Senin, 16 Desember 2013

Peluang, Permutasi dan Kombinasi Matematika

1) Permutasi
Permutasi adalah susunan unsur-unsur yang berbeda dalam urutan tertentu. Pada permutasi urutan diperhatikan sehingga
Permutasi k unsur dari n unsur adalah semua urutan yang berbeda yang mungkin dari k unsur yang diambil dari n unsur yang berbeda. Banyak permutasi k unsur dari n unsur ditulis atau .
Permutasi siklis (melingkar) dari n unsur adalah (n-1) !
Cara cepat mengerjakan soal permutasi

dengan penulisan nPk, hitung 10P4
kita langsung tulis 4 angka dari 10 mundur, yaitu 10.9.8.7
jadi 10P4 = 10x9x8x7 berapa itu? hitung sendiri :)
Contoh permutasi siklis :
Suatu keluarga yang terdiri atas 6 orang duduk mengelilingi sebuah meja makan yang berbentuk lingkaran. Berapa banyak cara agar mereka dapat duduk mengelilingi meja makan dengan cara yang berbeda?
Jawab :
Banyaknya cara agar 6 orang dapat duduk mengelilingi meja makan dengan urutan yang berbeda sama dengan banyak permutasi siklis (melingkar) 6 unsur yaitu :
2) Kombinasi
Kombinasi adalah susunan unsur-unsur dengan tidak memperhatikan urutannya. Pada kombinasi AB = BA. Dari suatu himpunan dengan n unsur dapat disusun himpunan bagiannya dengan untuk Setiap himpunan bagian dengan k unsur dari himpunan dengan unsur n disebut kombinasi k unsur dari n yang dilambangkan dengan ,
Contoh :
Diketahui himpunan .
Tentukan banyak himpunan bagian dari himpunan A yang memiliki 2 unsur!
Jawab :

Banyak himpunan bagian dari A yang memiliki 2 unsur adalah C (6, 2).

Cara cepat mengerjakan soal kombinasi
dengan penulisan nCk, hitung 10C4
kita langsung tulis 4 angka dari 10 mundur lalu dibagi 4!, yaitu 10.9.8.7 dibagi 4.3.2.1
jadi 10C4 = 10x9x8x7 / 4x3x2x1 berapa itu? hitung sendiri :)
Ohya jika ditanya 10C6 maka sama dengan 10C4, ingat 10C6=10C4. contoh lainnya
20C5=20C15
3C2=3C1
100C97=100C3
melihat polanya? hehe semoga bermanfaat!
Peluang Matematika
1. Pengertian Ruang Sampel dan Kejadian
Himpunan S dari semua kejadian atau peristiwa yang mungkin mucul dari suatu percobaan disebut ruang sampel. Kejadian khusus atau suatu unsur dari S disebut titik sampel atau sampel. Suatu kejadian A adalah suatu himpunan bagian dari ruang sampel S.
Contoh:
Diberikan percobaan pelemparan 3 mata uang logam sekaligus 1 kali, yang masing-masing memiliki sisi angka ( A ) dan gambar ( G ). Jika P adalah kejadian muncul dua angka, tentukan S, P (kejadian)!
Jawab :
S = { AAA, AAG, AGA, GAA, GAG, AGG, GGA, GGG}
P = {AAG, AGA, GAA}
2. Pengertian Peluang Suatu Kejadian
Pada suatu percobaan terdapat n hasil yang mungkin dan masing-masing berkesempatan sama untuk muncul. Jika dari hasil percobaan ini terdapat k hasil yang merupakan kejadian A, maka peluang kejadian A ditulis P ( A ) ditentukan dengan rumus :
Contoh :
Pada percobaan pelemparan sebuah dadu, tentukanlah peluang percobaan kejadian muncul bilangan genap!
Jawab : S = { 1, 2, 3, 4, 5, 6} maka n ( S ) = 6
Misalkan A adalah kejadian muncul bilangan genap, maka:
A = {2, 4, 6} dan n ( A ) = 3
3. Kisaran Nilai Peluang Matematika
Misalkan A adalah sebarang kejadian pada ruang sampel S dengan n ( S ) = n, n ( A ) = k dan
Jadi, peluang suatu kejadian terletak pada interval tertutup [0,1]. Suatu kejadian yang peluangnya nol dinamakan kejadian mustahil dan kejadian yang peluangnya 1 dinamakan kejadian pasti.
4. Frekuensi Harapan Suatu Kejadian
Jika A adalah suatu kejadian pada frekuensi ruang sampel S dengan peluang P ( A ), maka frekuensi harapan kejadian A dari n kali percobaan adalah n x P( A ).
Contoh :
Bila sebuah dadu dilempar 720 kali, berapakah frekuensi harapan dari munculnya mata dadu 1? Jawab :
Pada pelemparan dadu 1 kali, S = { 1, 2, 3, 4, 5, 6 } maka n (S) = 6.
Misalkan A adalah kejadian munculnya mata dadu 1, maka:
A = { 1 } dan n ( A ) sehingga :
Frekuensi harapan munculnya mata dadu 1 adalah
5. Peluang Komplemen Suatu Kejadian
Misalkan S adalah ruang sampel dengan n ( S ) = n, A adalah kejadian pada ruang sampel S, dengan n ( A ) = k dan Ac adalah komplemen kejadian A, maka nilai n (Ac) = n – k, sehingga :

Jadi, jika peluang hasil dari suatu percobaan adalah P, maka peluang hasil itu tidak terjadi adalah (1 – P).
Peluang Kejadian Majemuk
1. Gabungan Dua Kejadian
Untuk setiap kejadian A dan B berlaku :
Catatan : dibaca “ Kejadian A atau B dan dibaca “Kejadian A dan B”
Contoh :
Pada pelemparan sebuah dadu, A adalah kejadian munculnya bilangan komposit dan B adalah kejadian muncul bilangan genap. Carilah peluang kejadian A atau B!
Jawab :
2. Kejadian-kejadian Saling Lepas
Untuk setiap kejadian berlaku Jika . Sehingga Dalam kasus ini, A dan B disebut dua kejadian saling lepas.
3. Kejadian Bersyarat
Jika P (B) adalah peluang kejadian B, maka P (A|B) didefinisikan sebagai peluang kejadian A dengan syarat B telah terjadi. Jika adalah peluang terjadinya A dan B, maka Dalam kasus ini, dua kejadian tersebut tidak saling bebas.
4. Teorema Bayes
Teorema Bayes(1720 – 1763) mengemukakan hubungan antara P (A|B) dengan P ( B|A ) dalam teorema berikut ini :
5. Kejadian saling bebas Stokhastik
(i) Misalkan A dan B adalah kejadian – kejadian pada ruang sampel S, A dan B disebut dua kejadian saling bebas stokhastik apabila kemunculan salah satu tidak dipengaruhi kemunculan yang lainnya atau : P (A | B) = P (A), sehingga:

Sebaran Peluang
1. Pengertian Peubah acak dan Sebaran Peluang.
Peubah acak X adalah fungsi dari suatu sampel S ke bilangan real R. Jika X adalah peubah acak pada ruang sampel S denga X (S) merupakan himpunan berhingga, peubah acak X dinamakan peubah acak diskrit. Jika Y adalah peubah acak pada ruang sampel S dengan Y(S) merupakan interval, peubah acak Y disebut peubah acak kontinu. Jika X adalah fungsi dari sampel S ke himpunan bilangan real R, untuk setiap dan setiap maka:

Misalkan X adalah peubah acak diskrit pada ruang sampel S, fungsi masa peluang disingkat sebaran peluang dari X adalah fungsi f dari R yang ditentukan dengan rumus berikut :

2. Sebaran Binom
Sebaran Binom atau Distribusi Binomial dinyatakan dengan rumus sebagai berikut :

Dengan P sebagai parameter dan
Rumus ini dinyatakan sebagai:
untuk n = 0, 1, 2, …. ,n
Dengan P sebagai parameter dan
P = Peluang sukses
n = Banyak percobaan
x = Muncul sukses
n-x = Muncul gagal
 
sumber:  http://www.rumus.web.id/matematika/peluang-permutasi-kombinasi-matematika/

Senin, 25 November 2013

"MENEMUKANMU"
Oleh : Veronika Marsudiati

Aku lemah,.
Aku lelah.,
Aku tak sanggup untuk bertahan,.
Mengharap hal tak pasti.,
bagiku ia masa lalu
Aku tak mau berlarut dalam kesedihan.,
Sampai akhirnya.,
Aku mengenalmu.,
Menyukaimu.,
Menyayangimu dan.,
Akhirnya aku "MENCINTAIMU"
Hembusan anginyang selalu hadir.,
Hadir tuk sampaikan.,
Rasa rindu akan hadirmu.,
Bulan tersenyum saat aku tau.,
Kau disana juga merindukanku.,
Bintang bersinar seakan.,
Menghantarkan ku tuk bersamamu.,
Menemanimu dalam gelapnya malam.,
Sayang.,.,,,,.,
Tuntun aku ketika aku terjatuh.,
Terluka.,
Sakit dan,.
Ketika aku menangis.,
Aku berharap kau selalu ada di sampingku.,
menemaniku saat aku dalam kondisi apapun.,
Sayang.,.,.,.,.
Aku tak sempurna namun kasihku sempurna.,.
Sayangi aku dengan Tulus.,.
Setulus aku menyayangimu.,
Jangan buat aku pelampiasanmu.,.
"Karena Aku Mencintaimu"

Cerpen cinta ini adalah karya Veronika Marsudiati
email : lempereuy@ymail.com
Aku Pasti Kembali Karya : putri ayu pasundan
Namaku jelita, aku sekolah di sma vanderwaald. Aku duduk di kelas 1 sma. Aku termasuk siswa yang pandai, dan juga mudah bergaul. Aku mempunyai seorang sahabat dia bernama putra. Putra adalah sosok sahabat yang baik, perhatian, dan selalu mengerti keadaanku, dilain waktu saat aku bersedih, dia yang selalu menghiburku. Suatu ketika dia memendam perasaan yang sama dan aku juga merasakannya.

“jelita..” panggil seseorang itu dari arah belakang. Dan itu sahabatku putra.

“iya put..? ada apa?’’ tanyaku.

“pulang sekolah , ikut aku ya.. aku mau ngajak kamu ke suatu tempat.”

“oke baik.”

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, putra langsung menghampiriku dia sudah berdiri tepat di ambang pintu kelasku. Dia memanggilku sambil tersenyum.

“jelita.. ayok kita berangkat.”

Putra tiba-tiba mengandeng tanganku , menuruni anak tangga, Dan segera menuju ke area parkir. Kelas kami berada di lantai 3 . Aku dan dia berbeda kelas . Sejak smp kita selalu bareng. Dan sampai SMA ini. Setelah kami tiba di area parkir, putra mengeluarkan motornya yang terparkir dekat pos satpam.

“ayok naik.” Putra mempersilahkan aku untuk naik ke motornya, dan kini kami berangkat meninggalkan area parkir. Juga sekolah.
“kita mau kemana?’’ tanyaku kepadanya.

“ke suatu tempat. Dan kamu pasti suka.” Setelah beberapa menit di perjalanan , kami pun sampai di tempat tujuan. Ternyata putra mengajakku ke sebuah taman bermain. Di taman tersebut . terpampang air mancur yang begitu indah, banyak sekali bunga-bunga yang berwarna warni. Kami berdua duduk di kursi dekat taman.

“jelita… “ panggil putra kepadaku, sorotan mata tajam nya yang takkan pernah ku lupakan sejak dulu . deg…. Jantungku berdebar-debar. Aku tak mengerti tentang perasaan ku padanya, sudah 5 tahun kami bersama.. saling melengkapi satu sama lain. Tapi, tak pernah aku mengerti hubunganku dengannya.. yang aku tau, aku dan dia bersahabat.

“putra, kok nangis?’’ tanyaku padanya. Putra meneteskan air matanya perlahan demi perlahan . ku apus air matanya yang membasahi kedua pipinya..

“aku gak nangis, aku Cuma bahagia aja punya sahabat kaya kamu.” Di usap rambutku dengan kelembutan tangannya. Putra memang sahabatku , dan juga kakak bagiku. karena itu aku tak mau kehilangannya.

“jelita, suatu saat nanti, aku gak bisa terus berada di sisi kamu, kamu harus bisa nantinya tanpa aku. Aku gak mau terus-terusan jadi benalu yang selalu ada di hidupmu. Kamu harus bisa jalani hidup , dan mungkin tanpa aku. ingat janji kita dulu. Kalo kita akan selalu bersama.”

“putra kok ngomongnya gitu, tanpa kamu hidup jelita ga mungkin seceria ini. Karna kamu, hidup jelita bahagia dan lebih berwarna. Kalaupun nantinya putra ninggalin jelita, jelita akan cari putra sampai kapanpun dan bakal nungguin putra sampai putra kembali. Entah beberapa lamanya”

“tapi, inget. Kalo putra gak ada di samping kamu lagi. Kamu janji harus selalu tersenyum.”

