengan kak edo, dia menembakku tapi aku minta sedikit waktu berpikir. Setelah itu aku langsung menelepon kak gio, aku meminta pendapatnya. Dan aku mendapat jawaban seperti ini “aku juga mencintaimu, tapi aku rela asalkan kau bahagia bersamanya, tut.. tut..tut..” telepon diputuskan. Mendengar pernyataan dari jawabannya itu, aku sangat yakin bahwa dia benar-benar mencintaiku dan aku yakin dia tak rela karena dia masih menggunakan kata “ASALKAN”. Jika dia memang rela, apapun yang terjadi padaku entah bahagia atau menderita dia tak akan peduli lagi. Namun dari kata-katanya dia menuntut agar aku bahagia.

Aku pusing dan tak bisa tidur. Aku pergi ke kamar mama dan papa. “papa.. mama.. papa.. mama…”. “iya sayang, masuk”. Aku langsung terjun ke springbed mereka dan aku mengambil posisi di tengah mama dan papa. Papa sedang sibuk dengan laptopnya, sedangkan mama sedang membaca majalah “clara mau cerita nih!”. “iya sayang, kenapa?”. Mama dan papa meninggalkan aktivitas masing-masing dan mulai mendengarkan ceritaku. Mama dan papa bilang kalau aku harus mendengarkan kata hatiku, daripada nantinya aku menyesal. Dan malam ini aku mendengar sebuah kabar yang menyedihkan. Papa dan mama akhirnya menceritakan semua rahasia yang telah lama terpendam. Aku memang benar-benar anak papa, mama kandungku hamil dengan papaku yang sekarang, saat itu papa beerumur 17 tahun dan mama memang sedang kuliah. Sedangkan mamaku yang sekarang memang tak bisa hamil karena ada kista di dalam rahimnya. Itulah arti dibalik kata “PAPA MENCINTAIKU DAN MAMA MENJAGAKU”. Papa mencintaiku karena aku benar-benar adalah anaknya dan mama selalu menjagaku karena mama tak akan pernah bisa merasakan menjaga seorang anak dari kandungannya sendiri. Dan satu lagi kabar yang berbeda, satu minggu lagi kami akan pindah lagi di Balikpapan.

Aku memutuskan untuk belum menerima kak edo. Karena aku ingin memperbaiki hubungan dan meminta penjelasan dari kak gio. Tapi apa daya dia tak lagi menghiraukanku seperti kemarin-kemarin. Bahkan kedua sahabatnya juga tak mau menegurku. Aku merasa kehilangan dihari-hari terakhirku di Palu. Papa dan mama heran melihat sikapku yang aneh akhir-akhir ini di rumah. Dan akhirnya satu hari lagi aku akan pindah, aku merengek pada mama dan papa untuk menelepon kak gio. Dan akhirnya kudengar kabar bahwa kak gio sudah berangkat ke jakarta tadi siang, katanya akan sekolah disana. Aku meneleponnya dan menangis, aku hanya meminta penjelasan dibalik kata “ASALKAN” yang waktu itu dia ucapkan. Dan akhirnya dia bilang “Jaga dirimu baik-baik”.

Setelah dua tahun lamanya kami tinggal di balikpapan, mama meninggal disana. Papa begitu terpukul begitu pula denganku. Terkadang saat papa merindukan mama, papa selalu menangis dan memelukku. Aku dan papa akhirnya pulang ke jakarta. Sekarang aku sudah mau masuk kuliah. Aku memilih UI jurusan kedokteran, karena aku ingin menyembuhkan orang yang punya penyakit seperti mama. Saat pertama masuk kuliah, inilah yang aku tak suka yaitu OSPEK. Aku malas dan malu. Nama-nama kami juga begitu aneh dan aku diberi nama lo gue end, nama yang mengingatkanku akan seseorang yang tanpa kusadari aku mencintainya dalam waktu yang lama.

Pagi ini, seperti biasanya aku diantarkan papa untuk mengikuti OSPEK. Enaknya saat OSPEK tahun ini, senior-senior perempuan menaruh perhatian lebih padaku karena aku punya papa yang keren dan tampan. Tapi tidak begitu dengan senior laki-laki, mereka begitu menyiksaku.

“Lo gue end ikut gue”. Jantungku seperti berhenti berdetak saat namaku dipanggil, bukan karena namanya melainkan karena suara yang memanggilku. Aku begitu mengenal suara itu, ternyata dia kuliah disini satu jurusan denganku. Aku mengikutinya, ternyata tempat itu hanya ada aku, dia dan beberapa orang numpang lewat. Dia hanya duduk dan diam, sedangkan aku hanya menunduk. Aku takut dia akan menyakitiku, mengingat aku sudah menyakitinya dulu. “Lo jahat!”. Aku menatap matanya, dia tertawa sinis. “maksudnya?”. “udah lama gue gak liat lo, lo gak berubah setitikpun di mata gue”. “trus kenapa gue jahat?”. “waktu lo telfon gue terakhir kali, gue sempat pulang kesana besoknya, eh.. ternyata lo udah ninggalin gue. Lo jahat tau”. “maafin gue gio”. Lama dia terdiam di hadapanku, dia seperti sedang mempertimbangkan permintaan maafku. “gini aja, karena sekarang gue senior lo.. gue mau nyuruh lo nyari 50 tanda tangan senior untuk gue maafin lo, stuju?”. Aku yang selalu nekat, menerima tantangan tersebut.

Kucari 50 tanda tangan tersebut, tapi sudah jam 04.30 sore aku baru mengumpulkan 40 tanda tangan. Tinggal 10.. semangat!, batinku. Aku melihat papa sudah datang menjemput, papa sedang berbincang dengan kak gio. Dan seperti yang kulihat mereka menertawakanku. Kini sudah jam 05.00 dan sudah 49 tanda tangan. Berarti tinggal satu tanda tangan, tapi siapa ya?. Aku meminta daftar senior, ada 50 orang memang pada jurusanku. Kubaca satu persatu, ternyata tinggal tanda tangan gio yang belum kuminta. Aku segera mencarinya “nih tinggal tanda tangan lo tau! Eh papa mana?”. “tinggal gue ya? Papa lo udah pulang tadi, katanya entar gue yang anterin lo”. “tanda tangan deh cepetan”. “tinta gue abis”. “duh penannya gue tinggal dimana ya”. Saat sedang sibuk mencari, kak gio memelukku dari belakang. “gue maafin lo, lain kali hargai perasaan gue ya, sayang tau!”. Ku balas pelukannya “mau tanya boleh? Arti kata asalkan yang dulu apaan ya?”. “tandanya gue care sama lo”. “oh.. mau nanya lagi boleh?”. “boleh.. apaan emangnya?”. “meluk-meluk aku gini udah minta izin papa belum?”. “hahahaha.. harus ya? Gue telfon skarang deh”. Aku mencubit pinggangnya “eh jangan cari gara-gara sama papa ya, entar langsung dinikahin baru tau rasa”. “Nikah juga ga apa-apa kok”. Aku tertawa bersamanya saat itu, lucu juga cerita cintaku yang plin-plan.

Cerpen Karangan: Sherly Yulvickhe Sompa
Facebook: Sherly Yulvickhe Sompa



Namamu Indah. Seperti orangnya. Indah. Cantik menawan. Kamu adalah siswi satu sekolahku. Dan, aku langsung jatuh cinta padamu. Mungkin orang beranggapan ini adalah cinta monyet, tapi ini bukan. Kalau cina monyet, aku pernah mengalaminya. Dulu, dan aku tidak ingin merasakan itu lagi. Cinta monyetku menyakitkan. Tidak, ini lebih serius dari itu. Aku merasakan hal yang sama, cuma lebih dalam.

Semakin lama, kita semakin dekat. Pulang bareng, bahkan istirahat ke kantin pun bareng. Saat ini adalah waktu yang berharga untukku, seorang remaja laki-laki yang biasa saja, tidak menarik, culun. Semakin aku mengenalmu, semakin aku kagum padamu. Setiap pulang sekolah, kamu pasti memberi sisa uang jajan kamu ke pengemis dekat komplekmu. Bukan hanya itu, bahkan setiap ulangtahun kamu tidak pernah membuat pesta. Kamu lebih memilih berbakti sosial. “Lebih bermanfaat.” katamu. Ya, kamu sesuai dengan namamu. Indah Angelia.

Pulang sekolah. Hujan. Aku melihatmu berdiri di lorong sekolah. Melihat hujan sambil tersenyum. “Kok ngeliat hujan sambil senyum-senyum gitu?” tanyaku. “Aku suka hujan. Kalau ada hujan, pasti sehabis itu pelangi. Tuhan seolah ingin menunjukkan, ada kebahagiaan sesudah masalah. Ada senyum sesudah tangis.” jawabmu. Dan kamu memejamkan mata, membawa saat saat hujan ini masuk ke memori, lalu masuk ke dalam hatimu. Dan tanpa disadari, kamu berlari, hujan-hujanan di tengah lapangan. “Hei, kamu ngapain? Cepat ke sini! Nanti kamu sakit!” teriakku. “Coba kamu ke sini! Ini asik!” kata dia sambil menarik tanganku. Aku kedinginan, tapi dia benar, ini memang asik. Dan jadilah hari itu kami hujan-hujanan, diliatin banyak orang.