“iya, jelita janji… jelita akan selalu tersenyum untuk kamu.”

Hari sudah semakin berlarut. Meninggalkan semua kisah yang ada. Taman tersebut menjadi ikatan janji mereka.

***
Keesokan harinya di sekolah, tepat pukul 06:15 menit.

“jelita, ini ada surat untuk kamu.”dihampirinya jelita , Di kasihnya sepucuk surat itu untuknya yang terpampang besar siapa nama pengirim surat itu. yaitu “putra” .

Deg…… hati jelita tiba-tiba gelisah tak menentu. Tak mengerti apa yang sedang iya rasakan saat ini. Di bukanya isi surat itu perlahan.

“jelitaa… ini aku putra, maafin aku ya kemarin aku gak sempet berfikiran untuk ngomong ke kamu. Karna semua itu terlalu berat untukku. Aku gak sanggup ninggalin kamu disini. Mungkin, saat kamu baca surat ini aku sudah tiba di Kalimantan. Papaku dinas disana, dan terpaksa aku ikut dengannya. Maafin aku ya jelita. Inget janji kita. Kamu harus tetap tersenyum. Suatu saat nanti kita pasti akan bertemu lagi.“

Di akhirinya akhir surat itu. Jelita yang hanya bisa diam membisu dan pucat pasi di tempat duduknya. Perlahan iya menteskan air mata dan tidak percaya akan semuanya. Tak pernah iya mengerti akan semua perasaannya. Sedih, kecewa, semuanya yang iya alami saat ini. Tak sempat iya mengatakan tentang perasaannya yang sebenernya kepada putra. Cinta… mungkin ini yang aku rasakan. Perasaan itu tak pernah ku sadari sebelumnya, setelah kepergianmu baru aku menyadari.. cinta itu ada.

***
Setelah pulang sekolah, aku bergegas untuk pergi kerumah putra. Tetapi hasilnya nihil, tak ada satupun orang yang menjawab sapaanku. Rumah itu kosong. Jelita tak tau harus mencari putra kemana lagi. Akhirnya , aku memutuskan untuk pergi ke Taman kemarin, terakhir kali aku bertemu dengannya, bersamanya…. Taman itu sepi.. tak seperti biasanya, tak banyak orang yang lewat area taman bermain itu. dihampirinya kursi taman tempat aku duduk bersama putra waktu itu. Aku mengingat kembali perpisahan terakhirku dengannya. Aku meneteskan air mata.

***
Setelah 2 tahun aku menunggu, putra tak juga ada kabar. Selama itu aku tak pernah seceria dulu. Hanya kesedihan yang tampak di wajahku. Sesering kali aku mengingat kenangan itu, itu membuatku sakit. Sekalipun aku mencoba melupakannya, itu akan semakin sakit. Beberapa sering aku memutar lagu pasto’aku pasti kembali’ liriknya yang benar-benar menyentuh hatiku.

Reff : aku hanya pergi tuk sementara..
bukan tuk meninggalkanmu selamanya..
aku pasti kan kembali, pada dirimu ..
tapi kau jangan nakal.. aku pasti kembali…..

selama 2 tahun, kenangan itu menghantui harii-hari ku . tang sanggup aku melupakannya. Kini aku benar-benar mencintainya. Cinta bukan lagi sekedar sahabat , tetapi perasaan yang lebih dari pada itu.

hari ini adalah hari ulang tahunku yang ke 17 , sekarang aku sudah duduk di bangku kelas 3 sma, sekalipun aku ingin pindah ke lain hati dan berpaling dari putra, aku masih takut. Karena luka yang ada di hatiku masih ada. Setelah malam kian tiba, putra tak juga mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Padahal hanya sapaannya, dan ucapannya yang begitu berarti untukku..

hari ini sweet seventeen ku. Dan mungkin itu semua tak ada artinya kalau putra tak ada di sampingku. Malam ini aku ingin sekali pergi ke taman itu. untuk menenangkan diri disana, mungkin hanya beberapa saat. Aku akhirnya memutuskann untuk pergi kesana dan meninnggalkan acara dan tamu undangan yang telah hadir di pesta ulang tahunku yang ke 17 itu. aku pergi ke sana dengan di temani supir papaku dan setelah beberapa menit di perjalanan, aku tiba di taman itu. aku tak menyangka.. begitu indah suasana taman tersebut dengan lampu lampion-lampion yang khas terpampang disana. Dekorasi lampu-lampu kecil di setiap pohon yang mengelilingi menambah indah suasana taman itu. aku duduk di kursi putih taman itu. tiba-tiba beberapa saat aku memejamkan kedua mataku dan membukanya kembali aku melihat sesosok putra di depan mataku. Dia tampak berbeda dari dahulu, aku tak percaya kini dia ada di depan mataku, atau mungkin ini hanya ilusiku.

“happy birthday jelita.. aku nepatin janjiku kan , kita pasti bertemu kembali. Dan aku pasti kembali.”

“ini benar kamu?’’ tanyaku tak percaya.

“iya, ini aku. aku putra.”

“kemana aja kamu, kamu gatau aku disini sedih mikirin kamu, kamu gak ada kabar dan hilang gitu aja.”

“maafin aku, aku Cuma gak mau ganggu konsentrasi belajar kamu.”

Putra menghampiriku dan memberiku sekotak bingkisan tanda ucapan ulang tahunku. Dan ternyata itu adalah sebuah kalung yang berukiran tulisan nama kita berdua. Gaun cantik yang aku kenakan malam itu saat ulang tahunku berwarna putih, dan juga putra, membawa bunga mawar merah kesukaaanku dan ia mengenakan jas kemeja putih.

“aku janji gak akan ninggalin kamu lagi. Aku gak bisa tanpamu. Aku mencintaimu, aku sayang kamu jelita.” Kini dia menggutarakan isi hatinya, hanya itu kata yang aku tunggu selama ini dari mulutnya.

“akupun begitu. Ini adalah hari terindahku. Kamu kembali, untuk menjadi sahabatku, juga kekasih bagiku…..”

_The end_
1My Boyfriend                                     
Oleh:Eka Viva R

Pertemuan pertama ku dengan dia adalah di Kahuripan Nirwana.Saat itu aku mau berangkat les dengan salah satu sahabat ku.Tapi karena aku berangkat nya labih awal jadi aku memutuskan untuk jalan2 ke kahuripan.Aku berhenti sebentar karena capek menyetir dan aku menyisir rambut ku sejenak karena terlalu berantakan.Tiba2 ada 2 orang cowok yang menghampiri kami dan meminta nomor HP kami.Karena sahabat ku sudah mempunyai cowok akhirnya dia meminta nomor HP ku.

Sebenarnya aku gak mau ngasih nomor HP ku karna aku takut sama dia.Wajahnya yang membuatku takut apa lagi temen dia yang memakai tindik.Tapi aku berfikir lagi karena belum tentu dia jahat.Akhirnya aku memberikan nomerku ke dia.Setelah itu berterima kasih padaku.Dan kami segera berangkat les karena sudah telat.

Tak lama kemudian setelah aku sampai di tempat les,aku menerima SMS dari nomor yang tak aku kenal.Aku pun membuka sms itu dn membacanya.

1 pesan baru

Dari:089665026***
Sore

Replay
Ke:089665026***
Juga,
Ini siapa ya...?!

Dari :089665026***
Aku anak yang tadi minta nomor kamu di kahuripan

Kepada :089665026***
Iya siapa nama kamu?

Dari :089665026***
Aku Yusuf,
Kamu sendiri siapa?

Kepada :089665026***
Aku Yesinka

Dari :089665026***
Owh,kamu sekkolah dimana?

Kepada :089665026***
Aku sekolah di Spenido
Kalau kamu?

Dari :089665026***
Mana itu?
Aku sekolah di SMA PGRI 1 Sda

Kepada :089665026***
SMPN 1 skd,
Masak gak tau?

Dari :089665026***
Owh iya aku tau kok
Kamu kelas berapa?

Kepada :089665026***
Aku kelas 9,
Kamu...?!

Dari :089665026***
Aku kelas 11

Kepada :089665026***
Owh...

Sudah dulu ya aku mau les dulu nanti di lanjutin lagi

Dari :089665026***
Iya

Akhirnya aku melanjutkan les ku lagi dan setelah pulang les aku melanjutkan sms ku dengan dia lagi.Setelah 2 hari aku asyik mengobrol dengan dia dan saling tau sifat dari kita.Dia menyatakan perasaan nya kepada ku.Aku benar2 kaget dan gak percaya.Aku tak langsung menerimanya,karna aku takut dia menyakitiku.Aku meminta waktu ke dia untuk berfikir dan memutuskan.Dia memberiku waktu 1 hari untu berfikir dan memutuskan.

Esoknya,kami ketemuan di kahuripan dan aku pun memutuskan untuk menerimanya sebagai kekasihku.Sejak saat itu hari2 ku berubah karena kehadirannya di dalam kehidupan ku.Hari2 ku menjadi lebih cerah dan dia selalu membuatku tertawa bila aku berada di dekatnya.i kekasihku lama2 mereka menyetujui ku

Aku pun mengenalkannya pada sahabat2 ku.Memang pada awalnya mereka tak suka pada kekasih ku,tapi setetlah mereka tau sifat asli dari kekasihku lama2 mereka menyetujui hubungan ku dengan nya.Aku sangat senang karna kekasihku juga akrab banget sama sahabat2 ku.Dia tak pernah membeda-bedakan aku dengan sahabat2ku.

Aku beruntung bisa mendapatkan kekasih yang baik seperti dia.Aku akan selalu menjaga dan setia pada dia.Aku takkan membuatmu kecewa sayang.....

<....... sekian ........>

Cerpen  cinta ini ditulis oleh Eka Viva R 
email : yusufeka62@gmail.com

Selasa, 19 November 2013



Wita itulah panggilanku di sekolah baruku, hari pertama sekolah sama seperti sekolah-sekolah lainnya tak lain dan tak bukan pasti perkenalan lalu pemilihan ketua kelas, tapi beda denganku tak seperti yang aku bayangkan sebelum sampai sekolah. Hari pertama sekolah justru menjadi hari terburuk yang pernah aku rasakan karena aku tak secantik cewek-cewek yang bersekolah di situ bnyak sekali murid-murid lain yang menertawakanku. Huuu entah apa yang mereka tertawakan ku anggap saja angin lalu.
Hari-hari selanjutnya pun sama tak ada hari tanpa ejekan yang menyakitkan sampai-sampai ejekan itu memperkenalkanku dengan dimas adalah cowok ganteng yang letak kelasnya tak jauh dari kelasku. Semakin hari ejekan itu menjadi kebal di telingaku bahkan ketika dimas memanggilku dengan panggilan “witut” seperti ada yang bernyanyi di telingaku mungkin cinta telah mengubah maknanya di hatiku.
Terlampau sering dia mengejekku semakin sering juga aku ingin selalu di dekatnya. Lama-lama kita jadi sering ngobrol, bercanda, bahkan jalan-jalan bersama. Aku tak tahu entah apa isi benaknya saat itu yang jelas aku menyayanginya tanpa dia sadari. Dia seolah-olah memberiku harapan bahwa aku harus mempertahankan cintaku.
Lama berjalan hubungan pertemanan ini ternyata ia telah mempunyai incaran hati, yang tak pernah aku ketahui darinya dan pacarnya pun tak mengijinkan bila aku bertemu lagi dengan dimas. Aku hanya terdiam seperti ada yang mencincang-cincang hatiku. Suasana ini membuatku tak merasakan hidup lagi, dunia terasa sepi, mungkin dunia tak berwarna lagi…(kelebayan dot com) tapi memang itulah yang kurasakan. Selama 3 hari aku seperti manusia yang tak bernyawa menurug diri di kamar tak ada niatku untuk bergembira lagi. Dia pun telah bahagia dengan pujaan hatinya itu sampai-sampai dia tidak ingat aku lagi.
Esok harinya aku melihat satu pesan di handphoneku yang bertuliskan:
“EH JELEK, JANGAN HUBUNGI AKU LAGI. KAMU TAU MAKSUDKU KAN. ANGGAP SAJA KITA TAK PERNAH KENAL”
Membaca pesan itu membuatku ingin pingsan tapi aku tidak boleh kalah dengan perasaan galau ini. Aku memberanikan diri untuk sekolah kembali dan mencoba menatap kenyataan bahwa pangeranku telah di miliki orang lain. Setiap kali aku melihatnya sedang menikmati hari-harinya dengan pacar yang paling dia cintainya itu… jiwaku melonjak, merintih bahkan menjerit berkata “aku tak suka dengan kenyataan ini” dan mencoba tersenyum ketika dia melihatku. Begitulah yang aku rasakan tiapaku menapaki lantai sekolahku. Terkadang aku bertanya pada diriku sendiri “pantaskah hati ini memilikimu?”.