Dan besoknya, kita berdua sakit. Hahaha. Tapi tak apalah. Saat hujan-hujanan itu, menjadi saat yang tak terlupakan. Meskipun dingin, tapi asyik. Dan aku merasa tenang. Seolah air menghanyutkan emosi yang ada dalam hati. Apalagi, hujan-hujanannya sama malaikat. Hahaha.

Mulai saat itu, jika hujan turun saat pulang sekolah, kami selalu hujan-hujanan. Orang mungkin menganggap kami aneh, kekanak-kanakkan. Peduli amat! Yang penting, kami berdua senang, meskipun kedua ibu kami marah-marah setiap pulang sekolah.

Hari itu, di sebuah taman. Aku yang sedang berjalan santai, mendapatimu duduk di bawah pohon. Kamu seperti sedang menggambar sesuatu. “Hai, lagi ngapain kamu?” tanyaku. “Ah, aku lagi ngegambar. Udah lama aku gak ngegambar.” jawabmu. “Coba lihat dong.” dan ternyata yang kamu gambar adalah hujan. Segitu addicted nya kamu sama hujan. Hahaha.

Beberapa saat kemudian, awan mendung berkumpul. “Udah mau hujan nih.” kataku. Kamu memperhatikan awan di atas sana. Memperhatikan, lama. Dan, hujan pun turun. Ketika itu, kamu memejamkan mata dan tersenyum. Ya, aku tahu kamu suka hujan. Dan menit berikutnya, aku dan kamu kejar-kejaran. Kayak anak kecil, kata orang. Tak apalah. Yang penting, aku dan kamu bahagia. Hahaha

Hujan masih rintik-rintik. Kita beristirahat di bawah pohon. Kita berdua kedinginan. Wajar karena hujan yang turun deras sekali. “Indah..” “Ya?” “Aku boleh ngomong sesuatu?” kamu penasaran dengan omongan ku barusan. “Boleh. Mau ngomong apa?”. Dan, kata-kata yang telah kulatih semalam suntuk, mendadak macet. Sungguh, tidak mudah untuk mengatakannya. Kamu terus menunggu, memperhatikanku dengan penasaran. Bismillah… Dan kalimat itu akhirnya terucap. Tersamarkan oleh suara gemuruh hujan. Hanya aku, kamu, pohon ini, dan Allah yang mendengar. Kamu kaget, kelihatannya kamu tidak menyangka kalimat itu akan keluar, ditujukan padamu. Dan, kamu mengangguk. Anggukan yang memberi warna baru pada hidupku, hidupmu, dan menambah satu kisah cinta di muka bumi ini.

Tapi hari itu, jam itu, menit itu, detik itu, menghentikan kegembiraan itu. Kejadian ini, tepat 2 bulan sesudah kejadian di taman itu. Kami lomba lari menuju rumah, sambil hujan-hujanan tentunya. Aku berlari di belakang kelelahan. Dia menoleh ke belakang sambil berkata “Ayo! Masa segitu doang sih? Ah payah kamu hahaha.” teriak dia sambil tertawa. Tertawa untuk yang terakhir kali. Beberapa menit kemudian, tubuhmu tergeletak. Air hujan menyapu darahmu, mengalirkan darah itu entah kemana. Sementara, mobil yang menabrakmu kabur. Pengemudi kaya tapi pengecut itu.

Kenapa? Kenapa secepat ini? Aku berlari mendekatimu. Memeluk tubuhmu yang bersimbah darah. Tangisku terhapus oleh air hujan. Teriakku tertutup suara guntur. Hujan makin deras. Seolah dia menyesal telah turun, seolah dia menyesal. Seolah kalau dia tidak turun, ini tidak akan terjadi.

Hujan pun selesai. Aku masih di situ, memeluk dia. Orang mulai mengerubuni kami. Hujan selesai, namun tidak ada pelangi. Tidak ada kebahagiaan setelah masalah, tidak ada senyum setelah tangis. Mungkin, pelangi sudah pergi. Atau, pelangi sedang menangis. Menangisi kepergian satu insan manusia di muka bumi.

Cerpen Karangan: Bagas Hayujatmiko
Blog: bagashay.blogspot.com
Facebook: Bagas Hayujatmiko



Unik dan menarik, satu hal yang membuat penasaran adalah sosoknya yang berbeda dari wanita kebanyakan. Tipe cewek periang dan murah senyum itu memiliki karisma yang sungguh luar biasa. Tak pernah memungkiri hal itu karena ini bukan hanya pendapatku tapi juga pendapat para sahabatku. Sementara kalau menurutku Janne tipe cewek yang cerdas yang multi talenta.

“Namaku Ade Nugraha” pernah terlintas aku akan berkenalan dengannya sambil mengulurkan tangan menyebut namaku. Namun tak pernah tercapai maksud itu. Mungkin karena banyak faktor lain.
Sama sekali aku tak pernah berbicara dengannya, apakah dia sombong? sama sekali tidak. Tapi jangan pula kau sangka aku yang sombong, jangan. Itu tidak adil bagiku. Karena memang beginilah sifatku yang sedikit kurang peduli, tapi biar bagaimanpun jangan salah mengartikan semua itu, dan kebanyakan kaum yang memiliki sifat seperti itu adalah tipikal insan setia. Sama adanya sepertiku.
Karena aku punya prinsip sendiri dalam menyikapi makhluk yang bernama wanita. Dan satu prinsip yang berbeda itu adalah aku tidak mau menukar harga diri lelakiku dengan lebel “norak” yang terkesan overacting di depan mereka, disinilah kebanyakan wanita merendahkan pria karena sikap yang super aktif itu. Tips dariku, teori yang aku sendiri tak tahu mendapatkan dari mana.

Tahukah kawan, kebanyakan cewek tidak suka dengan cowok demikian, meskipun pendapatku ini tidak ada bukti ilmiah tapi dapat kamu buktikan sendiri di lapangan. Ya meskipun tidak seratus persen benar. Setidaknya aku tidak mau menukar wibawaku. Jadi menurut mereka aku terkesan cuek di mata para cewek. Itu gambaran mereka tentang aku. Tapi hal itu sedikit sulit kulakukan untuk Janne Stya Devi, sulit untuk tidak tersenyum walau sedikit. Akhirnya aku tak dapat berdusta pada diri sendiri, Janne ada dalam benakku setiap saat. Mungkin aku terlalu mengaguminya.

Aku berusaha menepis semua keindahan tentang sosok Janne. Berusaha melupakan Janne walau sesaat adalah ujian terberat yang pernah aku alami. Untuk mengalihkan itu kucoba baca al-quran beberapa kali, belum mampu, baca terjemahnya, belum mampu juga. Ah, ternyata imanku amat tipis kawan, sehingga Janne lebih kuat terekam dalam otakku.
“Jane hufft. . lagi lagi jane, ah payah”. Aku merutuki diri sendiri, kuat sekali pengaruh makhluk menawan ciptaan Allah ini. Lupakan!, ya, lupakan janne.

Hari berganti minggu dan bulan, meski berat aku tak pernah mamikirkan lagi tentang Janne, si mayoret drum band cantik itu buat aku tak konsentrasi. Ini gawat, semakin kupikirkan maka aku semakin dirundung penderitaan yang panjang.

Tak ada pilihan lain kecuali harus melupakan Janne untuk selamanya, banyak yang mencari perhatian padanya, kebanyakan teman-temanku menjulukinya “kembang sekolah”. Atau “Dewi fortuna” Jelas itu berlebihan menurutku, tapi biarlah mereka punya argument sendiri yang sulit untuk dibantah, memang benar apa yang mereka katakan, tentang janne di mata mereka tak ubahnya mutiara di antara ribuan kerikil yang berserakan di SMA Bhina Insani ini.

Anak jurusan bahasa kumpul di perpustakaan, aku dan romi duduk bersebelahan sambil memahami materi percakapan ringan bahasa mandarin, kami di depan dinding kaca samping pintu masuk, segerombolan anak-anak XI Ipa melintas tentu disana ada Janne, juga bersama keempat sahabat gank cantiknya siska, shari, rasya, dan imel berjalan akan mengembalikan buku-buku eksaknya.
“De, liat deh. Mereka cantik-cantik banget!” bisik romi pelan “apalagi janne” imbuhnya. Aku menoleh mengikuti isyarat tangan Romi. Sekilas melirik.
“Lumayan!” kataku
“Gilakk!!, lumayan kamu bilang? kamu minus berapa De?”. Ternyata jawabanku barusan membuat Romi terkejut hebat, hingga ia setengah berteriak. Seisi perpus menoleh kearah Romi dan segerombolan mata anak XI Ipa itu tertuju pada kami. Airmuka Romi berubah malu-malu.
“Eh santai aja kali gak usah segitunya. Malu gak sih, makanya gak usah berisik!” Tukasku. Romi diam tak berkutik. Gank cantik itu senyum-senyum pada kami berdua. Janne?. Hmm.. masyaAllah manisnya gadis berkerudung putih bros kupu-kupu ini. Aku membenarkan penilaian Romi tentang sosok manusia cantik yang saat ini dengan mata kepalaku sendiri ada di depanku. Diperjelas dengan kacamata minuskus. Gawat! bisa gagal misiku untuk melupakan Janne.
“Gawat!!”
“Apanya yang gawat, De!!” Romi terperanjat, dengan ekspresi bingung.
“Eng..enggaak, maksudku gawat kalau kita gak paham materi bahasa asing ini” aku beralasan.
“Ah segitunya” romi tak percaya.