Berbulan-bulan telah berlalu mengubur semua kenangan indah itu, membawaku menjadi pribadi yang amat pendiam setelah lulus dari sekolah. Tak ada lagii keindahan tuk menapaki hari demi hari. Yang aku harapkan dalam hidup ini hanya dimas kembali ke hidupku, ya hidupku yang sedang sunyi tanpa cahaya kasihnya. Selalu saja pikiran itu datang lagi “masihkah ia ingat kepadaku? Walau seperti angin berlalu” (jiplak lagu dikit). Hemm ya sudahlah aku tak pantas memikirkannya lagi.
Sore ini aku pulang cepat dari tempat kerjaku, sejenak aku pun mampir ke taman yang dulu selalu ku kunjungi bersama dimas DULU. Mengahabiskan waktu di taman sambil menyelesaikan puisi-puisi yang sering aku tulis untuknya namun tak pernah tersampaikan kepadanya satu pun. Saking asiknya aku menulis sampai-sampai aku lupa membaca sms. Perlahan aku membuka ponselku dengan harapan dialah sms aku tapi nyatanya pun bukan dia melainkan sms dari seseorang yang sekarang aku tak tau keberadaannya.
“kak, aku rena adiknya ka dimas. Ka dimas kecelakaan sekarang dia koma dan di rumah sakit MT. Haryono. maaf baru memberitau kakak”

Dengan langkah seribu aku langsung tancap gas motorku dengan kecepatan yang sangat kencang dan tak lagi memikirkan keselamatanku yang jelas aku tak ingin kehilangannya walaupun dimas tak pernah menghiraukanku.
Sesampainya di rumah sakit aku menelpon rena menanyakan dimana kamar dimas di rawat lalu dengan hati yang tak karuan aku telusurin lorong-lorong rumah sakit untuk menemukan dimas. akhirnya aku bertemu dengan rena tepat di depan kamar dimas kulihat rena menangis dan memeluk aku dengan erat seperti meluapkan isi hatinya. aku seperti tak berdaya melihat keadaan dimas yang terbaring lemas dengan berbagai alat kedokteran. Sebenarnya aku tak rela melihat keadaan dimas yang hanya bergantung dengan alat-alat itu tapi tanpa alat-alat itu tidak mungkin dimas dapat bertahan.
Hari-hari kini aku jalanin dengan sepi, tanpa senyum dimas yang slalu menyemangatiku, entah sampai kapan alat-alat itu menempel dengan raga dimas. dengan perasaan sayang yang tak pernah pudar sejak sma dulu aku merawat dimas penuh sepenuh jiwaku seolah dimas akan sembuh esok hari.
Terus dan terus kujalani kenyataan ini sampai akhirnya dokter memutuskan untuk menghentikan penanganan medis jika belum di dapatnya pendonor ginjal untuk menggantikan ginjal dimas yang sudah hancur terhantam stang motor, mengetahui penjelasan dokter yang hanya sesaat membuat aku tak berpikir panjang untuk mendonorkan salah satu ginjalku untuk dimas yah walaupun aku tak tau yang akan terjadi pada tubuhku nanti. Yang aku bayangkan hanyalah dimas akan kembali sehat dan dapat melanjutkan hidupnya.
Tanpa seorangpun yang tau bahwa wita mendonorkan salah satu ginjalnya pada dimas. Selesai operasi esok harinya dimas sadar dari komanya yang panjang. sengaja dokter merahasiakan keberadaanku saat operasi dari keluarganya dimas karena permintaanku agar tak ada yang mengetahui bahwa aku yang mendonorkan ginjal untuk dimas. Dua hari kemudian aku dapat sms dari adiknya dimas yang menyampaikan bahwa dimas sudah sadar dan minggu depan sudah boleh pulang, dengan bahagia aku menjenguk dimas walau jahitan operasiku belum begitu kering.
Sesampainya di depan kamar dimas aku bertemu rena kulihat wajah rena begitu bahagia karena kakaknya sudah sembuh. lalu dengan perasaan yang dagdigdug kubuka pintu kamar dimas dan aku menyapa dimas tapi apa yang aku dapatkan dimas begitu dingin dan cuek kepadaku dia pun tak menjawab sapaanku justru dia mengusirku dengan senyum menahan air mata yang mulai menetes aku pun keluar dari kamar dimas rena menegurku, aku hanya tersenyum walau air mata sudah menetes deras tak bisa kutahan, namun rena tak mengejarku dia hanya membiarkan ku pergi. sejak itu aku hidupku menjadi sunyi karena tak ada lagi yang akan aku harapkan dari seorang dimas, yang aku tahu dimas membenciku seumur hidupnya.
TIGA BULAN KEMUDIAN…
Aku duduk termenung tersandar pada bangku yang menahan rintih tubuhku yang tak sekuat dulu. di taman yang begitu banyak kenangan indah bersamanya, terus membayangkan “seandainya saja kau ada disini dimas, hidupku tak kan sesunyi ini adalah penantian terakhirku aku sadar tak mungkin aku memilikimu.. aku capek, harus menunggumu yang tak kan memberi kepastian cintamu kepadaku. aku berhenti…”
“Jangan berhenti” suara laki-laki itu memberhentikan kata-kataku dan dia memeluk pundakku dari belakang.
“jangan berhenti menyayangiku dan mencintaiku wit, karna Cuma kamu bahagiaku, kamu cinta sejatiku, Cuma kamu yang mau mengorbankan hidupmu untuk aku. Aku akan terus melengkapi semua suka duka mu wita, aku mohon jangan berhenti…
Lalu aku membalikkan badan dan kaget dengan kehadiran dimas “eh dimas kok kamu ada disini? Terus omongannya aneh lagi”
Dimas kini di depanku sambil berlutut megenggam tanganku “maafin aku yang sia-siain kamu, gak perduli dengaan kamu, aku ingin kamu mendampingi hidup aku selamanya, Aku sayang sama kamu wita”.
Tiba-tiba air mata wita menetes dan menjawab kata-kata dimas.
“Jangan cintai aku dengan rasa kasihan, aku hanya ingin melihatmu bahagia walaupun tanpa aku. Tanpa kita. ku tahu bahagiamu bukan aku dan jangan pernah kau bohongi perasaanmu sendiri dimas yakinlah bahwa cinta sejatimu itu bukan aku wita si gadis jelek”.
Dimas mengusap air mata di pipiku memelukku dengan erat.
“maukah kau menikah denganku?” dengan perasaan terharu aku tersenyum memeluk erat dimas.