“Haa, dari tadi dicariin akhirnya ketemu juga. Nih barusan dinas pendidikan ngasi undangan” kata romi di hari selanjutnya.
“Buat…?”
“Mana ku tau, kamu baca aja sendiri”
“Ok makasih ya” lalu secepat kilat kubaca.
Disdikbud mengundang rapat bersama seluruh OSIS SMA sederajat membahas agenda rutin tahunan dalam rangka menyambut 28 oktober hari sumpah pemuda. Acaranya padat, seni, olahraga dan karya ilmiah. Tiap SMA harus mengirim utusan sebagai peserta. Acara ini bakalan seru pastinya.
“Rom. Kamu umumin geh, seluruh ketua seksi ngumpul di bashcamp, mumpung masih ada waktu istirahat”
“Shiipp” Romi langsung bergegas.

Tak lama setelah Romi umumkan mereka datang ke bashcamp Osis, seluruhnya kumpul, kuberitahukan perihal undangan dari dinas pendidikan tadi, memperingati hari sumpah pemuda ini akan dilaksanakan satu minggu, intinya setiap seksi harus mempersiapkan diri mengirim utusan, dan siapa saja yang berminat sesuai talenta bidang seni, olahraga dan karya ilmiah tersebut. Rapat sedang berlangsung, mereka antusias dan semangat luar biasa untuk berpartisipasi.
“Izin bicara” Ezza menyela “Aku maulah ikut karya ilmiah tentang terumbu karang Natuna itu, kriterianya gimana sih kak?” lanjutnya.
“Yaps. Terima kasih pertanyaan yang bagus! minimal tujuh halaman lengkap dengan referensi Za, kalo perlu buku atau majalah untuk referensinya kakak punya, besok kak bawain deh”
“Terimakasih. Selain aku siapa lagi kak?”
“Bagas, anak jurusan bahasa itu juga besedia ikut!”
Ezza mengangguk paham.
“Ok ada yang perlu ditanyakan lagi?” Kataku. Mereka angkat tangan, “Kita beri kesempatan pada hanif, silahkan Nif”
“Ade, sebagai Osis apakah kamu ikut berkompetisi juga?”
“Kalau gue gak ikut, masalah buat lho?” kucoba mencairkan suasana, akhirnya mereka tertawa ringan. Lalu kujawab “insyaAllah saya ikut seni lukis, tadi sudah koordinasikan dengan pembina Osis dan para guru, beliau meminta saya juga ikut pencak silat, karena jadwalnya tidak bentrok dan masih ada jeda dua hari setelah pencak silat barulah melukis, inyaAllah saya bisa ikut”
“Mantap-mantap!”. Sahut mereka nyaris bersamaan. Rapat dirasa cukup, rapat selanjutnya finishing, hanya mencari siapa saja peserta yang akan dikirim dan semua dipastikan telah fix, agar tidak ada rapat-rapat susulan lagi. Pembina Osis pak Lukas menyerahkan sepenunhya padaku. Besok rapat lagi hanya sebatas ketua seksi untuk melaporkan dari tiap cabang pertandingan.

Keesokan harinya. pagi yang cerah, Romi berada di antara Janne dan keempat ganknya didepan mading, pengumuman perihal hari sumpah pemuda telah terpampang disana, aku tak tahu apa yang mereka diskusikan, tampak serius mereka berbincang, namun diperhatikan seperti ada ekspresi penolakan janne, beberapa kali geleng-geleng kepala, Romi bicara serius bahkan tampak memohon, dan apa yang mereka bicarakan tak terdengar jelas.
Aku, Rudi dan Rasmita menyiapkan berkas rapat hari ini. Rapat kepastian peserta.
“Rud, berkas yang kuminta kemarin sudah kamu buat?”
“Sudah pak!. Beres. Hehe nih” Rudi sekretarisku menyerahkan semua berkas beberapa cabang yang akan diikuti beserta formulir untuk pembuatan surat mandat dan juga daftar hadir rapat.
Romi tergopoh-gopoh berlari “Ade mana Ade?”
“Ada apa Rom?, masuklah” Sahutku dari dalam bashcamp.
“Gawat!, gawat cuy” mendekatiku.
“Maksudmu?” aku penasaran.
“Janne dan Siska bersedia ikut gurindam. Yes, yess!” romi berbisik khawatir rudi dan rasmita mendengarnya. Aku tersenyum, ini bukan berita buruk namanya, justru sebaliknya, ini adalah berita yang spesial bagi Romi, Hmm.. aku baru mengerti ternyata ia mati-matian membujuk mereka untuk ikut gurindam 12 depan mading tadi. Lihatlah ekspresinya seperti anak kecil yang baru dibelikan mobil mainan. Senang sekali. Aku maklum, karena cinta matinya pada Siska, teman Janne ganknya itu.

Rapat dimulai, semua ketua seksi memberikan nama-nama peserta yang akan dikirim dan sudah ok semua. Rapat ditutup lalu agenda selanjutnya pemantapan para peserta yang jadwal latihannya telah diatur.

Hari ini hari “H” semua persiapan sudah Sembilan puluh persen. Aku dan Radit telah mempersiapkan penampilan seni ganda pencak silat sebulan yang lalu sebelum mendapat undangan dari disdikbud, kerena memang hanya tinggal pemantapan waktu tiga hari cukup bagi kami mengulang gerakan-gerakan sebanyak enam fase itu yang mungkin saja terlupa, tidak ada kendala yang berarti. Kawan-kawan dari cabang olahraga futsal di hendel oleh Putra, sudah OK. Volley putra dan putri sudah aman. Karya ilmiah Bu Fifi yang mengurusnya, Bu Fifi adalah guru yang tidak diragukan lagi, lima kali membina peserta untuk kejuaraan karya ilmiah lima kali juga mendapat nilai terbaik di provinsi. Termasuk aku pesertanya kala itu. Ezza dari cabang karya ilmiah semakin mantap dengan buku referensinya yang kupinjamkan kemarin, dia sering konsultasi padaku terutama masalah penulisan. “Maklum kak baru kali pertama ikut” katanya. Tak masalah yang penting ia semangat belajar dan rajin bertanya.

Untuk gurindam 12, Janne dan ganknya yang berperan penting ditambah dua orang pemain rytem dan orgen. Sudah mantap persiapan mereka. Kemarin sore dan tadi malam gladi resik keren bukan main “Mantap. Hanya persiapan mental yang sepuluh persensisanya” begitulah kata Bu Indah guru kesenian yang membidangi kesuksesan tampilan gurindam, Bu Indah sekaligus mentorku dalam seni lukis. Dan kekurangan yang perlu diperhatikan untuk lukisanku adalah pemberian efek vigneting pada sisi-sisinya untuk memberikan kesan lebih menarik dari perpaduan warna. Memang ku akui melukis wajah pahlawan agak sedikit sulit ketimbang kaligrafi.

Tak tanggung-tanggung pembukaan peringatan sumpah pemuda malam hari ini di sanggar seni Laksmana Hang Tuah, dihadiri oleh gubernur dan istrinya, Bupati dan segenap jajarannya, tokoh pemuda, tokoh agama dan masyrakat bahkan pihak rumahsakit juga berpartisipasi. Luar biasa ramai, satpol PP sibuk mengatur parkir, umbul-umbul dan lampu sorot memeriahkan acara tersebut. Acara ini memang selalu jadi even yang paling bergengsi dalam menonjolkan keunggulan sekolah masing-masing. Setelah pembukaan usai langsung penampilan seni tunggal pencak silat dari lima perguruan, seni ganda dan beregu, aku urutan nomor tiga. Huff rasanya panas dingin akan disaksikan ribuan masyarakat Natuna. Mereka bersorak sorai dari penapilan demi penampilan tersebut.

Penampilan kesatu, dan kedua telah usai. Makin kencang berdebar jantung ini. Sabar-sabar. Santai! Semua akan baik-baik saja aku membesarkan hati. MC menyuarakan di depan stage hiburan. “Baik bapak ibu yang kami hormati acara semakin seru tampaknya maka tiba saatnya penampilan seni ganda dari SMA Bhina insani, berikan tepuk tangan yang meriah!!!”

Ok giliran kami yang adu kebolehan.
Aku dari sudut utara dan Radit dari selatan siap siaga. Huuupp.. Radit lompat harimau tinggi sekali. Dengan sikap ksatria kamipun melakukan penghormatan padapara hadirin, lalu kesesama pesilat. Pasang!! Diiringi musik kitaro jepang pilihan mas widho pelatih kami.
Gebrakan awal adalah gerakan ekstrem, fungsinya menarik perhatian penoton. Radit dengan penuh optimis melompat tinggi siap menggunting leher dengan kakinya, tanpa jeda waktu langsung dia lakukan itu bahkan tanpa kuda-kuda terlebih dahulu. Benar kataku semua penonton tepuk tangan dan ada yang menjerit histeris, dengan wajah yang seolah membunuh itu kami mampu menghipnotis penonton. tanpa membuang kesempatan satu persatu kami keluarkan semua jurus dan teknik yang sudah terlatih, pukulan, bentingan, tendangan apaun kami pakai. Suara penonton hiruk pikuk gagap gempita tak kami hiraukan yang kami fokuskan adalah memberi yang terbaik dalam kesempatan itu. Sempat sekilas aku melihat Janne dengan gaun jingga yang amat menawan berteriak “Ayooo Ade!” bagiku teriakkan janne merupakan suplai energi luar biasa dan senyumnya menerangi hatiku melebihi lampu sorot. Aku makin semangat.

Kelima fase kami pergunakan dengan baik sesuai durasi waktu yang ditentukan. Fase terakir menggunakan senjata golok dan toya. Aku bermain stik panjang itu, radit dengan lihainya siap mencincang habis tubuhku hingga lumat. Gila! Sedikit saja aku tergelincir, alamat akan dibawa mobil ambulance yang standby di sudut pentas atau namaku menjadi almarhum. Penoton makin riuh, setelah aku tunjukan secara maksimal memainkan stik atau toya, semakin bergaya diriku ada Janne disana, toya berputar mengelilingi tubuh untuk melindungi pukulan telak dari golok mautnya Radit yang mengilat akibat pantulan sorot lampu. Beberapa kali aku melambung di udara salto belakang untuk mengelak, Menangkisnya dengan cepat adalah pilihan.

Whuuttt… aku berhasil melemparkan senjata mengerikan itu dari tangannya, Radit gelagapan goloknya melanting jauh. Aku terkecoh senyum Janne, hingga Radit memukulku tepat di ulu hati, aku terpental menahan sakit dan toyak melesat dari tanganku. Nafasku sesak sekali ”Awas de!!” suara Janne jelas. Di dekat ku ada golok maut yang terhunus, golok Radit, kali ini giliranku yang memakainya. Rasa cinta ini menghilangkan semua rasa sakit pukulan Radit. Dua, tiga langkah lagi Radit akan tewas.

Sesuai skenario mas Widho pelatih kami, Radit kalah terbunuh dengan senjatanya sendiri. Apa boleh buat Radit mati juga ditanganku itulah skenarionya padahal kalau boleh jujur Radit tak mau kalah karena disana ada wanita idamannya juga namanya Shari sahabat Janne. Kali ini merupakan penampilan yang spektakuler, aku pemenangnya. Salam penghormatan mengakhiri penampilan kami dengan Standing Uplous segenap pemerintah dan para penonton yang tak henti-henti. Aku senang bukan buatan. Ekspresi diri yang dahsyat!
Kubuka ponsel ada pesan masuk nomor baru.
“Keren penampilanmu malam ini”

Untuk cabang olahraga ditempatkan di gelanggang, cabang seni di sanggar Hang Tuah dan karya tulis ilmiah di asrama haji gerbang utaraku komplek masjid agung Natuna. Setiap hari mereka berkopetisi selama seminggu. Sementara aku memaksimalkan untuk penampilanku besok, melukis wajah pangeran Diponegoro. Cat dan kain kanvasnya kupilihkan yang terbaik sengaja pesan dari luar Natuna. Kontras lukisan dan warna gelap terangnya harus diseimbangkan. Vigneting harus pas sesuai arahan dari Bu indah kemarin.

Hari ini aku melukis harus maksimal, waktu lima jam kupergunakan dengan baik dari jam delapan pagi sudah mulai sampai jam satu siang. Banyak penonton yang juga hadir apalagi dari tiap-tiap sekolah, teman-teman Osis, kakak dan adik kelasku memberi support tak henti-hentinya. Akhirnya selesai juga. Alhamdulillah lancar semua.
Nanti malam janne nampil, aku sporter yang paling berpengaruh untuk kesuksesan janne, Hmm mulai GR memang siapa aku?. Terakhir aku tahu itu nomor janne tadi sore dia sms lagi “Aku harap kamu datang Ade”.
Siapa sangka nomor yang dulu aku idamkan bahkan kali ini tanpa aku yang memintanya telah menyapaku, bahkan setelah malam penampilan silat itu Janne selalu mengirim pesan singkat. Ada saja alasan dia untuk bisa ber-sms-ria denganku. Ah, kacau misiku benar-benar gagal. Tapi jujur aku senang. Malam ini penampilan Janne aku yakin Janne akan menunjukkan talenta besarnya dalam olah tarik suara.

Romi yakin Siska begitu elok malam ini, dan saatnya dia membalas rasa malu yang tempo hari di pustaka telah ditertawakan ingin ia katakan sejujur-jujurnya perihal perasaannya itu. Sementara Radit, wanita idamannya adalah Shari dia yakin Sharilah orang yang tepat. Dan rencananya sama dengan rencana Romi. Rasa cinta itu akan ia utarakan malam ini juga.

Sementara aku? Ah, apa iya aku akan seperti rencana mereka? Kawan, beginilah terkadang sikap cowok. Dan tidak semua cowok blak-blakan, buktinya aku harus memikirkan matang akan hal ini. Dan aku tak tahu apakah aku termasuk kualifikasi di antara sekian banyak tipe cowok yang menjadi idaman Janne. Meski hampir tiga semester aku naksir berat pada Janne dan terkadang muncul tenggelam dalam hatiku, tapi jujur Janne adalah cinta pertamaku yang masih gelap.
“Napa tak balas? Pokoknya kamu harus datang. Titik!” Upps.. sms janne yang tadi juga belum ku balas. Lima menit kemudian.
“Insyaallah janne” jawabku
“He..”

Kugunakan lagi baju silat terbaikku pada malam penutupan ini, tak cukup tiga puluh menit di depan kaca, memakai kain yang dililitkan di pinggang berwarna merah ini saja menghabiskan waktu tujuh menit, menyisir rambut apalagi. Rambut adalah mahkota terpenting bagi para cowok, jadi tidak boleh asal-asalan. Wajahku? Ah, ok lah.

Kali ini malam penutupan yang menentukan, sekaligus pengumuman seluruh cabang. Lukisan dipajang di setiap astaka pameran termasuk karyaku.
Panitia mengatur jadwal gurindam sebagai pertandingan akhir kegiatan. Janne dan CS dapat undian pertama, serasa ada yang hilang, tapi apa? Oya Janne. aku tak melihatnya dimana dia sekarang. Jangan-jangan janne menipuku supaya aku datang tapi ia tidur di rumah. Apa dia tiba-tiba sakit, atau mungkin dia lupa syairnya. Ah amat sangat mustahil, dia sudah profesional dalam urusan itu. Tapi kemana dia?. Coba ku-Sms dia, hape bunyi Janne sms duluan.
“Dari tadi kamu mencari siapa”
“Maksudmu?” pura-pura tak paham
“Ah ngaku aja deh, terus ngapain toleh kanan kiri? Hihi”
Aku jadi malu, rupanya sejak tadi Janne memperhatikanku, tapi dimana dia? Di kursi depan sana sekumpulan penari dan pelantun gurindam perwakilan masing-masing sekolah banyak sekali, aku tak dapat mengenali wajah mereka satu persatu.
“Emang Janne dimana and apa warna kostum yang di pake?”
“Hmm.. mau tau aja, ato mau tau banget?. Hehe lihat aja ntar pas aku nampil, ok?”
“ok la kalo begitu, semangat yach”
“thanks”

Aku, Romi dan Radit duduk bersebelahan di belakang para pelantun gurindan dan penari. Pembawa acara memanggil peserta nomor urut tampil satu, itu artinya Janne maju terlebih dahulu. Mengurangi rasa penasaran pandangan kami tak lepas dari segerombolan orang yang duduk di depan diantara para penari tersebut. Janne dan ganknya berdiri untuk maju. Wow..aku berdecak dalam hati, aku hampir tak mengenalinya, janne menggunakan kostum biru bermotif bunga-bunga halus mengkilat, sulaman benang berwarna silver kemerlapan semakin menantang cahaya lampu sorot, diselipkan rangkaian bunga mawar terbuat dari kain kuning di atas songket berwarna emas hingga menyerupai miss universe, dan kerudung hitamnya juga dililitkan hiasan bunga-bunga semacam mahkota ratu Balqis. Bahkan aku tak percaya kalau dia adalah Janne, semacam putri raja yang jarang keluar istana apalagi berjemur panas. Cantik sekali dia malam ini aku rasa Cinderella dari negeri dongeng pun akan minder di dekatnya.

Ayat-ayat gurindam 12 disyairkan, pasal 1, 9 dan 12 itu tanpa sedikitpun rasa canggung dan dia sangat yakin dengan penampilannya, SMA kami menampilkan gurindam dengan gaya modern, biasanya ditampilkan dengan alat musik tradisional kompang, kali ini musik pengiringnya orgen dan rytem, Janne, Siska dan Shari pelantun pasal demi pasal secara giliran, sementara Rasya dan Imel semacam Backing Vocalnya.

Para hadirin sangat menikmati keindahan seni melayu yang dilahirkan dari sastrawan besar Kepulauan Riau Raja Ali Haji dengan karyanya yang mengurat nadi ini hampir tak tersentuh lagi oleh generasi melayu sekarang. Pesan moral dari setiap ayat adalah sebuah ajaran agung makna keluhuran melayu yang melekat erat dengan keislamannya.