Tamat.
Cerpen Karangan: Imelda Tanjung
Facebook: Imelda Tanjung


Dari dulu gadis cantik yang sangat sederhana ini tak pernah mempunyai angan-angan untuk mempunyai cowok sombong. Dia menutup diri untuk siapa saja yang bersikap sombong tak terkecuali temannya. Hanya pada satu waktu semuanya berubah ketika dia sudah masuk kuliah pada tahun pertama.
Dhanis enggan berkomentar jauh tentang status hubungannya dengan dennis. Ia tak seperti orang jatuh cinta pada umumnya. Hari-harinya seperti biasa, tak ada yang berubah sejak mereka memutuskan untuk berpacaran. Dhanis tau dia tak seharusnya berpacaran dengan dennis yang angkuh, sombong dan menyebalkan tapi takdir berkata berbeda. Mereka dipertemukan pada waktu tak terduga, saat mereka berdua mengikuti audisi paduan suara tingkat universitas. Keduanya berasal dari fakultas yang saling berbeda. Saat sedang melakukan tes wawancara untuk seleksi pertama, dhanis diantar oleh salah satu panitia yang ada disana untuk diantar keruang wawancara yang cukup besar disana berisikan tiga orang pewawancara dan tiga orang peserta. Peserta yang masih menunggu giliran itu tiba-tiba menyeletuk di samping dhanis, “awas hati-hati ya sama reno” celetuk dennis dengan nada bercanda. Dhanis menoleh ke arah dennis, dan hanya membalasnya dengan tertawa kecil.
Setelah wawancara selesai, tahap seanjutnya yaitu tes vokal. Dengan melangkah sendiri dhanis menuju ruangan tes vokal tersebut. Disana ada sekitar delapan orang yang menunggu gilirannya masuk. Di antara delapan orang tersebut termasuk dennis diantaranya. Tanpa ragu dhanis menegur dennis yang belum dikenal sebelumnya “eh kamu belum masuk tes vokal?” tanya dhanis ingin tahu. “belum nih, lama banget dari tadi, oh iya kenalan dulu. Dennis”. Jawab dennis sambil mengulurkan tangannya. “dhanis” jawabnya singkat dengan menjulurkan tangannya juga. “wah nama kita sedikit mirip ya, haha” celetuknya secara spontan. Mereka berbincang lebih setelah perkenalan tersebut. Di tengah percakapan mereka, mereka saling tahu bahwa ternyata mereka berasal dari kota yang sama yaitu jakarta. Keduanya hijrah ke Malang dengan alasan yang sama, yaitu untuk kuliah. Tapi mereka berdua sama-sama tak punya alasan yang kuat untuk menjawab pertanyaan mengapa harus pilih di Malang.
Dennis pun masuk kedalam ruangan tes vokal. Dari luar dhanis menunggu, dan terdengar suara piano yang sangat bagus dari dalam ruangan. Dhanis tak tahu siapa itu yang memainkannya, tapi yang pasti itu membuat jantung dhanis berdebar lebih cepat dan positif nervous.
Tidak lama, hanya selang waktu lima menit, dennis langsung keluar lagi. dennis langsung menyapa dhanis yang ada persis sedang duduk berhadapan pintu ruangannya. “eh lo kapan gilirannya?” tanya dennis. “belum tau kayanya abis ini, kalau gak salah” jawab dhanis. “eh gue boleh minta nomor lo nis?” tanya dhanis menyusul lagi. dengan raut wajah antara bingung dan senang dennis menjawab “oh ya boleh”. Dhanis langsung menyodorkan handphonenya ke tangan dennis, dan diketiknya sendiri oleh dennis. “nih udah” kata dennis. “oh iya makasih ya” jawab dhanis. Dhanis langsung masuk ke dalam ruangan yang sudah dinantinya. Terlihat dari ruangan tes vokal oleh dhanis, dennis tampak salting di depan ruangan itu persis tempat dimana dhanis duduk. Dennis seolah masih mau menunggu dhanis selesai dari tesnya. Dengan percakapan yang singkat dengan salah satu panitia disana “ini langsung balik atau gak?” kata dennis. “ya iya lah langsung balik aja, kamu mau nugguin apalagi disini” jawab panitia yang sudah kenal sama dennis. Disitu dennis langsung pergi, dan pintu ruangan pun ditutup.
Sepuluh menit selesai, dhanis sms dennis untuk memberitahu nomornya agar disave. Dhanis belum merasa apa-apa saat bertemu dennis. Perkenalannya tersebut hanya untuk menambah temannya dari berbagai macam fakultas. Hampir setiap orang yang berkenalan dengan dirinya pasti selalu dimintai nomor telfon supaya tidak hilang kontak dan tetap berkomunikasi sama mereka semua suatu saat jika butuh.
Dhanis memang jomblo pada saat itu tapi bukan berarti dia tak dekat dengan seseorang. Adalah Rio ketua di salah satu UKM beladiri yang diikuti di kampusnya. Mereka memang sudah saling suka tidak lama setelah dhanis masuk menjadi keanggotaan di UKM tersebut. Hampir setiap saat latihan, rio menjemput dhanis ke kostnya. Pendekatannya tak selalu berjalan dengan mulus, karena dhanis telah tau kalau rio ternyata sudah punya pacar. Tapi itu tak pernah bikin dhanis patah semangat untuk terus latihan agar bisa ketemu sama rio. Saat itu dhanis tau, rio lah yang membuatnya bisa nyaman. Setiap kali rio membagi waktunya untuk menelpon dhanis, dhanis merasa senang, nyaman, selalu ketawa. Layaknya orang jatuh cinta pada umumnya, sehingga tittle pengganggu hubungan orang, tak pernah dia perdulikan. Teman satu kamar yang sering mendengar cerita dhanis juga ikut mendukung dhanis untuk jadian sama rio, karena pikirnya dhanis jauh lebih cantik dari pacarnya rio.
Dhanis pernah dijemput oleh rio pada saat selesai kuliah, dan mereka untuk pertama kalinya berkencan di Mall. Tidak punya waktu banyak disana, hanya sebentar mengelilingi mall lalu ditutup dengan makan ice cream. karena hari itu bertepatan dimana mereka harus latihan beladiri dan kembali lagi ke kampus. ketidakjelasan itu dhanis jalanin selama berbulan bulan dengan rio sebelum pacarnya rio menyadari kedekatan mereka. Sepertinya kencan itu akan menjadi yang pertama dan terakhir untuk dhanis, karena tidak lama setelah itu pacarnya rio mulai mengetahui dan mau tidak mau dhanis dan rio harus jaga jarak agar tidak menyakiti semua pihak. Agak susah bagi dhanis merasa nyaman dengan seseorang apalagi yang belum lama dikenalnya. Tapi rio bisa membuatnya nyaman dan berani membuka hatinya kembali untuk orang lain. Rio memang tak setampan mantannya terdahulu, hanya keren lah dari mata dhanis tapi yang terpenting rio bisa membuatnya nyaman, dan tetap menjadi dhanis yang apa adanya. Dalam hatinya dhanis ingin sekali rio menjadi pacarnya, setiap kali melihat foto pacarnya rio melalui twitter via kepo yang menurut teman-temannya lebih cantik dhanis kemana-mana daripada pacarnya rio yang sekarang. Mereka berdua juga nampak tidak serasi, yang satu keren yang satu biasa-biasa aja. Hubungan rio pada saat itu belum genap setahun, baru sepuluh bulan. Dan pada saat hubungan rio dengan pacarnya genap setahun dhanis memutuskan untuk melepas rio dan tak pernah mengharapkannya lagi.
Masa-masa galau dilewati dhanis. Pada saat masih berhubungan dengan rio sebenarnya dhanis juga sedikit ada smsan dengan dennis tapi tak sesering dengan rio memang. Kata “gue dan lo” dirubah menjadi “aku dan kamu” oleh dennis setelah beberapa kali smsan. Dhanis merasa sangat bingung, kenapa tiba-tiba kata-kata dennis menjadi berubah, dhanis tak meu memikirkannya lebih jauh. Dhanis sangat tahu dirinya bahwa kehidupannya berbeda dengan dennis. Sempat beberapa kali dennis mengajak dhanis ke tempat coffe yang biasa dennis datangi bersama teman-temannya untuk mengerjakan tugas. Sampai-sampai ketika dennis sedang mengerjakan tugas bersama teman-temannya di tempat itu, dhanis ditelpon dennis untuk ikut kumpul bersamanya. Pada saat itu dhanis menolak ajakannya dennis. Seminggu dimasa galaunya dengan rio, dia melihat inboxnya masih ada naama dennis. Akhirnya dia kepikiran untuk bertemu dennis sekedar sharing sekaligus menghilangkan kegalauan sejenak.
Mereka bertemu tidak jauh dari kost dhanis. Dengan say hello yang seadanya, dhanis langsung menaiki motor dennis. Dennis mengajaknya pergi ke tempat coffe juga, tapi bukan tempat biasanya dennis datangi. Tempat itu cukup jauh, disana dennis cerita banyak tentang keluarga dan mantan-mantannya. Dhanis tak begitu banyak omong disana, karena dhanis sangat menjaga ucapannya dengan orang yang baru dikenal apalagi dengan seorang dennis. Hanya sesekali dhanis menceritakan masa-masa SMAnya dan mantan terdahulunya. Dari pembicaraannya dennis, terlihat sekali kehidupan yang sangat kontras dengan dhanis. Dennis berasal dari keluarga yang memang berkecukupan dari kecil, sedangkan dhanis hanya berasal dari keluarga sederhana dengan segala kebutuhan yang sederhana juga tentunya. Jelas sekali bahwa perbedaan gaya hidup, dan semacamnya sangat berbeda antara mereka berdua.
Tepat pukul sembilan malam, dennis mengantarkan dhanis pulang kekosnya. Ucapan terimakasih tak lupa dhanis ucapkan ketika turun dari motor dennis. Pertemuan untuk kedua kalinya dengan dennis dirasa cukup oleh dhanis. Dhanis merasa mulai tidak cocok untuk berteman lebih lanjut, lebih baik hanya sebatas kenal. Dhanis juga sudah jarang sms dennis duluan setelah itu.
Empat hari kemudian, dhanis mendapat sms dari dennis. Dennis ingin makan malam berdua dengan dhanis malam itu. setelah mikir panjang, dhanis membalas sms dennis dan menyetujui ajakannya tersebut. Dennis mengajak dhanis pergi ke restoran P. Mereka duduk di meja yang paling pojok dengan lilin menyala di atas meja dan penerangan yang tidak cukup terang bisa dibilang itu spot yang paling pas buat pasangan yang ingin candle light dinner. Tapi pasangan yang ini belum mennjadi sepasang kekasih, melainkan pasangan yang hanya bertemu dua kali dan pasang nekat untuk makan malam seperti ini. Lagi-lagi dhanis hanya lebih banyak mendengar cerita dennis yang terlalu melebih-lebihkan. Sebenarnya dhanis sangat bete mendengar kata-kata dennis, tapi dhanis gak bisa memungkiri rasa senangnya diajak ke tempat romantis seperti itu.
Setelah selesai, dennis kembali mengantarkan dhanis, kali ini tidak didepan kostnya dhanis. Lebih satu rumah dari kostnya dhanis, dennis berhenti disana. Dhanis segera turun, dan tidak lupa mengucapkan terimakasih, kali ini mukanya lebih bebinar. “iya sama-sama, aku juga seneng”. Kata dennis. Dhanis hanya tersenyum manis. “kamu mau kemana lagi abis ini nis?” tanya dhanis. “langsung pulang kok, banyak tugas yang belum selesai. Dan, besok aku boleh ngajak kamu pergi lagi gak?” jawab dan tanya dennis. “mau ngapain emangnya?” jawab dhanis, penasaran. “ya liat besok ajalah” jawab dennis singkat. “oh gitu liat besok ya, kayanya sih bisa” jawab dhanis tersenyum.
Esoknya benar saja mereka beertemu untuk ke empat kalinya. Kali ini dennis mengajak dhanis pergi nonton di bioskop, film yang mereka pilih juga romans. Di tengah-tengah film dennis mencoba mengajak ngobrol dhanis, “dan, kamu pernah gak sih merasa kesepian disini?” tanya dennis. “ha, apa nis? Kesepian? Gak sih, kan ada temen-temen” jawab dhanis, polos. “maksudnya kesepian dari pacar, pernah gak sih?” tanya dennis, meyakinkan. “hm, iya sih pernah. Gak ada yang sms, gak ada yang telpon setiap hari” jawab dhanis. “dan, kamu mau gak jadi pacar aku?” tanya dennis, menatap mata dhanis. Dhanis mendengar itu seolah gak percaya kalau itu dennis yang ngomong, dhanis hanya diam, berpikir sejenak. Dhanis merasa pertemuannya beberapa kali itu membuat dirinya sedikit tidak nyaman untuk selalu bercakap dengan dennis. Tapi di sisi lain, dhanis juga butuh seseorang untuk mengobati kekecewaannya atas hubungannya dengan rio.
Dennis memegang tangan dhanis, dan menatapnya penuh keyakinan. Ini membuat dhanis semakin berpikir terus-menerus. Pertanyaan dennis dijawab dhanis, setelah dia pulang dari bioskop. Ketika dhanis turun dari motor, sebelum membalikan badannya masuk ke dalam rumah. Dhanis berbicara dengan dennis, “nis, makasih lagi ya. Udah ngajakin aku nonton malam ini. Maaf juga tadi belum jawab pertanyaan kamu, aku rasa ini terlalu cepat”, lalu berhenti. “maafin aku ya, ini memang terlalu cepat. Sebenernya kemaren malam itu aku juga udah mau ngomong ini. Tapi baru berani sekarang. kalo kamu belum bisa jawab, besok aku tunggu jawaban kamu ya”. kata dennis. “iya, aku rasa ini cepat banget buat aku. Tapi aku juga mikirin untuk punya pacar lagi” kata dhanis. “aku tunggu besok ya” jawab dennis. Dennis langsung menghidupkan mesin motornya untuk segera pulang, tapi dhanis sempat menahannya “nis, aku mau jadi pacar kamu” kata dhanis. “seriusan kamu?” jawab dennis kaget. “iya aku mau coba jalanin sama kamu dulu” kata dhanis, tersenyum. Mendengarnya, dennis langsung memegang tangan dhanis, sambil berkata “makasih ya dan, nanti kita ngobrol lagi ya”. Dennis langsung pamitan dengan dhanis dan pulang.
Tak ada yang berubah dari dhanis, setelah dia memutuskan untuk mau menjadi pacar dennis saat itu. mungkin yang berubah hanya pengharapan telpon dan sms dari pacar barunya itu. ya tak ada yang berubah, pada dasarnya dennis memang anak yang paling sibuk. Sama seperti sebelumnya saat saat mereka berdua masih menjadi teman. Dhanis sempat kesal sekali karena dennis hanya sekali mengabarinya. Dhanis mengira kalau dia jadi pacarnya dennis, paling tidak dennis berubah sedikit agak perhatian walaupun sibuk. Tapi ternyata tidak sama sekali. Kekesalannya itu, dhanis lontarkan kejaringan sosial twitter, dhanis tau kalau dennis gak pernah nge-poin dia di twitter karena memang dennis jarang sekali online twitter. punya cowok kaya gak punya cowok. kata kata itu dhanis tulis di twitter. Delapan jam kemudian, dhanis mendapat pesan singkat dari dennis “aku udah mencoba untuk mendekatkan diri sama kamu, tapi kaya’nya kamu gak pernah bisa deket sama aku” dennis. “kenapa kamu ngomong gitu? kamu jarang sms aku, aku itu pacar atau temen kamu emangnya?” jawab dhanis ketus. “aku gak suka smsan, aku lebih baik telpon-telponan” jawab dennis.
Percakapan panjang itu mereka lanjutkan di telpon. Dennis memang orang yang tidak mau kalah, sedangkan dhanis paling males meladeni orang seperti itu. jadilah percakapan itu tidak ada jalan keluarnya, yang ada hanya emosi dari mereka berdua. Sampai pada akhirnya dennis mengucapkan kata putus kepada dhanis. Dhanis tak pernah perduli kalau dia diputusin, tapi dia kesal dan merasa gak abis pikir mengapa dia dipertemukan dengan cowok seperti dennis yang tipe seperti dennis lah yang dibenci. Mungkin Tuhan berencana lain, pikirnya positif. Dan hubungan mereka berdua hanya berjalan dua minggu saja.
Setelah putus, dhanis tak pernah sekalipun mencoba sms dennis, bahkan kepo di twitter pun gak pernah dia lakukan. Itu karena dia gak mau sakit hati lagi sama seseorang yang gak pernah dia harapkan. Semua kejadian dhanis lupakan begitu saja. Dhanis pun sudah tidak marah sama dennis, beda sekali dibanding saat pertama dennis mengucapkan kata putus ke dirinya. Bahkan dhanis sudah tidak mau bertemu dennis lagi.
Sampai pada suatu hari ketika dhanis dan widya yang bukan lain teman sekamarnya membeli makan di warung makan, widya melihat dennis menuju warung makan itu juga. “dan, dan, ada dennis” kata widya. “mana sih?” tanya dhanis, penasaran. Sebelum widya menjawab, dhanis sudah melihat dennis. Dennis belum melihat keberadaan dari dhanis, spontan dhanis langsung menegurnya “dennis…” Dennis melihat ke arah dhanis, dan mimik mukanya terlihat terkejut sekali dan langsung menghampirinya “hei dan” sambil berjabat tangan. “apa kabar, kamu abis makan disini?” tanya dennis. “baik, iya aku abis nemenin temen aku makan” jawab dhanis. “dan, nanti sore aku sms kamu lagi deh” ucap dennis. Dhanis benar-benar lupa nampaknya dengan kejadian sebelumnya, dhanis ingatmya bahwa dennis tetap menjadi temannya. Benar saja, sorenya dennis menghubungi dhanis kembali. Dennis mengirim pesan singkat ke dhanis dengan kata basa basi. Lagi-lagi dennis mengajak makan malam dhanis, kali ini bukan di resto melainkan di tempat makan biasa sekitar kampusnya itu. dan keesokannya berlanjut seperti biasa.
Dhanis mengikuti lomba karaoke yang diadakan fakultas teknik. Kebetulan sekali fakultas yang didatangi dhanis itu bersebelahan dengan fakultasnya dennis. Selama lomba dhanis, benar-benar berharap bahwa tidak ada dennis mengikuti lomba itu juga. Sampai pada akhir dhanis menyanyi, ia langsung ingin kembali lagi ke kampusnya. Hatinya lega, karena tidak bertemu dennis saat lomba itu. sampai dipakiran, saat dhanis sedang bercanda dengan temannya ada yang memanggilnya “dan, dan, dan” sampai tiga kali panggilan, dhanis baru sadar. Ketika dia lihat yang memanggilnya adalah dennis, dhanis langsung panik. Dan gak nyangka banget bakal ketemu dennis lagi disaat yang gak pernah terduga. Mereka bercakap cakap kecil dan dennis menjanjikan dhanis untuk menghubunginya lagi. dan itu direspon baik sama dhanis.
Setelah bertemu hari itu, obrolan mereka lebih intens di sms atau di telpon. Dhanis melihat perlakuan dennis lebih baik dari sebelumnya, dennis juga sudah jarang menceritakan hal yang berlebihan. Dhanis merasa sudah mulai merasa nyaman dengan dennis. Dennis juga lama kelamaan terbiasa dengan kesederhanaannya dhanis. Entah kenapa dhanis merasa butuh berada di dekat dennis. Dhanis sangat suka semangatnya dennis dan bagaimana dennis menyemangati dhanis untuk rajin kuliah. Sementara dennis memang butuh cewek yang mampu memahaminya lebih dan hanya dhanis untuk saat ini yang memberikan pengertian lebih pada dirinya.
Saat ulang tahun dhanis, dennis memberi kado dan meminta traktiran dari dhanis. Dhanis gak tau, harus mengajak dennis pergi kemana karena takut dennis tidak suka tempatnya. Akhirnya dhanis bilang kepada dennis untuk dia sendiri yang memutuskan tempatnya. Dennis membawa pergi dhanis ke kafe masih di sekitaran kampus. Di kafe tersebut dennis mengatakan seperti apa yang dia katakan pertama kali saat nembak dhanis. Disitu mereka saling jujur bahwa selama ini mereka saling membutuhkan satu sama lain. Dennis memegang tangan dhanis, dan kali ini dieratkannya langsung pegangan itu oleh dhanis. Di dalam kafe yang nampak sepi, dennis mencuri kesempatan untuk menatap mata dhanis dan mencium keningnya. Aliran itu terasa sangat berbeda sekali dhanis rasa. Mungkin dhanis belum bisa menjawab pertanyaan mengapa dia bisa dekat dengan tipe orang yang dulu dibencinya, tapi dhanis selalu percaya Tuhan pasti ingin menyampaikan maksudnya dibalik semua ini. Mengambil hikmah cara yang paling bijak diambil dari hubungan mereka berdua. Status sosial mereka berdua memang berbeda tapi yang dhanis tau bahwa, ketika logika bermain, realita bisa mengalahkan semuanya.
Cerpen Karangan: Neta Putri
Blog: netaputri.tumblr.com
Anita Aulia Putri tapi sejak SMP saya lebih dikenal dengan panggilan akrab neta. saat ini saya kuliah di Universitas Diponegoro.