Tepuk tangan penonton mengakhiri penampilan Janne. Usai penampilan kami ke astaka pameran lukisan Janne ingin melihat karyaku. “bagus! Kamu tuh orang yang serba bisa ya” puji janne. Aku tersenyum.

Aku dan Janne jalan berdua mengelilingi berbagai pameran dan juga bazar buku, lalu kami minum jus alpukat bahkan ia tak memperdulikan kostum adat yang masih dipakaniya dan aku masih memakai baju silatku. Janne bertanya benyak hal terutama penampilannya tadi, aku katakan semuanya mantap. Ia tersenyaum semakin cantik. Aku berdegup kencang nyaris tak dapat bicara, bingung seperti orang buta memegang gajah, lidahku kelu dan berat. Di depan janne aku adalah rakyat jelata yang menghadap putri istana.
“Janne” kataku mencoba serius.
“Ya?”
“Hm..” duh deg-degan “dalam hidup ini apa yang tak kamu harapkan hilang darimu?” dia berfikir sejenak.
“Pelangi”
“Alasannya?” kataku.
“Karena pelangi adalah sebuah ungkapan agung sang pencipta, dimana ia baru muncul setelah hujan terkadang badai, dan disambut dengan sinar matahari maka akan memantulkan cahaya, pelangi merupakan fenomena optik dan meteorologi yang menghasilkan spektrum cahaya. Issac Newton adalah orang pertama yang menyelidiki hal ini, aku menyukainya karena pelangi memilki falsafah yang amat dalam bagiku”
Aku mendengarkan secara seksama menjelajahi cakrawala kecerdasan Janne tentang berbagai dalil eksak yang ia pelajari di jurusan ipa. Sementara dari jauh MC terus memanggil para peserta yang belum tampil satu persatu. Kami terbuai oleh suasana yang langka ini, pembicaraan janne adalah hal yang penting bagiku. Tak penting bagi kami penampilan mereka. Pengumuman pemenangnya biar guru-guru saja yang mewakilinya aku yakin karya lukisku akan diperhitungkan juri. Uh, alangkah bahagia hati akhirnya aku bias berbicara dan bertukar pendapat dengan janne bukan sekedar sms. Dunia serasa milik kami berdua yang lain cuma mengungsi. Masih ia lanjutkan.
“Dalam hidup ini suka dan duka seumpama sepasang kekasih yang tak pernah mungkin terpisahkan, pelangi juga memberikan warna keindahan pada dunia. Aku ingin menjadi pelangi yang memberikan keindahan dalam kehidupan sekitar, tidak untuk diri sendiri saja tapi untuk banyak manusia. Dan aku yakin semua manusia pasti menyukai pelangi”.

Aku mengangguk. Apapun yang diungkapkan janne benar adanya. Ya memang begitulah kehidupan yang terkadang suka dan duka akrab menghampiri kita.
“Kalau kamu De, apa yang tak ingin hilang dalam kehidupanmu?”
“Cinta” kataku simpel. Tampaknya janne bertanya-tanya dengan alasan yang akan aku berikan nanti.
“Ya, cinta” kataku lagi.
“bisa beri alasan kenapa cinta?”
“Cintaku padamu, Janne. Dan pandangan matamu sudah menjelaskan semua itu!”
“@#$%^^u&me…” Janne nyaris tak dapat bicara, airmukanya cerah malu.
“Menurutmu kalau aku cinta padamu apakah itu sebuah kesalahan?”
Janne menggeleng sambil membenarkan posisi duduknya sedikit salah tingkah.
“janne, aku mencintaimu”
Janne mengangguk pelan sambil tersenyum simpul, senyum termanis yang pernah aku saksikan.
“Aku juga mencintaimu Ade Nugraha”

©Yudhianto Mazdean.
Kritik dan saran jangan lupa ya, sob! Makasih sudah sempetin baca karyaku. salam kenal

Cerpen Karangan: Yudhianto Mazdean
Facebook: yudie.ardianto[-at-]yahoo.com
Namanya Yudhianto, mazdean adalah nama pena. Lahir februari 1992 ini hobbinya baca buku and nulis, melukis adalah kreatifitas lain yang ia miliki, pernah juara 1 kaligrafi di kampusnya, juara 3 kaligrafi MTQ kabupaten Natuna di serasan 2010. sekarang menetap di Natuna.



Pagi yang cerah untuk mengawali hari ini dengan bersekolah sebagai siswi SMA Nusa kelas 10 C. Ditemani oleh teriknya mentari, sejuknya angin di pagi hari, dan secangkir kopi hangat di meja kantin sekolah. Sambil meneguk kopi hangat dan tanpa sadar telah hanyut dalam lamunan layar kaca handphone yang di dalamnya terselip foto seorang lelaki tampan idamanku selama ini. Lelaki tampan itu namanya Aris Al-Gusti, dia adalah murid SMA Bangsa kelas 11 yang cukup populer, dia dikenal sebagai pemain basket yang jago dan fotografer handal. Aku mengenalnya dari salah satu teman bbm yang membroadcast pin bb dia yang akhirnya aku invite dan berlanjut untuk aku mem-follow twitternya dan add facebooknya sampai ke akun social media lainnya. Meskipun aku belum pernah bertemu dengannya langsung padahal kami tinggal di kota yang sama, meskipun berbeda sekolah dan aku pun belum pernah berkenalan secara resmi dengannya meskipun aku tau namanya. Ya biarlah aku terus menjadi pengagum rahasianya tanpa ada orang lain yang tau selain Tuhan dan sahabatku Hanna.

Baru saja aku terhanyut dalam lamunan dan meneguk secangkir kopi hangat itu, kedatangan sahabatku Hanna justru mengagetkanku.
“Nina!!” teriakkan yang tak asing lagi bagiku, sudah pasti itu Hanna.
“Apa sih, Han? Bikin kaget aja tau gak.” Ucapku lalu menaruh cangkir kopi itu di atas meja.
“Ngapain coba lo masih diem disini sambil mandang foto cowok idaman lo itu? Kenapa lo gak pergi aja buat liat langsung cowok itu daripada cuma liat dari foto?” sindir Hanna.
“Gue harus ketemu dia dimana? Ngeliat dia sekali aja belum pernah selain di foto.”
“Duh.. lo itu ketinggalan jaman atau kudet (kurang update) sih? Cowok idaman lo itu sekarang lagi ada disini, di lapangan basket sekolah kita dan bentar lagi sekolah dia bakalan tanding basket lawan tim sekolah kita. Ayo buruan! Tunggu apa lagi!” belum sempat aku merespon perkataan Hanna, ia sudah menarik tanganku kencang-kencang dan berlari menuju lapangan basket.

Pertandingan basket seperti ini memang sangat biasa di kalangan anak-anak sekolah karena acara seperti ini memang dilakukan setiap tahunnya dan inilah saat yang disukai seluruh siswa, dimana setiap acara ini diselenggarakan seakan pelajaran sekolah terlupakan dan dihentikan sementara waktu. Pertandingan baru saja dimulai, anak-anak bersorak mendukung tim sekolah SMA Nusa. Hanna pun malah ikut-ikutan bersorak, sedangkan aku hanya terdiam tak tau apa yang harus aku lakukan. Rasanya otakku berhenti berfikir dan jantungku seakan berhenti berdetak karena tak menyangka dapat bertemu dengan lelaki tampan itu, apalagi ini adalah kali pertama aku bertemu dengannya. Hanna menyuruhku agar aku ikut menyemangati cowok idamanku itu, awalnya aku malu dan takut tapi ku coba memberanikan diri.
“ARIS!!! SEMANGAT YA KAMU PASTI BISA!!” teriakku kencang.
Aris pun menoleh ke arahku lalu membalasnya dengan senyuman manis. Tak ku sangka ia tersenyum padaku, sontak saja senyumku pun ikut mengembang bebas. Salah satu teman Aris justru memberi tau Aris jika ada salah satu perempuan SMA Nusa yang berteriak namanya di antara teman-temannya yang bersorak menyemangati tim SMA Nusa.
“Ris, lo liat deh itu ada cewek anak SMA Nusa yang nyemangatin lo di antara temen-temen lainnya yang nyemangatin tim sekolahnya sendiri, gak nyangka lo cukup popular juga disini.” Ucap salah satu teman basket Aris.
“Ah loe bisa aja bro! udah fokus main aja.” Bisik Aris.

Pertandingan berakhir dan dimenangkan oleh SMA Nusa. Sampai anak-anak tim basket SMA Bangsa pulang pun tak ada respon apapun dari Aris, padahal aku sudah menyemangatinya sampai suaraku hampir habis rasanya, tenggorokan pun rasanya kering. Ada perasaan kecewa karena tak mendapat simpati dari Aris, tapi ada juga rasa senang saat mengingat senyuman manis Aris yang ditujukan padaku. Sepulang sekolah, aku langsung merebahkan diri di kamar, melepaskan semua beban yang ada rasanya sangat nyaman. Beruntung saja, selama seminggu kedepan akan libur jadi aku tak perlu pusing-pusing memikirkan tugas sekolah karena ada acara olahraga yang diselenggarakan tersebut jadilah seluruh siswa diliburkan. Hari ini adalah hari pertama aku dan keluargaku akan pindah rumah, pindah ke sebuah perumahan komplek. Ayah dan Ibu memang sengaja memilih rumah di sebuah komplek agar aman, karena rumahku yang lama ini letaknya ada di pinggir jalan raya jadi terkadang banyak asap kendaraan dan debu yang masuk, yang membuat mimisanku sering kambuh.

Keesokan paginya, aku menyusuri jalanan sekitar komplek untuk berjalan-jalan sambil melihat suasana komplek baru itu sambil membawa kamera digital untuk mendapatkan momen-momen baru yang akan aku temukan disini. Aku menemukan sebuah taman depan komplek yang tempatnya sangat bersih dan asri. Aku pun menyegerakan duduk lesehan di atas rumput taman itu sambil memotret bunga-bunga taman yang indah bermekaran.

Aris pun sedang tinggal menginap di rumah sepupunya di satu komplek yang sama denganku, tepatnya rumah itu berada persis di depan rumah baruku. Aris memang anak tunggal jadi wajar jika ia merasa kesepian di rumah jadi ia sering menginap atau sekedar bermain-main di rumah sepupunya ini. Aris pun sering berjalan-jalan di sekitar komplek dan biasanya suka berduduk santai di taman depan komplek. Dan di waktu yang bersamaan itu pun, tak sengaja Aris sedang mencari objek foto yang bagus melalui lensa kameranya, sampai ia menangkap sebuah momen lewat kameranya dimana saat aku sedang memotret bunga di taman. Ia merasa puas dengan hasil fotonya ini, belum pernah ia merasa sepuas ini setelah mendapatkan objek foto yang bagus. Ia sangat mengakui bahwa objek difotonya itu sangatlah cantik dan indah. Ia lalu terus mencoba menangkap kembali momen yang indah dan menjadikan aku sebagai objek fotonya, saat ia melihat kameranya dan mencoba memotretku lagi tapi aku melihat ke arah lensa kameranya, segera saja ia bersembunyi dan menyelinap agar tidak ketahuan. Karena aku merasa ada yang telah memotretku secara sembunyi-sembunyi, aku mencoba mencari dan mendekat ke arah orang tersebut. Namun, begitu aku mendekat untuk melihatnya lebih dekat, ia justru sudah tidak ada. Jadilah, aku penasaran dengan orang itu. Aku tak tau jika itu adalah Aris, cowok idamanku itu. Setelah itu, aku pun memutuskan untuk pulang ke rumah.

Dengan perasaan senang, Aris buru-buru ke rumah dan langsung menemui sepupunya, Mas Adit. Untuk memberi tau kejadian apa yang baru saja menimpanya, ia bertemu dengan seorang bidadari cantik dan itu adalah objek foto terindah yang pernah ia lihat. Mas Adit bingung, tak percaya, dan tak mengerti yang dimaksud oleh adik sepupunya itu. Langsung saja Aris menunjukkan foto-foto tersebut pada mas Adit. Sekarang, mas Adit baru tau dan mengerti bahwa yang dimaksud oleh Aris itu adalah Nina, tetangga barunya. Segera saja, Aris tidak sabar untuk segera meminta sepupunya itu mengenalkan perempuan ini padanya. Mas Adit hanya geleng-geleng kepala melihat perubahan tingkah yang aneh pada sepupunya ini.

Malamnya, mas Adit dan Aris datang ke rumahku membawa sebuah parcel kecil yang berisi banyak coklat, mereka sengaja datang ke rumahku untuk sekedar berkenalan dan ngobrol. Awalnya, aku sangat kaget begitu melihat Aris ada di depan rumahku dan tak ku sangka ia justru datang ke rumahku bersama mas Adit. Tubuhku rasanya menjadi beku seketika, bibirku bergetar, tangan dan kaki ku serasa panas dingin, aku sendiri pun bingung harus bersikap bagaimana di hadapannya. Mereka pun akhirnya menjelaskan keinginan mereka untuk datang kemari. Kami bertiga pun berkenal dan ngobrol di paviliun depan rumahku.
“Hai. Kamu tetangga baru kan disini? Aku tetangga baru kamu, itu rumahnya di depan rumah kamu hehe.” ucap mas Adit mencoba untuk akrab.
“Hai juga. Oh iya iya.”
“Sebenernya niat kami datang kesini mau kenalan, sebenernya sih yang ngebet pengen kenalan itu sepupu aku, ini orangnya.” Kata mas Adit menunjuk kepada Aris. Aris langsung menginjak kaki mas Adit yang dinilai telah salah bicara.
“Kenalin, aku Adit dan ini Aris sepupu aku yang lagi nginep di rumah aku.”
“Oh iya, aku Nina.”
“Namanya secantik orangnya.” Ucap Aris pelan yang sedikit samar ku dengar.
“Oh iya, ngobrolnya di paviliun aja biar lebih enak. Ayo!” ajakku.

Setelah bercengkrama dan cerita cukup lama, barulah aku tau kalau yang tadi siang itu adalah Aris yang memang sengaja memotretku tanpa sepengetahuan diriku. Ada secercah harapan dalam hati dan pertanyaan yang terbesit dalam dada, mungkinkah Aris menyukaiku?
Setelah kembali bercerita-cerita ternyata Aris pun masih mengingat dan hafal betul wajahku ini, bahkan dia masih ingat kalau cewek SMA Nusa yang kemarin pagi menyemangatinya itu adalah aku. Betapa senangnya hati ini serasa ingin terbang jauh ke angkasa.
“Kayaknya kita pernah ketemu deh sebelumnya. Tapi dimana yah?” ucap Aris sambil mengingat. Aku sengaja terdiam, mengetes kemampuan ingatannya.
“Oh iya aku inget, kamu cewek anak SMA Nusa yang kemarin nyemangatin aku kan waktu pertandingan basket. Iya kan?” ucap Aris memastikan.
“Heh Ris! Geer banget sih lo jadi orang, jangan asal ngomong deh.” Bisik mas Adit yang juga terdengar olehku.
“Hmm.. iya emang bener kok itu emang aku yang waktu itu nyemangatin kamu.” Ucapku sedikit ragu.
“Tuh kan berarti aku gak salah lagi dong.”
“Pede banget sih lo Ris!” bisik mas Adit yang lagi-lagi menyindir Aris.

Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 10 malam, mas Adit dan Aris pun memutuskan untuk pulang dan berjanji esok akan datang kembali. Tentu saja aku mengamini niatannya tersebut. Hingga aku masuk dalam rumah pun, aku langsung menghempaskan tubuhku di atas kasur rasanya ingin benar-benar terbang begitu tau Aris sangat menyukaiku sebagai objek fotonya, rasanya seperti mimpi tapi ini bukan mimpi. Lalu, aku menyempatkan diri untuk menelepon Hanna hanya untuk sekedar memberi tau berita bahagia ini, Hanna saja masih tak percaya, mungkin ia mengira bahwa aku ini hanya menghayal tapi tentu saja ini kenyataan. Sampai akhirnya tengah malam barulah aku menutup teleponku yang sedari tadi masih asik saja ngobrol dengan Hanna. Karena letih, dengan cepat pun aku langsung terbawa kealam tidur.

Paginya, aku kembali pergi ke taman dekat komplek untuk sekedar mencari hiburan dengan mengabadikan momen indah saat bunga-bunga masih segar bermekaran dengan bintik-bintik tetesan air embun semalam menjadikannya lebih indah, lebih hidup dan lebih berwarna. Ternyata tanpa ku sadari, Aris kembali mencuri-curi momen untuk memotret dengan kameranya, mengabadikan kecantikkanku yang katanya mengalahkan bunga-bunga yang ada di taman tersebut. Tapi untuk kali ini, Aris ketahuan sedang memotretku secara diam-diam. Aku pun langsung menghampirinya dan akhirnya kami berdua malah saling cerita ngalor-ngidul (kesana-kemari). Saat sedang asik bercerita, tiba-tiba aku bersin dan hidungku mengeluarkan darah yang itu artinya aku mimisan (lagi). Dengan sigap, Aris langsung mengambil saputangan miliknya dari saku dan mengusapnya pada hidungku yang telah banyak mengeluarkan darah.
“Nina, hidung kamu berdarah!” ucap Aris lalu segera mengusapkan darah itu dengan saputangannya.
“Gapapa Ris, ini cuma mimisan biasa kok.”
“Biasa gimana? Kamu udah cek ke dokter belum?” ucapnya sedikit panik.
“Udah, dulu udah pernah cek ke dokter kok katanya cuma mimisan biasa kalau kena debu. Nanti juga darahnya berhenti sendiri kok.”
Setelah darahnya telah berhenti mengalir, Aris mengantarku sampai depan rumah barulah dia juga pulang ke rumah mas Adit.