Kamis, 03 Oktober 2013



Aku merindukanmu, sangat sangat merindukanmu. Andai waktu dapat berputar kembali kuingin mengulang masa-masa indah kita dulu. Kutahu semua itu tak mungkin, tapi aku amat merindukanmu. Bayanganmu mulai redup, wajahmupun tak nampak dalam mimpi malamku. Jika aku boleh memilih aku ingin ikut bersamamu. Tapi, aku sadar aku tak hidup sendiri aku masih mempunyai keluarga yang menyayangiku serta sahabat-sahabatku.

“Na, makan dulu sudah seharian kamu belum makan” ucap ibuku lembut sembari menghampiriku dan menyentuh bahuku. Aku tersenyum menatap wajahnya, kuangkat tubuhku dari atas ranjang. Memang seharian ini aku tak keluar kamar sama sekali.
“Bu, Ria sama beby belum datang?” aku menanyakan kedua sahabatku pada ibu, biasanya mereka datang ke rumah tiap hari.
“belum, mungkin sebentar lagi” jawabnya sambil memberikan sepiring nasi goreng padaku. Aku mengangguk paham dan tersenyum pada ibu. Kemudian Ibu berlalu dibalik pintu dapur.

Kuhabiskan nasi goreng yang dibuatkan ibu, jujur aku memang sangat lapar. Sehabis makan aku menuju ruang tengah menunggu Ria dan Beby. Aku berhenti di depan sebuah foto berukuran 10R yang dipajang lanscape di dinding ruang tengah. Aku tersenyum bahagia melihat foto itu, kutunjuk satu persatu siapa saja yang ada di dalam foto. Foto ini diambil saat kami liburan sekolah 1 tahun silam. Bima, Ria, Beby, Dino, aku dan _ Rama _ ya saat itu kami sedang berlibur di pantai. Tentunya saat itu kebahagiaanku masih utuh karena ada Rama kekasihku, kini hanya kenangan-kenangan indah yang tersisa. Aku sepenuhnya merelekan kepergiannya karena aku yakin ini memang sudah takdir sang pencipta. Rama meninggalkan kami semua karena kecelakaan maut yang merenggut dia dan keluarganya. Padahal saat itu kami akan melaksanakan ujian nasional tingkat SMA.

“Dyana…!” teriak beby dari halaman rumahku, sedangkan Ria masih memarkir sepada motornya. Akupun berjalan menuju teras rumah.
“jreng… jreng… liat?” beby menunjukan poster untuk pertunjukan Drama Musical di kampus kami. “bagus kan?” Ria meminta pujian dariku. Mereka bedua memang ditugaskan untuk bagian promosi, mulai dari poster dan undangan mereka yang mengurusnya. Sedangkan aku mendapat bagian mengurus dekorasi panggung.
Aku mengamati poster buatan mereka, beby nampak tegang menunggu komentarku. Memang kami sama-sama kuliah jurusan design tapi menurut mereka pengamatan designku lebih baik dari mereka.
“Bagus kok” ucapku. Ria dan beby tampak senang dengan ucapanku.
“makasih Dyana” ucap Ria, mereka langsung memelukku.
“hoy.. hoy.. lepasin. Gak bisa nafas!” teriakku. Mereka malah tertawa.

Aku, Ria dan Beby kuliah di kampus yang sama, sedangkan Bima dan Dino kuliah di luar Kota. Jadi kita bertiga seperti Trio Cejo (Cewek Jomblo), ya meskipun Ria dan Beby harus Long Relation dengan cowoknya, tetapi mereka berdua Setia. Aku harap hubungan sahabat-sahabatku akan selalu abadi.

Pertunjukan Drama Musical memang masih 3 hari lagi tapi kami para panitia mulai bersiap-siap mempersiapkan semuanya.
“Na, tolong kamu kamu ambilin beberapa poperty yang masih di ruang rapat” pinta Noy, dia adalah ketua panitia Pertunjukan Drama Musical.
“iya” akupun bergegas menuju ruang rapat. Ada 4 kardus besar berisi barang poperty yang harus dibawa ke panggung tapi aku tak mungkin membawanya sekaligus, ini terlalu banyak.
“gak kurang banyak nieh!” pekikku
“mau aku bantu?” tanya seorang cowok yang tiba-tiba muncul di belakangku. Ternyata Arjuna, dia menawarkan diri untuk membantuku.
“Nggak usah, aku bisa sendiri” jawabku tegas walapun ucapanku berbeda dengan keadaan yang terlihat, Arjuna langsung mengambil kardus-kardus tersebut tanpa bicara lebih lanjut dan hanya menyisakan satu kardus untukku.
“Heeeiii…” protesku
Arjuna tak menggubris ucapanku, dia malah berjalan cepat menuju panggung. Akupun hanya mengikutinya.
“aku kan sudah bilang aku bisa sendiri kok”
Arjuna hanya diam sambil menata kardus-kardus tersebut di atas panggung. Lalu Arjuna menatapku dingin. Aku terkejut dengan tatapannya, akupun terdiam.
“terima kasih kembali” ucap arjuna, kemudian pergi. Aneh.
“hoy.. terimakasih!” teriakku kemudian.

Setelah persiapan untuk Pertunjukan hampir selesai, sekarang tinggal menunggu hari H-nya, ya walapun belum selesai semuanya.
Kegiatan favoritku setelah pulang dari kampus adalah mampir ke Toko Buku dekat rumahku.
“Life is Miracels… Life is Miracels…” gumamku sambil menjelajahi rak buku.
Ini dia!
Saat aku hendak mengambil buku tersebut, ada satu tangan lagi yang secara bersamaan yang juga ingin mengambilnya. Seperti adegan dalam film-film saja. Akupun menoleh pemilik tangan tersebut.
“Arjuna” Pekikku dengan nada kecil
“seperti melihat hantu saja” komentar arjuna sambil tersenyum, tetapi dia masih tak melepaskan tangannya dari buku tersebut.
“kamu kok disini?” tanyaku bingung
“memangnya tak boleh? Inikan tempat umum”
“bukan begitu! Maksudku…”
“kenapa kok Toko buku ini, kamu gak nyadar rumah kita kan satu komplek” potong arjuna sebelum aku melanjutkan ucapanku. Akupun hanya tersenyum.
“tapi bisa gak lepasin bukunya?” pintaku
“ini?” arjuna sepertinya menimbang-nimbang ucapanku
“please” pintaku lagi. Akhirnya dia melepaskan bukunya.
“Thanks” akupun tersenyum pada arjuna dan langsung menuju ke kasir.
Ketika aku keluar dari toko buku, ternyata arjuna masih ada.
“mau aku antarin pulang?” tanyanya
“gak usah deh” tolakku halus
“Okey” dia mengangkat bahunya dan tersenyum.
Akupun berlalu meninggalkan arjuna.

Manis. Ternyata Arjuna kalau tersenyum tambah manis dan Cool. Oh my God ada apa denganku, kenapa aku terus-terusan teringat dengan Arjuna.
“Rama, kenapa akhir-akhir ini bayanganmu mulai hilang. Padahal aku tak ingin kehilangan semua tentangmu” aku menarik nafas dalam-dalam, menahan air mataku. “Apakah kamu disana masih mengingatku?” air mataku tak dapat kutahan “kenapa sosok Arjuna mulai hadir dalam fikiranku, kenapa denganku?” kutatap foto Rama, dia masih tersenyum padaku.
“Rama, bolehkah aku mencintai orang lain selain kamu?” sungguh pertanyaan yang konyol, fikiranku mulai kacau.

Sehari sebelum Pertunjukan Drama Musical, Aku Ria dan Beby hang out ke cafe.
“kamu lagi mikirin apa sih Na?” tanya Ria tiba-tiba, Beby ikutan mengamatiku
“enggak ada kok, perasaan kamu aja kali” elakku
“Na, kita udah kenal kamu lama, ada apa ngaku?” kali ini beby yang angkat bicara
Aku tak dapat mengelak dari sahabat-sahabatku, mereka sudah tau tentangku karena dari kecil kami selalu bersama.
“salah-kah aku me-nyukai orang lain?” ucapku gugup. Ria dan beby saling berpandangan, sejurus kemudian mereka Tersenyum.
“kamu lagi suka sama seseorang?” terka Beby
“Siapa Na?” timpal Ria. Aku hanya terdiam
“Na, siapa yang ngelarang kamu suka sama orang lain, gak ada. Apa kamu masih tak sanggup melepaskan Rama, aku yakin Rama pasti ngerti_ mungkin ini saatnya kamu membuka hatimu” lanjut Ria. Beby mengangguk meng-iyakan ucapan Ria.
“karena selamanya Rama akan selalu di hatimu, tak akan kemana-mana” Ria memegang bahuku. Aku mengangguk pelan.
“Tapi, kalau kamu suka sama orang lain, Kamu jangan pernah lupain Rama. Ingat Rama itu sepupu aku, kamu jangan bikin dia sedih di alam sana” Ancam beby dengan tersenyum.
“Apa-an sih Beb. Ngaco!” komentar Ria. Beby hanya Manyun.
“Iya, Aku akan selalu mencintai Rama kok” ucapku tegas
“ngomong-ngomong, emang siapa yang kamu suka?” tanya Ria. Aku berfikir ‘jawab, tidak, jawab, tidak’
Mereka berdua menunggu jawabanku.
“Cari aja sendiri” ucapku menggoda mereka
“Yeeeaaah” seru Ria dan Beby

Akhirnya Pertunjukan Drama Musical dimulai, setidaknya tugasku sebagai bagian Dekorasi panggung Kelar, tinggal para pemain dan pengisi acara yang unjuk Gigi. Awalnya aku disuruh untuk menjadi pemeran dalam drama, tapi aku langsung menolaknya karena aku tidak PD tampil di depan orang banyak.
“haiiisssh” seseorang menabrak tubuhku, sepertinya dia tergesa-gesa
“Sory” ucapnya
“Ar-juna” aku menatapnya “kamu ngapain disini? Seharusnya kamu duduk di bangu penonton” ucapku. Arjuna tak menggubris ucapanku, dia hanya tersenyum dan berlalu meninggalkanku.
“Selalu” gumamku
“Apanya yang selalu Na?” tanya Beby yang tiba-tiba merangkulku dari belakang. Aku hanya menggeleng. Kemudian kamipun menuju depan panggung.