Besoknya, aku sekedar duduk-duduk di paviliun sambil minum secangkir capucinno hangat dan mengingat-ingat kembali kejadian malam itu sewaktu Aris mengajakku berkenalan dengan datang langsung ke rumahku. Otakku seperti memutar kembali kejadian-kejadian itu yang hampir membuatku lupa diri. Samar-samar aku mendengar suara seseorang yang memanggil namaku, aku pun menoleh dan mencari-cari keberadaan orang tersebut. “Nina!” ternyata itu adalah suara Aris yang memanggilku dari balkon kamar tidur sepupunya. Sambil melambaikan tangan ia berteriak namaku. Aku pun membalasnya dengan senyum manis dan seakan ikut melambaikan tangan. Aris memberiku isyarat agar aku menunggunya disini dan dia akan turun untuk menyusulku. Tentu saja aku menyanggupi isyaratnya tersebut. Aris menyusulku di paviliun sambil membawa kamera digitalnya. Kami pun ngobrol-ngobrol sebentar di paviliun lalu ia mengajakku pergi kesuatu tempat yang bagus untuk hunting foto. Aku pun menyanggupinya, lalu kami berdua pergi ketempat yang tidak begitu ramai dan jauh dari pusat kota sehingga tidak banyak kendaraan yang lewat apalagi asap kendaraan bermotor. Tempat ini masih bersih dan terasa sejuk karena rumput-rumput hijau yang tumbuh subur disini, seperti taman tapi lebih mirip padang ilalang atau padang rumput. Kami berdua pun segera hunting foto berdua dan mengambil momen-momen indah hingga sore itu tiba dan kami menunggu saat yang tepat yaitu sunset atau matahari terbenam. Beruntung saja, Aris sempat menangkap momen indah tersebut yang mana di gambar itu pun ada bayanganku yang nampak melihat ke arah matahari tersebut, mungkin itu hal yang mudah bagi Aris karna dia kan fotografer handal. Jadi setiap momen yang dia tangkap pasti hasilnya selalu bagus, berbanding jauh dengan aku. Tapi aku senang, di dalam kameranya semua ternyata banyak sekali fotoku yang berhasil ia tangkap tanpa sepengetahuan aku. Agak sedikit kesal memang karena ada beberapa foto yang memang jelek, menurutku. Tapi, Aris bilang semua objek foto yang ia foto padaku itu semua bagus dan indah.

Aku dan Aris memang pulang agak kemalaman, ya baru jam 8 malam sih tapi kami sudah pergi dari pagi jadi bisa terhitung berapa lama kami pergi. Tapi untunglah, ayah dan ibuku tak marah padaku karena pulang kemalaman, mereka malah meledekku karena dari kemarin aku begitu dekat dengan Aris. Yah tak apalah, aku pun justru senang diledek seperti itu. Dan setelah mengenalku, kini Aris lebih sering menginap di rumah mas Adit ketimbang di rumahnya sendiri dengan alasan ingin selalu bertemuku. Tapi orangtua Aris pun tak melarang jika ia terus menginap di rumah mas Adit.

17 Februari 2013 adalah tepat dimana kini hari ulang tahunku. Tidak ada perayaan khusus memang atau perayaan secara besar-besaran layaknya tahun-tahun sebelumnya. Tapi yang berbeda tahun ini adalah kehadiran Aris dalam hidupku yang kini semakin berarti, ia memberiku sebuah kado istimewa yang berisi bingkai foto berwarna hitam klasik yang di dalamnya terselip berbagai macam fotoku dengan latar dan waktu yang berbeda dan yang membuatku terkejut lagi, di foto tersebut ada sebuah tulisan yang sangat berarti “Would you be my girl?” tentu saja aku mengamini pertanyaan tersebut dan tepat pada hari ulang tahun ku tersebut lah aku dan Aris akhirnya betul-betul menjadi seorang pasangan kekasih. Thanks God! The dream comes true. Aris is mine.

Selesai.

Cerpen Karangan: Iyasa Nindya
Blog: iyasalahtingkah.blogspot.com
Follow twitter: @iyasanndya
Add facebook: Iyasa Nindya & Iyasa Nindya II
Happy reading guys! Thankyou.



Indonesia… negeri kaya dengan dua musim. Musim hujan dan musim kemarau. tak ada musim yang paling ku sukai. Musim kemarau aku benci debunya. Musim hujan aku benci petirnya. Tapi setelah ada kamu, aku meyukai kedua musim tersebut. Bahkan menikmatinya. Di saat musim hujan, kita bersama menari di antara hujan. Ketika musim kemarau, kita berkejaran di sawah kering, membuat sumur kecil, bermain layang-layang dan menikmati senja. Kita memang kompak dan tidak mau kalah dengan anak-anak kecil yang juga bermain bersama.

Beib, apakah kamu ingat awal kita bertemu dulu? Ketika itu musim hujan. Aku hendak ke sekolah. Karena aku tak punya payung, setiba di depan gerbang aku langsung berlari menghindari basah. Aku terjatuh. Pakaianku basah dan kotor. Aku malu, semua orang mentertawakanku. Tiba-tiba kamu mengulurkan tanganmu. Aku tak meraihnya karena marah pada mereka. Kamu tersenyum seraya berucap “Jika kamu diam di situ terus, orang-orang akan semakin mentertawakanmu. Lagian aku rasa kamu perlu bangun dan pergi ke UKS. Tanganmu tergores batu!”. Kamu berlalu tanpa mengulurkan tangan seperti tadi. Aku pergi ke UKS. Seperti melihat badut, setiap mereka yang ku lalui melihatku dengan tatapan yang entahlah yang jelas mereka mentertawakanku.

Setibanya di UKS aku kaget, ternyata ada kamu lagi. “De, tolong bikinkan surat ijin untuk orang ini. Dia tak mungkin mengikuti pelajaran dengan kondisi sekarang!” tanpa meminta persetujuanku kamu menyuruh juniormu membuat surat izin untuku. Memang benar dengan kondisi seperti ini, mana mungkin aku mengikuti kegiatan belajar mengajar. Tapi setidaknya kamu harus meminta persetujuanku terlebih dahulu.

Tiba-tiba kamu menarik tanganku. Membuatku kaget sekaligus gugup. Kamu membasuh lukaku dan mengobatinya. Tanganmu sungguh lembut. Wajahmu teduh. Princes pikirku. Walau bagaimanapun aku ini laki-laki normal. Jantungku berdegup lebih kencang tidak seperti biasanya. Keringatku mulai keluar. “Kenapa kamu melihatku seperti itu? Ada yang aneh?” tiba-tiba kamu membuyarkan lamunanku. Aku hanya tersenyum kikuk. Jujur, di depanmu aku gugup. “Oh ya, kamu diam saja di sini sampai bel pulang berbunyi…” kamu berlalu. Aku berkedip.

Bel istirahat pun berbunyi. Semua anak berhamburan keluar. Bak para napi dapat grasi. Perutku pun mulai keroncongan. Mau beli makanan aku malu. Nanti jadi bahan tontonan mereka. Tiba-tiba kamu datang dengan membawa bungkusan. “Ni, aku bawain makanan. Aku tahu kamu pasti lapar tapi malu untuk membelinya.” Aku enggan menerima. “Atau mau sekalian aku suapin…?” aku langsung merebut bungkusan nasi itu dan langsung memakanya. “Nah gitu dong, anak yang baik. Ngomong-ngomong, kamu tambah cakep kalau lagi kelaparan!” Aku tak pernah menyangka orang secantik kamu pintar menggombali cowo. Aku benar-benar kalah di hadapanmu. Kamu duduk di sampingku, sambil memainkan Ipad mu.

“Eh, aku mau ikutan lomba nih. Denger-denger kamu anak bahasa ya! Jadi tolong nanti kamu baca cerpenku ini, terus kamu kasih komen deh.” Kamu memberikan tab mu padaku. Aku bingung, kita baru ngobrol dekat hari ini. Apakah kamu tidak takut aku mencuri Ipadmu?

Aku baca cerpenmu. Aku ingin menjadi lilin. Begitulah kamu memberi judul. Aku tertarik dengan tulisanmu, jadi aku membacanya. Aku kagum padamu, bukan karena tulisanmu yang bagus. Lebih karena makna yang terkandung di dalamnya.

Bel pulang pun berbunyi. Untuk kedua kalinya para siswa berhambur keluar. Kamu datang dengan senyumu. Manis sekali.
“Apakah kamu sudah membacanya?”
“Ya.”
“Bagaimana menurutmu?”
“Bagus.”
“Bagusnya seperti apa?”
“Makna yang ingin kau sampaikan pada pembaca! Oh ya, kenapa kamu tidak menjadi matahari saja?”
“Apakah aku layak menjadi matahari?”
“Kenapa tidak? Setiap orang bebas punya mimpi!”
“Aku lebih tahu diriku. Jadi, mungkin cukup hanya menjadi lilin saja.”
“Kamu meragukan kemampuanmu?”
“Justru aku meyakini kemampuanku. Karena itu aku memilih untuk menjadi lilin.”
“Bolehkah aku menjadi sesuatu yang kau terangi?”
Kamu kaget. Sepertinya aku salah berucap.
“Kenapa kamu menginginkan aku menjadi lilin untukmu? Bukankah kamu bisa menjadi matahari dan memilih bulan mana yang akan kamu terangi?”
Kamu pandai bermain kata. Aku tak mau kalah. Hatiku sudah jatuh padamu.
“Bukan kan lilin menyala karena ada yang harus ia terangi? Aku lebih tahu diriku. Dan aku ingin ada seseorang yang menerangiku. Aku tak mungkin terus hidup dalam gelap.”
“Kenapa kamu tidak mencari matahari saja yang lebih bisa menerangimu?”
“Matahari… Aku terlalu kecil untuk ia terangi. Makanya aku lebih memilih lilin!”
Kamu tersenyum. Aku yakin, kamu kalah kali ini.
“Oh ya, aku mau pulang dulu. Rasanya ga baik berduaan di tempat yang sepi. Orang-orang sudah pada pulang.” Kamu mencatat sesuatu di secarik kertas. Lalu memberikanya padaku. Sebuah nomor dan di bawahnya ada tulisanmu “Share denganmu menarik. Lain kali kamu yang harus mengalah.” Aku tertawa. Senang rasanya.