Kenapa setiap Arjuna tersenyum aku teringat oleh Rama_ Aku mengenal Arjuna cukup lama tapi kenapa aku baru sadar kalau Arjuna mirip dengan Rama. Senyumannya, Sikapnya yang Cuek. Semua terasa Mirip.
Aku, Ria dan Beby berdiri di belakang bangku penonton untuk menyaksikan pertunjukan. Karena kami bagian dari panitia jadi tidak kebagian tempat duduk. Sampai hampir akhir acara kami masih setia berdiri walaupun kakiku sedikit kesemutan.
“Okey, sekarang sambut penampilan terakhir dari Arjuna Cs, berikan tepuk tangan!… wuuuu” ucap si Pembawa acara.
“WOOOOW” seru Ria dan Beby. Aku hanya melongo. Arjuna Cs. Sejak kapan Arjuna punya Band.
“Keren..!” teriak Beby
“Selamat Malam semuanya… lagu ini kupersembahkan untuk seseorang yang membuatku jatuh cinta saat pertama kali aku melihatnya, hari ini, besok, dan seterusnya. Dyana Sastika” ucap Arjunya, sambil menatapku dan memberikan senyuman termanisnya.
“wuuuuuu” riuh teriakan para penonton. Lagu ‘A Thousand Years’ akhirnya dinyanyikan oleh Arjuna Cs.
Akupun hanya dapat tersenyum, menatap sosok yang selalu memberikan senyuman termanisnya. Tanpa sadar aku juga seperti melihat sosok Rama di atas panggung, dia menatapku dengan Tersenyum.
“Na, dia?” tanya Ria, di antara riuhan para penonton yang sangat antusias dengan Arjuna Cs.
Aku hanya mengangguk. Lalu Ria memelukku, Beby yang melihat kami berdua berpelukan ikut-ikutan memelukku.
“Dalam rangka apa nieh kita berpelukan?” ucap Beby. Dasar Beby Lemot. Aku dan Ria hanya tertawa.

Malam semakin larut aku, Ria dan Beby hendak pulang bersama-sama. Namun semua berubah 180o saat Arjuna datang.
“Emmm, kayaknya kita gak bisa pulang bareng deh Na” ucap Ria dengan nada menyesal yang dibuat-buat.
“Lho, memang kenapa?” tanya Beby. Yang tak mengerti maksud Ria.
“udah kita pulang berdua aja, okey beb” Ria menarik Beby, Beby hendak protes tapi Ria menutup mulutnya dan menariknya dengan paksa.
Aku yang melihat ulah Ria tertawa kecil. Tak sadar kalau arjuna sudah berdiri di sampingku.
“Jadi?” ucap Arjuna
“Jadi apanya?” tanyaku pura-pura tak mengerti maksud Arjuna.
Dia malah menggaruk-garuk kepalanya.
“Aku memang tak dapat menggantikan Rama, tapi izinkan aku menemani hari-harimu” ucapan Arjuna membuatku membatu. Dia mengetahui tentangku lebih dari yang kubayangkan.
“Apa tadi Norak?” tanyanya padaku “bikin malu kamu ya?” Aku tersenyum mendengar pertanyaan Arjuna.
“Sedikit bikin malu aku sih” ucapku cuek “tapi itu cukup buat membuktikan perasaanmu”
Arjuna mengangkat alis. “So?”
Aku menghela nafas,
“thanks, aku sangat tersanjung” ucapku kemudian.
Arjuna menarik tanganku dan menggemgamnya. Aku tersenyum padanya.

Akhirnya Kebahagiaanku Utuh kembali. Aku punya Keluarga, Sahabat, Arjuna dan Rama yang akan selalu di hatiku.

Selesai (Ganbatte!!!)

Cerpen Karangan: Anitrie Madyasari
Facebook: Anitrie Ganbatte Pholephel



Aku meniti jalan ini lagi. Kali ketiga dalam satu hari ini. Aku tahu sebenarnya banyak jalan-jalan lain yang tidak pernah macet dan jelas akan sangat menghemat waktu perjalananku pulang dari kantor, tapi jalanan ini berbeda. Aku bahkan rela terkena macet 30 jam dalam sehari di jalan ini. Sangat, sangat rela. Malah aku sedang dengan sengaja terkena macet di jalan ini sekarang. Juga berputar-putar dengan sengaja. Unik sekali bukan?

Apa yang salah dengan jalan ini? Tidak ada yang salah. Hanya hatiku yang salah. Hatiku harusnya kusut pasai terkena macet panjang, dengan bis-bis pariwisata, bis dalam kota, angkutan-angkutan umum, taksi-taksi, mobil-mobil pribadi dan kendaraan bermotor yang harus berebut jalan. Merangkak perlahan-lahan. Harusnya hatiku kusut dan emosiku meluap karena ingin cepat sampai – seperti kemarin-kemarin. Tapi tidak dengan tiga hari terakhir ini. Malah aku dengan bahagia, bersiul-siul rendah sangat menikmati keadaan yang panas-pengap akibat berebut oksigen dan perjalanan yang tiga kali lipat lebih memakan waktu. Menikmati setiap detiknya.

Apa yang terjadi? Em… tidak ada. Kecuali hatiku yang macet berfungsi bersamaan dengan macetnya jalanan ini. Macet oleh perasaan aneh yang membuang semua kewajaran saat aku sedang terkena macet. Macet terhadap semua gundah, semua kesal, semua emosi. Macet karena bunga-bunga cinta dari seorang Polisi Lalu Lintas yang menanggulangi macet. Kukira jika aku tidak terkena macet, satu hari saja, bisa jadi jantungku yang macet berfungsi.

Aku tidak tahu namanya. Pokoknya polisi itu selalu berdiri di sana. Di ambang salah satu jalan Simpang Lima yang menuju Banyumanik – jalur yang paling banyak dituju untuk meninggalkan Semarang, dan mengintruksi kendaraan yang berlalu-lalang, kapan harus maju, kapan harus berhenti. Dia menggantikan fungsi lampu lalu lintas yang sementara ini sedang diperbaiki. Gadis muda sang Polantas itu tidak terlihat lelah sama sekali, senyumnya selalu merekah saat mempersilahkan pengendara maju, atau berhenti. Peluit selalu tersemat di pundaknya. Terlihat begitu anggun dan mempesona. Padahal langit sudah semakin gelap. Awan merah mulai berarak lembut di langit, disusul panggilan sholat yang bersahut-sahutan. Dalam hati aku berdo’a, terus berdo’a supaya Tuhan mengizinkan aku mengenalnya lebih dekat. Juga supaya Dia memberiku kesempatan bertatapan langsung dengannya dan menanyakan namanya. Juga mengizinkan aku menjadikannya pendamping hidupku. Memangnya aku bisa minta pada siapa lagi selain pada-Nya?

Sampai di jalur Banyumanik itu aku melirik sang Polwan, dia menghentikan laju mobilku dengan aba-aba, dan senyumannya nyaris menghentikan laju jantungku. Di dada kirinya tersemat papan nama kecil bertuliskan “Raya”. Ternyata itu namanya. Pantas saja semesta raya seolah tertawan olehnya. Ah, puitis sekali aku hari ini.

Sebenarnya aku punya beberapa kali kesempatan untuk menegur Raya. Bagaimana tidak? Aku sudah berputar tiga kali dalam sehari di Simpang Lima selama tiga hari berturut-turut. Bahkan terkadang lebih. Tapi entah kenapa, hanya melihat senyumnya saja kakiku langsung lemas, jantungku mendadak malas berdetak – hingga jadi sesak, lidahku kelu, otakku jadi lambat berfikir dan tidak mampu mengingatkan bahwa kesempatan mungkin tidak akan datang dua kali. Aku sering khawatir Raya berhenti bertugas di situ, atau khawatir lampu lalu lintasnya selesai diperbaiki. Karena jika itu terjadi, aku tidak akan lagi punya kesempatan untuk melihat Polwan-ku. Agaknya aku adalah satu-satunya pengguna jalan yang berdo’a supaya jalanan ini tetap macet. Setidaknya sampai aku bisa mengenal Raya lebih dekat. Memang do’a yang egois dan menyusahkan pengemudi lain yang melintasi jalan ini, tapi sekarang aku memang sedang ingin egois. Aku butuh jadi egois saat ini.

Sekali lagi aku berputar di Simpang Lima, kemudian kubelokkan mobilku ke masjid Baiturrahman yang megah dengan arsitektur jawa joglonya menghiasi perkotaan yang mulai ditumbuhi gedung-gedung pencakar langit, Mesjid tersebut berada di sisi jalur bundaran Simpang Lima, aku memarkirkannya di dekat menara. Selepas sholat, aku terpekur cukup lama di hadapan Tuhan. Meminta banyak hal dan terutama meminta Raya. Tuhan, hanya Engkau-lah yang bisa mengabulkan permintaanku, tolong izinkan aku mengenal sosok Raya lebih dekat, mengetahui asal-usulnya. Tuhan, jadikan Raya adalah tulang rusukku yang hilang, lalu kembalikanlah padaku secepatnya.

~ Raya ~
Harusnya aku mengundurkan diri tiga hari yang lalu. Meninggalkan jalanan macet ini dan rutinitasku di tengah-tengahnya. Ibuku sudah meminta itu sejak satu tahun yang lalu, dan aku sendiri sudah membulatkan tekad untuk melengkapi keislamanku yang baru seumur jagung dengan jilbab secepatnya. Maka saat instansiku tidak mengizinkan niatku ini, aku memutuskan untuk mengundurkan diri. Menurutku begitu lebih baik, toh aku tidak bisa terus berada di tengah jalanan seumur hidupku.

Sejatinya aku menikmati pekerjaanku. Setiap mobil yang melaju perlahan berdesakan, klakson-klakson yang beradu di langit jalanan, wajah-wajah emosi tidak sabaran, muka-muka ketus dan masam, dan kadang umpatan-umpatan sopir kendaraan. Seperti casting pertunjukan drama dimana semua orang diminta untuk memerankan tokoh antagonis. Kadang aku berfikir bahwa mereka seolah berebut menjadi yang terbaik dalam adegan klimaks sebuah sandiwara. Pasti sebelum terkena macet mereka tertawa, tersenyum, bahagia, dan sudah membayangkan wajah-wajah yang menanti mereka di tempat tujuan. Atau mungkin sudah mengilustrasi hidangan yang dipersiapkan seseorang di rumahnya sana. Maka aku berada di sini, di tengah jalanan ini, kadang tidak lagi karena tuntutan profesi, namun lebih karena panggilan hati untuk membantu orang-orang yang kesulitan melintas akibat macet itu agar segera sampai ke tempat yang menjadi tujuan mereka masing-masing.

Namun aku agak heran. Ada sesuatu yang menahan pengundur-dirianku, sesuatu itu agak berbeda. Dan membuat aku masih ingin bekerja di bawah terik matahari jalanan. Rasa penasaran pada satu sosok unik yang baru kali ini aku temui dari sekian banyak pengguna jalan yang selalu berganti-ganti sepanjang profesiku. Satu dari ribuan wajah-wajah yang masam, ketus, emosi, dan malah mengumpat, ada wajah yang tampak begitu tenang mengemudikan mobilnya, begitu santai dan menikmati kemacetan ini. Sejak tiga hari yang lalu aku merasa ada sepasang mata yang memperhatikan aku. Dan bukannya aku tidak tahu, sepasang mata milik pemuda tampan bermobil hitam dengan plat nomor H 679 AR itu terus melewati jalan ini tiga kali dalam sehari. Dengan wajah yang damai dan pandangan matanya yang tajam, seolah mengawasiku dengan lembut, hanya memandang saja dari jauh. Aku selalu berusaha mengacuhkan, tapi tatapan itu selalu terarah kemari. Kalau dipikir, gadis mana yang tidak tertawan oleh tatapan penuh makna seorang pemuda tampan seperti itu? Di antara puluhan pasang mata lain yang dalam sehari penuh menghujam, menyalahkan dan seakan meminta pertanggungjawaban atas jalanan yang selalu macet. Satu-satunya pengendara mobil yang tersenyum balik saat aku mengaba-abakan dia berhenti, atau maju.

“Raya, mau sholat dulu? Saya sudah. Saya bisa menggantikan kamu,” seorang rekanku menegur. Aku segera tersadar dari lamunan panjang. “Ah, iya. Terima kasih,” sahutku seraya tersenyum dan mempersilahkan rekanku itu menggantikan. Aku berjalan menuju masjid Baiturrahman yang letaknya paling dekat dengan posisiku saat ini.

Mobil hitam H 679 AR terparkir manis di samping menara masjid. Mungkin pemiliknya sedang menunaikan ibadah di tempat yang kutuju. Jika mengingat pemuda dengan sepasang mata teduh dan pandangan tajam itu, aku seperti menemukan sesuatu. Ada sesuatu dengan pemuda ini, yang tidak bisa aku definisikan apa, tidak mampu aku pahami kenapa. Namun setiap melihat wajahnya, aku merasa akan dekat dengannya, seperti sinyal yang mengidentifikasi bahwa akan ada ikatan dengannya. Hmf, aku tersenyum sendiri. Lucu dengan pikiran anehku. Kenal dengannya saja tidak, malah aku juga tidak tahu namanya. Tapi agaknya perasaan ini kuat sekali.

Selepas sholat, aku memohon ampun pada Tuhan, lalu meminta banyak hal dalam do’a panjangku pada-Nya. Dan hatiku tidak bisa kucegah, aku juga meminta pemuda itu pada-Nya, memangnya aku bisa minta pada siapa lagi jika bukan pada-Nya?. Ya Rabb.. Jika memang pemuda unik itu akan menjadi seseorang yang berarti di kehidupanku nantinya, maka mudahkanlah jalan kami, Ya Rabb.. perkenalkan aku padanya, dan dekatkanlah kami dengan cara-Mu.

Di depan masjid.
Tidak biasanya Adjie berlama-lama duduk di depan masjid. Meskipun dia memang sering berjama’ah maghrib di masjid Baiturrahman itu sejak terkena macet satu bulan yang lalu, dia biasanya langsung buru-buru pulang. Tidak terpikir sedikitpun untuk menyapa dan berbincang sebentar dengan sesama jama’ah. Tapi hari ini berbeda. Adjie bahkan sempat duduk lama dan mengobrol dengan seorang pemuda yang sepertinya seorang pegawai salah satu perusahaan sekitar Simpang Lima, terlihat jelas dari penampilannya.

Pemuda tersebut pamit, dan meninggalkan Adjie yang masih enggan beranjak dari tempat duduknya. Dan yang tidak pernah Adjie sangka, sang bidadari yang sudah tiga hari membuatnya rela berlama-lama dalam macet, dan menyengajakan diri terkena macet di jalur pantura itu duduk di sampingnya, tidak sampai satu meter, dan tanpa terhalang orang lain. Bidadarinya dengan wajah yang segar akibat air wudlu tampak semakin ayu terkena tampias sinar lampu. Dia sedang mengenakan sepatunya.

Adjie berhitung dengan waktu, satu, dua, tiga.. dia mulai gugup. Raya tampak tidak sadar ada seseorang yang kelimpungan di sampingnya, berdebar, senang, khawatir dan entah apalagi. Seseorang yang sedang ragu-ragu hendak menyapa. Tapi Adjie juga sadar, terlepas dari kesempatan ini, mungkin kesempatan lain tidak akan pernah datang lagi. Kapan lagi dia bisa duduk sedekat ini dengan sang pujaan hati? Kapan lagi dia bisa bertemu Raya? Siapa yang bisa menjamin kalau lampu lalu lintas akan tetap diperbaiki esok hari? Siapa yang bisa menjamin bahwa besok Raya masih bertugas di jalan yang sama? Di simpang Lima? Bagaimana jika tiba-tiba Raya pindah tugas ke kota lain? Dalam hati Adjie mulai panik. Lantas berkata pada dirinya sendiri, menyalahkan kesempatan yang datang tapi juga mensyukurinya bersamaan. “Kenapa harus secepat ini? Ini juga terlalu dekat, aku belum punya persiapan sekarang.. tapi jika tidak sekarang, kapan lagi?”

Raya mengenakan sebelah sepatunya yang lain. Sedang Adjie masih belum memiliki persiapan yang cukup. Dia masih menghitung waktu, masih mencoba mencari kata-kata yang cocok untuk digunakan sebagai sapaan. Sejujurnya dia tidak pernah segugup ini sebelumnya, padahal hanya untuk mengatakan ‘hai’ atau sapaan lain, padahal biasanya dia mampu bicara lugas dan tegas dengan lantang di hadapan umum. Mempresentasikan proyek yang dikerjakannya dengan sempurna. Tapi urusan cinta… ternyata lain ceritanya.

Raya hampir selesai mengenakan kedua sepatunya. Hanya tinggal beberapa menit kesempatan yang tersisa. Padahal lidah Adjie masih kelu. Tapi dia harus bertindak atau tidak ada kesempatan lain sama sekali.
“Assalamu ‘alaikum, Bu Polwan?” sapa Adjie. Akhirnya keberanian untuk menyapa dia dapatkan juga, mungkin karena biasanya dia tidak acuh dan tidak pernah peduli dan menyapa seorang gadis maka untuk memulai sebuah percakapan bahkan lebih sulit daripada mengerjakan rumus matematika manapun. Enggan dan memang tidak berani.
“Alaikumussalam..” jawab Raya. “Saya tidak asing dengan wajah anda, sepertinya anda langganan macet di daerah saya ya, Pak?” lanjut Raya membuka obrolan. Adjie tertawa malu saat tahu bahwa Raya ternyata menyadari tindakannya tiga hari terakhir ini. Di luar dugaan Raya, ternyata kesempatan itu datang. Kesempatan yang tidak disangka Raya akan bisa dia dapatkan begitu cepat, hanya berselang belasan menit yang lalu dia meminta pada-Nya. Benarkah sekarang sudah terkabul? Apa ini cara-Nya memperkenalkan mereka?
“Saya Adjie, Bu Raya,” kata Adjie memperkenalkan diri. Dia menangkupkan kedua tangannya di depan dada.
“Wah.. kok anda sudah tahu nama saya?” Raya terkejut. Namun kemudian Adjie menunjuk papan nama yang tersemat di seragam gadis itu. Raya tertawa menyadarinya.
“Saya suka lupa saya sudah mempublikasikan nama di seragam saya.” Lanjut Raya. Masih diselingi tawa.
“Berapa lama tinggal di Semarang?”
Adjie mengerutkan kening. Seolah berfikir, “seingat saya sejak kecil, usia 10 tahun kayanya..” Raya manggut-manggut mengerti. “Sudah hafal Semarang dong ya..” gadis cantik itu berkomentar. Adjie mengangguk mantap mengiyakan. Dia memang orang Semarang asli, hanya saja ayahnya sempat dipindah tugaskan ke Blora dan dia baru kembali ke kota Atlas ini pada usia 10 tahun.
“Ngomong-ngomong, kenapa anda kayanya bolak-balik terus ya di Simpang Lima?” Raya tersenyum jail, sedangkan Adjie sudah tertawa malu dengan wajah yang mulai memerah. Tertangkap sudah.
“Saya suka lupa jalan,” jawab Adjie sekenanya.
“Ahahaha… bohong. Masa anda sudah jadi orang Semarang sejak usia 10 tahun tidak hafal jalan Simpang Lima?”
“Saya bukan tidak hafal, hanya suka lupa…” Adjie berkelit, beralasan.
Dan percakapan merekapun berlanjut dengan renyah, seolah kedua sahabat lama yang baru saja bertemu kembali setelah sekian tahun tak ada kabarnya. Percakapan itupun menjadi permulaan bagi kisah yang terukir hingga ujung usia mereka berdua.

Ada yang pernah mengatakan pada saya, bahwa do’a yang dipanjatkan untuk orang yang tidak tahu bahwa dia didoakan, akan terkabul. Saya pikir, mungkin karena do’a yang dipanjatkan keduanya adalah sama maka dua do’a itu saling tarik-menarik di langit dan kemudian terkabul dengan cepatnya. Soal bagaimana kelanjutan kisah mereka berdua, mari kita biarkan Tuhan yang menyelesaikan dengan cara-Nya.

SEKIAN

Cerpen Karangan: Aya Emsa



Aku sedang berjalan di antara kerumunan siswa-siswa lain yang ingin mengetahui bahwa mereka lulus atau tidak. Tahun ini aku sudah akan lulus dari sekolah menengah pertama. Dan saat ini adalah saat-saat menegangkan, dimana aku akan melihat hasil ujian di papan pengumuman. “Hey dev, gue lulus! Lo?”. Aku menengok ke belakang melihat temannya itu dan kemudian kembali mengamati papan pengumuman yang ada di depanku. – Devi Winata : LULUS -. “Tha.. gue juga lulus”. “wah slamat ya”. “iya tha sama-sama”. Sambil memeluk thalita yaitu sahabatku dari kecil, kemudian aku menangis dan berkata “papa dipindah tugas ke SulTeng”. Thalita menatapku “maksudnya lo bakal lanjutin SMA disana”. “ya kurang lebih kaya gitu”. “Kapan berangkat? Take care ya non”. “rencananya besok, iya calling-calling ya tha”. “iya sip”.

Aku sangat senang punya orangtua seperti papa dan mama. Papa punya pekerjaan yang penghasilannya di atas rata-rata dan mama adalah ibu rumah tangga. Papa dan mama masih sangat muda, bayangkan saja di saat aku berumur 14 tahun sekarang ini, mama dan papa masih sama-sama berumur 29 tahun. Aneh kan? Ya iya lah.. karena aku adalah anak angkat mereka. Mereka mengadopsiku saat mereka baru selesai menikah pada umur 22 tahun dan saat itu aku baru berumur 7 tahun. Mereka begitu menyayangiku seperti anak kandung mereka dan begitu juga denganku.

Sudah tujuh tahun menikah, mama tak juga hamil. Aku pernah tanya namun mama hanya menangis dan berkata “itulah sebabnya papa begitu mencintaimu dan mama begitu melindungimu”. Sedangkan orangtua kandungku meninggal saat aku berumur 5 tahun. Selama itu aku tinggal di rumah tante Desi, adik kandung mama dan juga rekan mama dan papaku sekarang. Awalnya aku sangat tidak setuju, namun aku memang sudah akrab dengan mereka berdua sebelum menjadi mama papaku, jadi mudah saja membujukku.

Tapi sebuah sisi negatif dari pekerjaan papa adalah papa selalu dipindah tugaskan kesana kemari. Dengar-dengar kabar, katanya SulTeng sangat jauh berbeda dengan Jakarta. Tapi aku tak mau ambil pusing, tinggal lihat saja nantinya.
“clara.. cepetan dong! Papa udah nungguin nih, entar kamu telat loh”. Aku bergegas memasukan peralatan MOSku dalam tas. “iya ma, bilangin papa entar lagi”. Aku buru-buru turun dan mama sedang membereskan sarapan. Untung disini tak pernah macet seperti jakarta, jadi tak perlu panik kalau telat. “mama… clara berangkat ya, makannya di sekolahan aja.. buru-buru nih”. “clara.. nih makan di mobil aja”. Mama memberikanku sebuah roti isi. Aku didaftarkan di sebuah sekolah unggulan di Palu (baru ku tau kalau Sulteng tempat ku berada adalah Palu). “Entar jangan bandel di sekolah, mama yang bakalan jemput entar”. Papa mengacak-acak rambutku yang kubuat agak aneh kali ini, karena aturan MOS yang mengharuskanku mengikat rambut sesuai umur.

“ingat pesan papa”. Papa mencium keningku, “jangan bandel kan pa? Sip bos” ku acungkan jempolku di sebelah pipiku. Aku menatap sekolah baruku, sekolahnya lumayan. Saatnya mulai beradaptasi dengan lingkungan yang baru. Sungguh susah beradaptasi dengan teman-temanku disini, karena dari cara bicara saja aku sangat bingung mendengarnya.

Tiga hari menjani masa orientasi, akhirnya aku bisa bebas dari kakak kelas dan bisa menemukan teman baru. Saat Mos berlangsung, aku sering dikerjai kakak kelas karena bahasaku yang masih “lo gue end”. Apalagi kakak kelas yang bernama Gio, dia selalu membuatku marah. Dan kak gio tidak sendiri mengerjaiku, dia selalu bersama kak Puput dan kak Randy. Sungguh hari-hari yang menyebalkan.

“Hey ra, kemana kau?”. “Mau ke perpus nin”. “ikut ya”. Nina adalah temanku saat pertama kali kelas kami dibagikan. Aku berjalan bersamanya menuju perpustakaan. “eh lo gue end lewat” kukenali suara itu adalah suara kak gio, dan rupanya dia tak henti-hentinya mengejekku. Aku tak memperdulikannya dan dia mengikutiku ke perpustakaan. Saat aku sedang membaca novel di lantai perpustakaan, dia duduk di sebelahku dan menanyakan nomor teleponku. Ternyata selama ini dia mengerjaiku karena tertarik padaku, huh dasar.