Musim Kemarau Pertama…

Hari-hari kita lalui. Dan akhirnya kita resmi menyandang status pacaran. Saat itu adalah musim kemarau pertama dalam hubungan kita.
“Ay, aku mau ngajak kamu ke suatu tempat!”
“Kemana beib… malas jalan banyak debu!”
“Pokoknya harus ikut!”

Terpaksa aku mengikuti maumu. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Dan kita pun sampai. Aku ternganga, sawah kering… apa maumu. Kamu berlari menuju gerombolan anak-anak.
“Ay, ayo sini. Kita buat sumur-sumuran.”
“Main sumur-sumuran? Kaya anak kecil saja!”
“Kamu lupa ya, bahwa dulu kamu… aku… juga pernah menjadi anak kecil.”
“Tapi itu kan dulu.”
“Iya, aku tahu. Tapi apakah kamu ga mau mengenang masa itu? Masa kecil itu adalah masa paling menyenangkan. Masa paling merdeka.” Kamu merentangkan tanganmu. Aku bingung dengan tingkahmu. Di balik keanggunanmu, ada sesuatu yang unik. Aku pun datang dan mulai menggali.
“Anak-anak, kita buat sumur-sumuran bersama. Yang paling cepat sumurnya dapat mata air, nanti aku kasih permen!” Aku kaget. Sebenarnya kamu ini makhluk apa…

Aku menggali semampuku. Kamu terus bertepuk tangan sambil berteriak… Ayo… Ayo… Ayo.
“Ay, kamu isi air ya? Jangan bilang kamu kencing di situ?”
“Enak aja. Mata airnya sudah keluar.”
“Coba aku cek!” Kamu mendorongku dan memasukan tanganmu ke dalam sumur-sumuran itu. Memastikan bahwa air yang menggenangi sumur berasal dari mata air.
“Hore… aku menang… aku menang!” Kamu berlari-lari mengelilingi sawah. Anak-anak kecewa karena tidak mendapatkan permen. Aku kebingungan melihat tingkahmu yang menurutku ga kamu banget. Atau jangan-jangan kamu kesurupan penghuni sawah?

Akhirnya acara sumur-sumuran pun selesai.
“Ga terasa ya, senja udah datang. Indah banget. Hmm…”
Aku melihat kamu tersenyum. Senyuman yang membuatku terus merindu. Aku tak menghiraukan senja karena senyumanmu lebih menarik.
“Ay… ada layang-layang putus…!” Kamu tiba-tiba berlari mengejar layangan itu. Aku hanya bisa terpaku menatap tingkahmu. Baru sesaat tadi kamu seperti anak-anak, kemudian berubah menjadi anggun, dan sekarang menjadi tomboi. Aku melihat kamu melambaikan tangan dari kejauhan. Sambil mengangkat layang-layang yang putus tadi. Kamu mendapatkanya. Aku berlari ke arahmu.
“Ay… kamu lihat ga, tadi aku hebat banget kan? Aku bisa ngalahin mereka. Dan tara… ini hasilnya.” Kamu memeluk layang-layang itu. Jelaslah kamu yang akan mendapatkan layang-layang itu, lawanmu tak sebanding. Komentarku dalam hati. Aku tersenyum demi membuatmu senang.
“Beib… Kita pulang yuk!”
“Bentar lagi, senjanya belum habis…”
“Coba deh, liat bajumu… Kotor. Aku ga mau disalahin sama calon mertuaku karena balikin anaknya dalam keadaan kaya gini malem-malem. Jadi mendingan kita pulang sekarang.”
“PD banget. Ya udah… Nih!” tersirat di wajahmu kekecewaan. Kamu memberikan layang-layang itu dan berlalu. Aku mengikutimu dari belakang.
“Oh ya Ay… Besok kesini lagi ya! Kamu harus nerbangin layang-layang itu dan mengadunya bersama layang-layang lain!”
“Ga janji.”

Musim Hujan Pertama…

“Hujan… Ay, hujan.” Kamu berlari ke luar. Membiarkan dirimu menyatu dengan air mata langit itu. Seolah-olah ingin meluruhkan sesuatu. Kamu lupa bahwa tujuan kita bertemu adalah untuk belajar bersama. Bukan untuk hujan-hujanan bersama.
“Beib… Nanti kamu sakit. Lagian ngeri kalau nanti ada petir.”
“Kamu takut ya Ay? Btw, tolong buatkan aku perahu.” Aku membuatkan perahu pesananmu, kamu datang dan tanpa ku duga kamu menarik tanganku.
“Mana perahunya!”
“Ni.”
“Langit, aku tak tahu kemana perahu ini kan bermuara. Semoga dengan persembahan perahuku ini, kamu akan memberi kami pelangi!”
“Oi…”
“Apa-apaan sih Ay. Aku lagi memberi persembahan nih. Apa aku terlihat aneh?”
“Sangat. Lebih aneh dari pada Kugy!”
“Jangan samain aku sama agen Neptunus itu.”
“Terus…”
“Ya begitu.”
“Begitu gimana?”
“Seperti yang kamu lihat.” Aku tak berani berdebat lagi. Bisa panjang. Kamu pun menengadah dan merentangkan tangan. Lalu berputar-putar.
“Ay… Coba deh ikutin aku. Rasakan setiap butir-butir air yang menyentuh kulit kita. Sambil mencium bau tanah. Resapi… Hayati… Oh…”
Aku mengikuti saranmu. Aku seperti mendengar alam bersuka cita. Kamu menghentikan ritual itu. Aku pun mengikutinya. Sekarang kamu memegang tanganku. Dan mengajaku berputar bersama. Ada kehangatan. Berada di dekatmu sungguh membuatku damai. Kini giliranku menghentikan ritual ini. Ku tarik tubuhmu yang basah. Kudekap… dan kucium keningmu. Akankah aku bisa memilikimu selamanya… Batinku.

Foto Untuk Undangan…
“Kenapa sih harus di sisni?”
“Ini sawah sayangku!”
“Aku tahu beib. Maksudku, tak bisakah kita berfoto di tempat lain?”
“Sawah ini tempat penuh kenangan Ayang.”
Dengan pakaian pengantin ini kita menggali sumur-sumuran. Beberapa anak juga ikut kami foto bersama. Katanya biar natural. Kita juga bermain layang-layang dan mengejar layang-layang. Bukan hanya itu, kita juga berfoto sambil menunggang kerbau. “Ini akan menjadi foto pernikahan paling jenius yang pernah di buat.” Katamu. Bukan jenius, tapi gila.

Penikahan …
Aku sudah tahu kegilaanmu. Tapi aku tak menyangka jika lagi-lagi harus di sawah. Beginilah jadinya pernikahan kita. Konsep pernikahan pesta panen. Pagar ayu dan Bagar bagus kamu suruh didandani dengan pakaian petani. Tempat perasmananpun di saung-saung. Menurutku ini lebih mirip restauran sunda yang sedang ada pameran gaun pengantin?
“Ay… Kamu tampak semakin gagah dengan pakaian adat ini!”
“Beib… Kamu juga tampak semakin cantik!”

Saat ini…
“Beib, apakah kamu rindu masa-masa itu?’”
“Ah kamu. jangan panggil aku beib lagi. Ini sudah tidak pada masanya. Malu didengar cucu-cucu kita…”
“Sekarang kita sudah tak bisa lagi melakukannya.”
“Kata siapa? Kita bisa buat sumur-sumuran lagi. Kita bisa bermain layang-layang lagi dan mengejar layang-layang yang putus. Kita bisa menari di antara hujan. Bersama cucu kita tentunya…”
“Apakah kamu sudah gila? Tubuh kita semakin merenta. Dari dulu kamu memang aneh.”
“Kamu terlalu banyak berfikir sayang. Khawatir ini itu. Coba bebaskan sedikit. Aku mau tanya, apa yang kamu takutkan dulu pernahkah terjadi? Tidak bukan! Buktinya kita masih bisa bernafas hingga saat ini. Oh ya, aku memang aneh. Tetapi kamu lebih aneh karena memilih orang aneh untuk menjadi pendampingmu.” Dia tersenyum.
“Ok. Kita main layang-layang bersama cucu kita. Tapi kamu harus janji, jangan lari mengejar layang-layang putus!”
“Benarkah?”
“Ya.”
“Aku kira kamu bercanda!”
“Apa mau dibatalkan?”
“Jangan. Ok, aku panggil dulu cucu kita.”
Kami pun pergi menuju sawah. Tiba-tiba…
“Layangan putus…!” Dia spontan berlari mengejar layang-layang. Di susul cucuku. Aku mematung.

End

Cerpen Karangan: Kang Zaen
Facebook: zaenudin_setiawan[-at-]yahoo.com