Saat jalan-jalan dengan papa di Mall aku bertemu beberapa teman sekelasku dan beberapa juga kakak kelas. Mereka sesekali melirik ke arah papa ketika sedang makan di KFC. Mungkin karena melihat papa yang memang sangat tampan. Sehingga saat bertemu dengan mereka di sekolah keesokan harinya, banyak yang bertanya-tanya siapa cowok yang jalan denganku kemarin dan pada saat aku bilang dia adalah papaku, mereka gak percaya padaku. Dan satu pertanyaan yang membuatku merasa geli sendiri “clara.. kau sudah punya pacar? Kenapa kau tak bilang-bilang? Sakit hati saya”. Heh? Ngapain coba kak gio pake ngomong sakit hati segala, memang kita pernah jadian. Setelah kujelaskan dia sempat tak percaya, namun aku mencoba menjelaskan dan menunjukan foto-foto yang ada di handphoneku barulah dia percaya.

“Clara.. ada yang nyariin kamu tuh”. “siapa sih pa?”. Sambil berjalan menuju ruang tamu aku mencari-ccari sosok papa yang memanggilku. “Eh kamu, ngapain?”. “aku kan pengen kenalan sama papa mama kamu!”. “ihh.. kamu udah bisa ngikutin bahasa aku ya? Belajar dari mana tuh?”. “gak tau ya ra, aku kan emang dari jakarta juga, cuman mama emang orang sini.. tapi tiap liburan ke jakarta juga kok sama orangtua papa”. “oh gitu.. syukur deh! Biar aku tak susah bicaranya”. Tiba-tiba papa datang membawakan minuman dan cemilan, “non.. makanannya nih”. “ih.. papa bikin malu aja, sana-sana-sana”. “aduh putri papa malu-malu”. “papa…”. papa pergi meninggalkanku yang merona karena malu bersama kak gio. “mamanya kemana?”. “oh mama ya.. mama lagi ke dokter tadi katanya, biasa ibu-ibu”. “trus kenapa papanya gak nganterin?”. “kan lagi jagain aku..”. kataku polos, tak sadar kak gio melihatku terheran-heran. “udah besar gini masih dijagain?”. “emang siapa yang mau dijagain? Mama sama papa tuh yang gak bisa jauh-jauh dari aku”. Kemudian papa menjawab dari ruang keluarga “papa denger nih”. “papa nguping nih”. Aku berteriak pada papa. “Lucu banget ya kamu sama keluargamu, seru”. Kami berbincang-bincang sampai mama pulang, dan kak gio kaget melihat mama yang masih muda dan cantik.

“sayang.. yang tadi siang itu pacar kamu ya?”. “mama apaan sih? Emang gak boleh ada temen cowok yang datang selain pacar aku ya?”. “ya enggak.. kayanya dekat gitu, anaknya juga keliatan baik. Bener gak pa?”. papa yang sedang sibuk dengan daging kepiting yang ada di depannya kemudian melirik mama yang sedang main mata pada papa “iya.. kelihatannya bertanggung jawab”. “gak penting ahhh”. Mama dan papa tertawa bersama-sama melihat anaknya yang salting kemudian menjulurkan lidah mereka bersama-sama pula, ihh kayak anak SD aja bikin ilfil. Dasar mama sama papa emang gila.

Sejak kedatangan kak gio di rumahku waktu itu, aku semakin dekat dengannya dan orangtuaku juga tak melarang jika dia yang mengajakku keluar. Tapi aku menyukai kakak kelasku yang bernama edo, sejak MOS aku memang selalu meliriknya. Aku menganggap kak gio hanya seperti kakakku, karena kelihatannya mama dan papa juga menyukainya. Aku memang menyayangi kak gio namun aku mencintai kak edo.

Aku berhenti di depan loker kak edo, entah apa yang kupikirkan. Aku terdiam disitu cukup lama, sampai seseorang datang padaku “menghayal?”. “ehh.. iya.. eh gak kok cuman lagi ngehafal rumus fisika”. “oh..” kemudian dia meninggalkanku yang terpana saat itu. Mulai saat itu aku berpikir aku bisa dekat dengannya.

“Gio.. tungguin”. Kak gio yang baru saja naik di atas motornya yang besar itu melihatku dan menaruh kembali helmnya. “kenapa lo gue end?”. “anterin pulang ya, mama lagi sibuk katanya”. “boleh-boleh aja, asalkan ini dulu”. Dia menunjuk pipinya, menyuruhku untuk mencium pipinya. “gak mau ahh.. tungguin papa jemput aja kalo gitu”. Aku menelepon papa, dan katanya tunggu sebentar aja. Aku duduk di parkiran saat itu, kak gio menghampiriku dan menempelkan minuman dingin yang dia bawa di pipiku. “minum nih”. aku mengambil minuman itu dan segera kuminum karena memang dari tadi aku sudah haus berat. “gak pulang?”. “dikit lagi deh, nungguin kamu pulang”. Dasar sok kenal sok dekat, tapi emang gitu sih hehehe. Aku terpaku sesaat melihat kak edo lewat dengan motor yang sama besarnya dengan milik kak gio. Biiiip… dia mengklakson pada kami. “kamu denger gak? Dia nglakson aku, berarti dia kenal dong sama aku”. “dasar ge-er, dia temen sekelas aku”. “ya… kenalin dong”. “kamu suka sama dia ya?”. “iya.. naksir berat malah, udah dari pertama masuk sini kali aku naksirnya”. “aku coba ya”. Aku melihat ada sedikit kekecewaan yang terlukis di wajahnya, aku sedih melihat itu. Namun aku kan hanya mencoba jujur padanya. Setelah perbincangan itu kami hanya terus diam sampai papa tiba di sekolah.

Kak gio menepati janjinya padaku, dia benar-benar mengenalkanku pada kak edo. Kak edo baik plus pinter. Dia juga pernah datang ke rumah sekali dan papa mama juga menyukainya, tapi kata mereka kak gio yang lebih baik. Aku berkencan dengan kak edo, dia menembakku tapi aku minta sedikit waktu berpikir. Setelah itu aku langsung menelepon kak gio, aku meminta pendapatnya. Dan aku mendapat jawaban seperti ini “aku juga mencintaimu, tapi aku rela asalkan kau bahagia bersamanya, tut.. tut..tut..” telepon diputuskan. Mendengar pernyataan dari jawabannya itu, aku sangat yakin bahwa dia benar-benar mencintaiku dan aku yakin dia tak rela karena dia masih menggunakan kata “ASALKAN”. Jika dia memang rela, apapun yang terjadi padaku entah bahagia atau menderita dia tak akan peduli lagi. Namun dari kata-katanya dia menuntut agar aku bahagia.

Aku pusing dan tak bisa tidur. Aku pergi ke kamar mama dan papa. “papa.. mama.. papa.. mama…”. “iya sayang, masuk”. Aku langsung terjun ke springbed mereka dan aku mengambil posisi di tengah mama dan papa. Papa sedang sibuk dengan laptopnya, sedangkan mama sedang membaca majalah “clara mau cerita nih!”. “iya sayang, kenapa?”. Mama dan papa meninggalkan aktivitas masing-masing dan mulai mendengarkan ceritaku. Mama dan papa bilang kalau aku harus mendengarkan kata hatiku, daripada nantinya aku menyesal. Dan malam ini aku mendengar sebuah kabar yang menyedihkan. Papa dan mama akhirnya menceritakan semua rahasia yang telah lama terpendam. Aku memang benar-benar anak papa, mama kandungku hamil dengan papaku yang sekarang, saat itu papa beerumur 17 tahun dan mama memang sedang kuliah. Sedangkan mamaku yang sekarang memang tak bisa hamil karena ada kista di dalam rahimnya. Itulah arti dibalik kata “PAPA MENCINTAIKU DAN MAMA MENJAGAKU”. Papa mencintaiku karena aku benar-benar adalah anaknya dan mama selalu menjagaku karena mama tak akan pernah bisa merasakan menjaga seorang anak dari kandungannya sendiri. Dan satu lagi kabar yang berbeda, satu minggu lagi kami akan pindah lagi di Balikpapan.

Aku memutuskan untuk belum menerima kak edo. Karena aku ingin memperbaiki hubungan dan meminta penjelasan dari kak gio. Tapi apa daya dia tak lagi menghiraukanku seperti kemarin-kemarin. Bahkan kedua sahabatnya juga tak mau menegurku. Aku merasa kehilangan dihari-hari terakhirku di Palu. Papa dan mama heran melihat sikapku yang aneh akhir-akhir ini di rumah. Dan akhirnya satu hari lagi aku akan pindah, aku merengek pada mama dan papa untuk menelepon kak gio. Dan akhirnya kudengar kabar bahwa kak gio sudah berangkat ke jakarta tadi siang, katanya akan sekolah disana. Aku meneleponnya dan menangis, aku hanya meminta penjelasan dibalik kata “ASALKAN” yang waktu itu dia ucapkan. Dan akhirnya dia bilang “Jaga dirimu baik-baik”.

Setelah dua tahun lamanya kami tinggal di balikpapan, mama meninggal disana. Papa begitu terpukul begitu pula denganku. Terkadang saat papa merindukan mama, papa selalu menangis dan memelukku. Aku dan papa akhirnya pulang ke jakarta. Sekarang aku sudah mau masuk kuliah. Aku memilih UI jurusan kedokteran, karena aku ingin menyembuhkan orang yang punya penyakit seperti mama. Saat pertama masuk kuliah, inilah yang aku tak suka yaitu OSPEK. Aku malas dan malu. Nama-nama kami juga begitu aneh dan aku diberi nama lo gue end, nama yang mengingatkanku akan seseorang yang tanpa kusadari aku mencintainya dalam waktu yang lama.

Pagi ini, seperti biasanya aku diantarkan papa untuk mengikuti OSPEK. Enaknya saat OSPEK tahun ini, senior-senior perempuan menaruh perhatian lebih padaku karena aku punya papa yang keren dan tampan. Tapi tidak begitu dengan senior laki-laki, mereka begitu menyiksaku.

“Lo gue end ikut gue”. Jantungku seperti berhenti berdetak saat namaku dipanggil, bukan karena namanya melainkan karena suara yang memanggilku. Aku begitu mengenal suara itu, ternyata dia kuliah disini satu jurusan denganku. Aku mengikutinya, ternyata tempat itu hanya ada aku, dia dan beberapa orang numpang lewat. Dia hanya duduk dan diam, sedangkan aku hanya menunduk. Aku takut dia akan menyakitiku, mengingat aku sudah menyakitinya dulu. “Lo jahat!”. Aku menatap matanya, dia tertawa sinis. “maksudnya?”. “udah lama gue gak liat lo, lo gak berubah setitikpun di mata gue”. “trus kenapa gue jahat?”. “waktu lo telfon gue terakhir kali, gue sempat pulang kesana besoknya, eh.. ternyata lo udah ninggalin gue. Lo jahat tau”. “maafin gue gio”. Lama dia terdiam di hadapanku, dia seperti sedang mempertimbangkan permintaan maafku. “gini aja, karena sekarang gue senior lo.. gue mau nyuruh lo nyari 50 tanda tangan senior untuk gue maafin lo, stuju?”. Aku yang selalu nekat, menerima tantangan tersebut.

Kucari 50 tanda tangan tersebut, tapi sudah jam 04.30 sore aku baru mengumpulkan 40 tanda tangan. Tinggal 10.. semangat!, batinku. Aku melihat papa sudah datang menjemput, papa sedang berbincang dengan kak gio. Dan seperti yang kulihat mereka menertawakanku. Kini sudah jam 05.00 dan sudah 49 tanda tangan. Berarti tinggal satu tanda tangan, tapi siapa ya?. Aku meminta daftar senior, ada 50 orang memang pada jurusanku. Kubaca satu persatu, ternyata tinggal tanda tangan gio yang belum kuminta. Aku segera mencarinya “nih tinggal tanda tangan lo tau! Eh papa mana?”. “tinggal gue ya? Papa lo udah pulang tadi, katanya entar gue yang anterin lo”. “tanda tangan deh cepetan”. “tinta gue abis”. “duh penannya gue tinggal dimana ya”. Saat sedang sibuk mencari, kak gio memelukku dari belakang. “gue maafin lo, lain kali hargai perasaan gue ya, sayang tau!”. Ku balas pelukannya “mau tanya boleh? Arti kata asalkan yang dulu apaan ya?”. “tandanya gue care sama lo”. “oh.. mau nanya lagi boleh?”. “boleh.. apaan emangnya?”. “meluk-meluk aku gini udah minta izin papa belum?”. “hahahaha.. harus ya? Gue telfon skarang deh”. Aku mencubit pinggangnya “eh jangan cari gara-gara sama papa ya, entar langsung dinikahin baru tau rasa”. “Nikah juga ga apa-apa kok”. Aku tertawa bersamanya saat itu, lucu juga cerita cintaku yang plin-plan.

Cerpen Karangan: Sherly Yulvickhe Sompa
Facebook: Sherly Yulvickhe Sompa